BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Pada bab ini peneliti membagi penjelasan mengenai definisi homoseksual khususnya gay, karakteristik atau ciri-ciri gay, definisi interaksi dan faktor-faktor pembentuk interaksi, definisi dan prinsip komunikasi, definisi dan Komunikasi Antar Pribadi,definisi Komunikasi Verbal dan Non Verbal.
2.1 Definisi homoseksual dan gay
Homoseksualitas mengacu pada interaksi seksual dan/atau romantis antara pribadi yang berjenis kelamin sama misalnya lelaki dan lelaki secara situasional atau berkelanjutan. Pada penggunaan mutakhir, kata sifat homoseks digunakan untuk hubungan intim dan/atau hubungan sexual di antara orang-orang berjenis kelamin yang sama. Istilah gay adalah suatu istilah tertentu yang digunakan untuk merujuk kepada pria homoseks.
Apabila dilihat dari segi hormonal jika bayi laki-laki tidak menerima hormon laki-laki yang cukup pada masa-masa awal pertumbuhannya,salah satu dari kemungkinan yang akan terjadi. Pertama, kemungkinan akan lahir bayi laki-laki dengan struktur otak yang lebih feminine daripada maskulin, dengan kata lain bayi laki-laki ini akan besar kemungkinannya menjadi seorang gay ketika memasuki usia pubertas. Kedua, akan lahir bayi laki-laki yang memiliki fungsi otak perempuan dan memiliki alat kelamin pria. Bayi seperti ini, ketika dewasa akan menjadi seorang trans-gender (waria). (Allan and Barbara Pease, 2004 : 212)
Dasawarsa 1970-an merupakan titik awal persentuhan Indonesia dengan istilah gay dan / atau lesbi. Ketika itu majalah asing mulai masuk ke Indonesia . Beberapa di antaranya diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.
2.2 Karakteristik atau ciri gay
Kaum gay memiliki ciri-ciri yang membantu mereka untuk mengenali dan dikenali dengan sesama gay dan di dalam masyarakat. Ciri-ciri tersebut terkadang sengaja dibentuk oleh mereka, tapi ada juga yang dilakukan secara tidak sengaja atau pembawaan secara naluri. Berikut adalah karakteristik atau cirri-ciri yang dimiliki kaum gay;
Gay lebih menyukai mengenakan pakaian ketat, karena dapat memperlihatkan lekuk tubuh si pemakai. Bagi gay, lekukan tubuh merupakan daya jual tersendiri. Gay lebih senang memakai warna mencolok. Dalam berkomunikasi gaya bicaranya pun lebih feminim dan perhiasan yang dikenakannya pun cenderung “ramai”. Bahkan itu merupakan alat komunikasi sesama gay. Ciri lainnya adalah selalu tertarik pada aktivitas yang biasanya dilakukan wanita.
Ada juga yang mengatakan bahwa, ciri-ciri lelaki gay adalah sebagai berikut:
1. Berpenampilan rapi
2. Tidak banyak bicara (kecenderungan pendiam)
3. Selalu memakai pengharum tubuh dengan Bebauan yang Agak Norak
4. Berbicara seadanya, dan cenderung lembut.
5. Tidak suka bergaul dengan banyak orang
6. Bertindak kehati-hatian dalam segala hal pekerjaan yang sedang dia kerjakan.
7. Pakaian yang digunakan biasanya agak berbeda dari yang lain, sehingga cenderung menarik perhatian banyak orang.
Setiap gay tidak memiliki perbedaan dari tatapan mereka. Dapat dikatakan, mereka cenderung pendiam atau cenderung cerewet. Gaya hidup mereka terkadang terlalu normal atau terlalu tidak wajar. Mereka bisa mendapat tekanan batin dan bisa pula mereka terlalu terbiasa dengan kondisi mereka sebagai gay. Biasanya kaum gay cenderung temperamental.
2.3 Interaksi Sosial
Interaksi sosial adalah hubungan timbal balik antara individu dengan individu, individu dengan kelompok dan antara kelompok dengan kelompok. Interaksi sosial merupakan proses komunikasi diantara orang-orang untuk saling mempengaruhi perasaan, pikiran dan tindakan. Interaksi sosial akan berlangsung apabila seorang individu melakukan tindakan dan dari tindakan tersebut menimbulkan reaksi individu yang lain
Sebuah interaksi memberikan pengaruh pada individu yang terlibat di dalamnya. Dalam interaksi sosial terbentuk tindakan berdasarkan norma dan nilai sosial yang berlaku dalam masyarakat.
Terdapat beberapa faktor yang mendasari proses terbentuknya interaksisosial,antaralain:
1. Imitasi merupakan proses sosial atau tindakan seseorang untuk meniru orang lain, mulai sikap penampilan, gaya hidupnya, bahkan apa-apa yang dimilikinya. Semua berawal dari lingkungan keluarga dan seiring berjalannya proses pergaulan hingga mencapai ranah masyarakat.
2. Indentifikasi mengarah pada upaya yang dilakukan oleh seorang individu untuk mejadi sama (identik) dengan merubah tidak hanya pola perilaku saja melainkan hingga kejiwaan.
3. Sugesti adalah rangsangan, pengaruh, stimulus yang diberikan sesorang individu kepada individu lain sehingga orang yang diberi sugesti menuruti
atau melaksanakan tanpa berpikir kritis dan rasional. Sugesti akan menjadi positif apabila orang yang member sugesti juga memiliki niat yang baik.
4. Motivasi yaitu rangsangan pengaruh, stimulus yang diberikan seorang individu kepada individu lain, sehingga orang yang diberi motivasi menuruti tau melaksanakan apa yang dimotivasikan secara kritis, rasional dan penuh rasa tanggung jawab . Motivasi biasanya diberikan oleh orang yang memiliki status yang lebih tinggi dan berwibawa, misalnya dari seorang ayah kepada anak, seorang guru kepada siswa.
5. Simpati adalah proses kejiwaan saat seseorang tertarik pada sesorang yang lain atau pada kelompok tertentug karena sikapnya, penampilan, wibawa atau perbuatan yang mendukung.
6. Empati yaitu mirip dengan simpati, akan tetapi tidak semata-mata perasaan kejiwaan saja. Empati dibarengi dengan perasaan organisme tubuh yang sangat intens/dalam.
2.4 Komunikasi
Kata komunikasi atau communications dalam bahasa Inggris berasal dari kata Latin Communis yang berarti “sama”, communico, communication, atau communicare yang berarti “membuat sama” (to make common). Istilah pertama (communis) adalah istilah yang paling sering disebut sebagai asal-usul kata komunkasi. Komunikasi menyarankan bahwa suatu pikiran, suatu makna, atau suatu pesan dianut secara sama. Komunikasi juga di definisikan secara luas sebagai “berbagi pengalaman”. (Dedy Mulyana, 2005: 41-42 )
Menurut Harold D.Lasswell, sebagaimana yang dikutid oleh Sendjaja (1999:7) cara yang baik untuk menggambarkan komunikasi adalah dengan menjawab pertanyaan berikut : Who Says what In which Channel To Whom With What Effect? (Siapa mengatakan apa dengan saluran apa kepada siapa dengan efek bagaimana?).(Wiryanto, 2004: 6)
Shannon dan Weaver (1949) juga mengemukakan bahwa komunikasi adalah bentuk interaksi manusia yang saling mempengaruhi satu sama lain, sengaja atau tidak disengaja dan tidak terbatas pada bentuk komunikasi verbal, tetapi juga dalam hal ekspresi muka, lukisan, seni dan teknologi.
Komponen Komponen Komunikasi
Setidaknya ada 7 komponen pembentuk komunikasi yang saling terkait dan berhubungan dengan yang lain, yaitu:
1.Source: Sumber pesan, seseorang atau sekelompok orang yang berinisiatif mengirimkan pesan. Sumber harus melakukan encoding (proses mengubah ide, gagasan, atau perasaan, kedalam seperangkat simbol dan tanda) untuk menyampaikan pesannya.
2.Message: pesan, atau apa yang dikomunikasikan oleh source kepada penerima dalam bentuk berupa simbol-simbol dan tanda.
3.Media : saluran/sarana yang digunakan sumber untuk menyampaikan pesannya. Dapat berupa media fisik, seperti suara, cahaya, sistem syaraf, dsb, maupun cara penyajian pesannya.
4.Receiver: orang yang menerima pesan dari sumber. Receiver malakukan decoding, kebalikan dari encoding. Yaitu proses menafsirkan seperangkat tanda yang ia terima menjadi gagasan yang dapat dipahaminya.
5. Effect: apa yang terjadi pada penerima setelah ia menerima pesan, berupa perubahan persepsi, perilaku, dsb.
6.Feedback: reaksi, atau tanggapan dari pihak receiver sebagai petunjuk efektif tidaknya pesan yang disampaikan sebelumnya. Umpan balik tidak harus disengaja. Misalnya kejang-kejang dan histeris setelah mendengar berita duka, dll.
7.Noise: faktor-faktor berupa rangsangan tambahan yang mengganggu penyampaian pesan atau mengurangi akurasi pesan. Sebuah kursi yang tidak nyaman selama kuliah dapat menjadi suber noise, kita tidak dapat menerima pesan hanya melalui mata dan telinga kita. Pikiran-pikiran yang lebih menarik daripada kata-kata dosen juga merupakan gangguan (John Fiske, 2005 :16)
Berdasarkan definisi dari komunikasi yang telah diutarakan para ahli patut diketahui pula prinsip-prinsip yang terdapat dalam komunikasi. Prinsip-prinsip komunikasi tersebut antara lain :
Prinsip 1 : Komunikasi adalah suatu proses simbolik
Lambang atau symbol adalah sesuatu yang digunakan untuk menunjuk sesuatu lainnya, berdasarkan kesepakatan sekelompok orang (Dedy Mulyana, 2005:84). Lambang bersifat sebarang, manasuka, atau sewenang-wenang (Dedy Mulyana, 2005:85). Lambang memiliki sifat yaitu fleksibel, dengan kata lain setiap lambang tidak mempunyai makna yang permanen tergantung dari persepsi dan pemikiran dari orang yang menerimanya. Sifat ini dapat dapat dijabarkan melalui contoh berikut. Suatu hari seorang dosen mengatakan “tutup pintunya dari depan” kepada seorang mahasiswanya yang telambat. Kalimat ini menimbulkan persepsi yang berbeda-beda diantara para mahasiswa. Sehingga dapat ditarik kesimpulan bahwa lambing pada dasarnya tidak mempunyai makana: kitalah yang memberi makna pada lambang (Dedy Mulyana, 2005:88).
Elemen lain yang termasuk tanda namun tidak memerlukan kesepakatan bersama dalam pengertiannya yaitu indeks. Karena dalam memaknainya ikon indeks mucul berdasarkan hubungan sebab dan akibat (biasanya secara alamiah). Istilah lain dari indeks adalah sinyal (signal) atau juga gejala (symptom). Misalnya adalah bunyi sirene yang merupakan indeks dari mobil ambulan.
Prinsip 2 : Setiap perilaku memiliki potensi komunikasi
Kita tidak dapat tidak berkomunikasi (we cannot not communicate). Tidak berarti bahwa semua perilaku adalah komunikasi. (Dedy Mulyana, 2005:98). Hal ini berarti bahwa komunikasi itu mulai terjadi apabila seseorang memberi makna atau mengartikan perilaku orang lain maupun memaknai perilakunya sendiri.
Prinsip 3 : Komunikasi punya dimensi isi dan dimensi hubungan
Dimensi isi disandi secara verbal, sementara dimensi hubungan disandi secara nonverbal. Dimensi isi menunjukkan muatan (isi) komunikasi, yaitu apa yang dikatakan. Sedangkan dimensi hubungan menunjukkan bagaimana cara mengatakannya yang juga mengisyaratkan bagaimana hubungan para peserta komunikasi itu, dan bagaimana seharusnya pesan itu ditafsirkan. (Dedy Mulyana, 2005:99).
Prinsip 4 : Komunikasi berlangsung dalam berbagai tingkat kesengajaan
Komunikasi berlangsung dalam berbagai tingkat kesenjangan, hal ini berarti komunikasi dapat berlangsung dengan sengaja atau direncanakan misalnya ketika kita menyampaikan sebuah ceramah maupun komunikasi dapat berlangsung dengan tidak disengaja misalnya ketika kita sedang merenung dan orang lain memperhatikan serta memaknai apa yang kita lakukan.
Kesengajaan bukanlah syarat untuk terjadinya komunikasi, dan dalam berkomunikasi biasanya kesadaran kita lebih tinggi dalam situasi khusus alih-alih dalam situasi rutin (Dedy Mulyana, 2005:101).
Prinsip 5 : Komunikasi terrjadi dalam konteks ruang dan waktu
Komunikasi dalam kehidupan sehari-hari bergantung pada fisik atau ruang dimana kegiatan tersebut berlangsung. Jadi kita harus pandai menempatkan diri dimana kita melakukan kegiatan komunikasi. Waktu juga mempengaruhi makna terhadap suatu pesan (Dedy Mulyana, 2005:104).
Prinsip 6 : Komunikasi melibatkan prediksi peserta komunikasi
Komunikasi terikat pada aturan terrtentu atau tata karma yang berarti orang-orang memilih strategi tertentu berdasarkan bagaimana orang yang menerima pesan akan merespon. (Dedy Mulyana, 2005:105). Prediksi ini seringkali berlangsung cepat dan tanpa disadari dan dapat diramalkan. Misalnya apabila kita mengalami sakit gigi dan kita pergi kedokter gigi kita memprediksi pasti yang diperiksa adalah gigi kita bukan anggota tubuh kita yang lain.
Prinsip 7 : Komunikasi itu bersifat sistematik
Komunikasi memiliki beberapa unsur sehingga menjadikannya sebagai suatu system. Terdapat dua system dasar yang melandasi transaksi komunikasi yaitu system internal dan system eksternal. Sistem internal adalah seluruh system nilai yang dibawa oleh seorang individu ketika ia berpartisipasi dalam komunikasi. System internal mengandung unsure kepribadian, agama, intelegensi, pendidikan, bahasa, motif, keinginan, cita-cita, dan pengalaman masa lalunya. (Dedy Mulyana, 2005:106). Sedangkan system eksternal yaitu semua unsure yang berada diluar individu termasuk lingkungan.
Prinsip 8 : Semakin mirip latar belakang sosial budaya semakin efektiflah komunikasi
Komunikasi yang efektif adalah komunikasi yang hasilnya sesuai dengan harapan para pesertanya (orang-orang yang sedang berkomunikasi) (Dedy Mulyana, 2005:107).
Prinsip 9 : Konunikasi bersifat nonsekuensial
Komunikasi dapat berlangsung secara linier (satu arah) maupun sirkuler dua arah. Pada dasarnya setiap proses komunikasi bersifat dua arah karena orang-orang yang kita anggap sebagai komunikan pada saat yang sama mereka juga menjadi komunikator atau penyampai pesan meskipun ditunjukkan melalui perilaku nonverbal. Beberapa pakar komunikasi mengakui sifat sirkuler atau dua arah komunikasi ini walaupun, sifat sirkuler dapat digunakan untuk menandai proses komunikasi, unsure-unsur komunikasi sebenarnya tidak berpola secara kaku. Oleh karena itu sifat nonsekuensial alih-alih sirkuler tampaknya lebih tepat digunakan untuk menandai proses komunikasi. (Dedy Mulyana, 2005:109).
Prinsip 10 : Komunikasi bersifat prosesual, dinamis, dan transaksional
Komunikasi tidak mempunyai awal dan tidak mempunyai akhir, melainkan merupakan proses yang sinambung (continuous) (Dedy Mulyana, 2005:109). Karena hal yang paling penting dalam proses komunikasi adalah antara komunikator dan komunikan mampu merumuskan atau menafsirkan pesan yang diterima dengan baik serta dalam proses ini terjadi saling mempengaruhi antara peserta komunikasi.
Implikasi dari komunikasi sebagai proses yang dinamis dan transaksional adalah bahwa para peserta komunikasi berubah (dari sekadar berubah dalam pengetahuan hingga berubah pandangan dunia dan perilakunya) baik berubah dengan sedikit demi sedikt maupun berrubah secara tiba-tiba (Dedy Mulyana, 2005:111).
Prinsip 11 : Komunikasi bersifat irreversible
Sifat irreversible ini adalah implikasi dari komunikas sebagai proses yang selalu berubah. Prinsip ini seharusnya menyadarkan kita bahwa kita harus berhati-hati untuk menyampaikan suatu pesan kepada orang lain. (Dedy Mulyana, 2005:112).
Prinsip 12 : Komunikasi bukan paasea untuk menyelesaikan berbagai masalah
Banyak konflik yang disebabkan oleh masalah komunikasi. Namun komunikasi bukanlah panasea (obat mujarab) untuk mentelesaikan persoalan atau konflik itu (Dedy Mulyana, 2005:115).
2.5 Komunikasi Antar Pribadi
Definisi berdasar komponen
Menjelaskan KAP dengan mengamati komponen – komponen utamanya dalam hal ini penyampaian pesan oleh satu orang dan penerimaan pesan oleh orang lain atau sekelompok kecil orang, dengan berbagai dampaknya dan peluang untuk member umpan balik segera.
Definisi berdasar hubungan dyadic (relational
)
Menjelaskan komunikasi antarpribadi sebagai komunikasi yang berlangsung di antara dua orang yang mempunyai hubungan yang mantab dan jelas. Adakalanya definisi hubungan ini diperluas sehingga mencangkup juga sekelompok kecil orang, seperti anggota keluarga atau kelompok – kelompok yang terdiri dari tiga atau empat orang. (Joseph A. Devito, 1997 : 231)
Keberhasilan komunikasi diadik adalah dalam prosesnya si komunikator harus berupaya menyamakan field of reference dan frame of reference dari komunikan, di samping itu kedua pihak harus mempunyai empati. Kedekatan hubungan pihak-pihak yang berkomunikasi terlihat dari jenis-jenis pesan atau respon non-verbal mereka, seperti sentuhan, tatapan mata yang ekspresif, dan jarak fisik yang sangat dekat.
Definisi berdasarkan pengembangan
Dalam ancangan pengembangan (developmental), KAP dilihat sebagai akhir pengembangan dari Komunikasi yang berrsifat tak pribadi (impersonal) pada suatu ekstrim menjadi komunikasi pribadi atau intim pada ekstrim yang lain. Perkembangan ini mengisyaratkan atau mendefinisikan pengembangan KAP. (Joseph A. Devito, 1997 : 231)
KAP merupakan komunikasi paling efektif untuk mengubah sikap, pendapat atau perilaku seseorang. menurut Kumar (2000: 121-122), lima ciri efektifitas KAP sebagai berikut : (1) keterbukaan (openess) ; (2) empati (empathy) ; (3) dukungan (supportiveness) ; (4) rasa positif (positiveness) ; (5) kesetaraan (equality).
Dalam bukunya, Devito mengidentifikasi lima faktor yang mempengaruhi daya tarik antarpribadi, yaitu :
1. Daya Tarik Fisik dan Kepribadian
Membentuk Citra
2. Kedekatan (Proksiminitas)
3. Pengukuhan
Bersifat sosial (pengakuan orang lain terhadap diri kita)
Menghargai Orang Lain
4. Kesamaan
Berpikir dan bertindak mirip
Hipotesis Kecocokan
5. Sikap Saling Melengkapi (Complementarity)
2.6. Bahasa Verbal
Bahasa adalah sebuah institusi sosial yang dirancang, dimodifikasi, dan dikembangkan (beberapa puris, orang yang sangat memperhatikan tata bahasa yang baik dan benar, bahkan mengistilahkannya sebagai distorsi untuk memenuhi kebutuhan kultur dan subkultur yang terus menerus berubah. (Joseph A. Devito, 2008 : 157)
Menurut Larry L. Barker (dalam Deddy Mulyana,2005), bahasa mempunyai tiga fungsi: penamaan (naming atau labeling), interaksi, dan transmisi informasi.
1. Penamaan atau penjulukan merujuk pada usaha mengidentifikasikan objek, tindakan, atau orang dengan menyebut namanya sehingga dapat dirujuk dalam komunikasi.
2. Fungsi interaksi menekankan berbagi gagasan dan emosi, yang dapat mengundang simpati dan pengertian atau kemarahan dan kebingungan.
Melalui bahasa, informasi dapat disampaikan kepada orang lain, inilah yang disebut fungsi transmisi dari bahasa. Keistimewaan bahasa sebagai fungsi transmisi informasi yang lintas-waktu, dengan menghubungkan masa lalu, masa kini, dan masa depan, memungkinkan kesinambungan budaya dan tradisi kita.
Subkultur merupakan bagian – bagian dari sebuah kultur yang dapat dibedakan berdasar wilayah geografis, agama, pekerjaan, orientasi, suku bangsa, kebutuhan dan sebagainya. Dalam subkultur, muncullah subbahasa yang membantu mempermudah dalam komunikasi. Selain itu subbahasa memiliki beberapa fungsi yang lain, antaralain sarana identifikasi dan menjaga kerahasiaan (privasi) komunikasi. Salah satu fungsi yang tidak begitu baik dari subbahasa – yang dimanfaatkan oleh banyak profesional – adalah membuat orang luar terkesan dan kadang – kadang bingung (Joseph A. Devito , 2008 : 160)
Bahasa Gaul
Sejumlah kata atau istilah menjadi memiliki arti khusus pada saat digunakan oleh orang – orang dari sub kultur tertentu. Bahasa subkultur yang seperti ini disebut sebagai bahasa khusus (special language), bahasa gaul atau argot. Kata – kata tidak lazim itu merujuk pada bahasa rahasia yang digunakan pada kelompok menyimpang (deviant group), seperti kelompok preman, kaum homoseksual (lesbian maupun gay), kaum pelacur, dan sebagainya.
Terdapat fungsi tertentu bagi kelompok pengguna bahasa khusus ini. Pertama, sebagai kontrabudaya dan sarana pertahanan diri, terutama bagi kelompok yang hidup di lingkungan yang memusuhi mereka. Kedua, argot berfungsi sebagai sarana kebencian kelompok tersebut terhadap budaya dominan, tanpa diketahui kelompok dominan dan dihukum oleh mereka. Ketiga, argot berfungsi sebagai sarana memelihara identitas dan solidaritas kelompok. Argot memungkinkan mereka mengenal orang dalam dan membedakan mereka dengan orang luar. ** (Deddy Mulyana, 2005: 280)
2.7. Komunikasi Nonverbal
Komunikasi nonverbal menyangkut pesan yang dikomunikasikan oleh gerakan tubuh, gerakan mata, ekspresi wajah, sosok tubuh, penggunaan jarak (ruang), kecepatan dan volume bicara, bahkan keheningan.
Dalam buku Joseph A.Devito tentang Komunikasi Antar Manusia, komunikasi nonverbal memiliki enam fungsi utama (Eknam, 1956 ; Knapp, 1978), antaralain :
-Untuk menekankan beberapa bagian dari pesan verbal
-Untuk melengkapi (complement) pada saat seseorang sedang mengkomunikasikan suatu pesan verbal secara umum.
-Untuk menunjukkan kontradiksi pada saat seseorang dengan sengaja mempertentangkan pesan verbal dengan gerakan non verbal.
-Untuk mengatur arus pesan verbal. Contohnya mengerutkan kening, mencondongkan badan ke depan, atau menggerakkan tangan.
-Untuk mengulangi atau merumuskan –ulang makna dari pesan verbal.
-Untuk menggantikan pesan verbal yang ingin disampaikan. Misalanya kata- kata “aku tahu” dengan menjentikkan jari.
Jenis Komunikasi Nonverbal
Bahasa Tubuh
Kinesika adalah bagian yang mempelajari bahasa tubuh dan istilah ini diciptakan oleh salah satu ahli bahasa nonverbal, Ray L. Birdwhistell.
Bahasa tubuh ini dibagi lagi menjadi beberapa bagian yaitu isyarat tangan, gerakan kepala, postur tubuh dan posisi kaki, ekspresi wajah dan tatapan mata.
Sentuhan
Studi yang mempelajari tentang sentuh menyentuh adalah haptika (haptics). Menurut Heslin terdapat lima kategori sentuhan yang merupakan suatu rentang dari yang sangat impersonal hingga yang sangat personal. Kategori-kategori tersebut adalah sebagi berikut
• Fungsional-profesional. Disini sentuhan bersifat “dingin” dan berorientasi bisnis, misalnya pelayan toko membantu pelanggan yang memilh produk di tokonya
• Sosial – sopan . Bertujuan membangun dan memperteguh harapan. Misalnya berjabat tangan.
• Persahabatan – kehangatan
• Cinta – keintiman. Merujuk pada keterikatan emosional atau ketertarikan.
• Rangsangan seksual. Kategori ini berkaitan erat dengan kategori sebelumnya, hanya saja motifnya bersifat seksual. Rangsangan seksual tidak otomatis bermakna cinta atau keintiman. (Deddy Mulyana, 2005 : 337)
Parabahasa atau vokalia (vocalics)
Menuju ke arah aspek – aspek suara selain ucapan yang dipahami, misalnya kecepatan saat berbicara.
Penampilan Fisik
Jenis ini berpengaruh pada persepsi tiap orang dan memiliki beberapa aspek seperti busana (model, kualitas bahan, warna), ornament yang dikenakan (kalung, gelang, cincin, sepatu) serta karakteristik fisik (kumis atau bentuk kaki).
Bau-bauan
Wangi-wangian juga digunakan dalam penyampaian pesan. Begitu pula dengan bau yang kurang enak dapat menyampaikan suatu pesan khusus.
Orientasi Ruang dan Jarak Pribadi
Dikategorikan lagi pada ruang pribadi dengan ruang publik seseorang serta posisi duduk dan pengaturan ruang.
Konsep Waktu
Kronemika adalah studi dan interpretasi atas waktu sebagai pesan, yaitu bagaimana seseorang berhubungan dengan ketepatan waktu atau tidak dan akan mempengaruhi penilaian orang lain.
Warna
Seseorang sering menggunakan warna untuk menunjukkan suasana emosional, cita rasa, afiliasi politik, dan bahkan keyakinan agama.
Artefak
Artefak adalah segala macam benda yang dihasilkan dari kecerdasan manusia (Deddy Mulyana , 2005 : 380)