TEORI NARATIF
TEORI NARATIF
Gretchen Barbatsis (Universitas Michigan)
Banyak orang mendefinisikan naratif sebagai suatu gaya bercerita. Naratif juga berasal dari kata narasi yaitu suatu cerita tentang peristiwa atau kejadian dengan adanya paragraf narasi yang disusun dengan merangkaikan peristiwa-peristiwa yang berurutan atau secara kronologis. Tujuannya, pembaca diharapkan seolah-olah mengalami sendiri peristiwa yang diceritakan.Cara yang dilakukan menggunakan kata- kata, juga dengan memperlihatkan maksud cerita melalui tarian, gambar, maupun musik. Serta juga dapat dibuat melalui TV / Film atau secara langsung dipertunjukkan lewat panggung (stage).
Pertanyaan yang kemudian muncul adalah bagaimana hal tersebut dengan mudah disebut cerita? Meskipun media cerita itu disampaikan juga beragam,seperti badut yang biasa menghibur dengan menggunakan cerita, lewat buku anak-anak, balet, novel, cerpen, orchestra, berita TV, sitcom, Koran dan film, komik dan foto – foto documenter. Pencarian terhadap jawaban itu dapat mulai digali melalui rahasia yang ada di karakteristik saat narasi itu dibuat.
Cerita memiliki awal, tengah cerita dan akhir cerita. Hal ini seperti dalam penelitian Aristoteles dalam Poetcs (Fergusson, 1961). Terdapat rangkaian elemen- elemen dari macam – macam keterangan sebab musabab untuk meningkatkan intensitas maksud dari kritik yang diberikan serta perubahan yang terjadi karenanya.
Northrup Frye mengatakan “a way of structuring thought” yaitu saat kita mempertemukan cerita – cerita yang ada kemudian kita mengalami dunia yang dibentuk melalui keterangan – keterangan yang muncul dari fakta – fakta yang ada.
Seperti yang diungkapkan Walter Fisher bahwa cerita adalah rangkaian makna. Dengan naratif rangkaian cerita dapat bermakna karena juga bisa dihubungkan perubahan yang terjadi dalam personal naratif (pencerita dan yang mendapat cerita). Cerita – cerita dan personal dalam naratif, keduanya berada dalam pengalaman itu sendiri. Apakah peristiwa itu dikarang sendiri oleh hidup kita atau orang lain yang membantunya. Sampai kita sering dan familiar dengan kalimat “Suatu waktu”.
Naratif memang masih sering diidentikan dengan kekuatan kata – kata. Memang benar, akan tetapi saat ini pikiran seseorang juga bisa terstruktur melalui gambar. Jadi naratif juga bisa dilakukan lewat cerita bergambar. Dari situlah tinggal bagaimana kita membawakan cerita tersebut.
Jangkauan dari teori Naratif sendiri mencangkup macam – macam cabang ilmu pengetahuan dan akhirnya terangkum dalam Teori Komunikasi. Hal ini juga meliputi bagaimana pemahaman kita dalam menciptakan sebuah cerita dari pola – pola cerita yang belum tergabung. Penggunaan naratif ini sendiri bertujuan untuk memahami tingkah laku manusia. Pendekatan yang dilakukan yaitu melalui tiga kepentingan. Walter Fisher menyebut yang pertama adalah Narative Logic yang menggabungkan kesamaan naratif dan logika visual. Northrup Frye mencoba fokus pada bagaimana cerita berbicara melalui konten / isi, bagaimana mengatakannya yaitu dilihat dari bentuknya, serta memasukkan teori pemahaman perbedaan antara aturan pembuatan makna antara maksud dari cerita bergambar dengan gambar itu sendiri. Dengan menggunakan kritikan sebagai alat untuk meletakkan dan menjelaskan gambar visual sintaksis dan struktur komposisionalnya dalam hubungan yang renggang.
Seymour Chatman’s mengatakan bahwa yang harus dilihat dalam teori naratif dalam pidato/ sebuah wacana adalah hubungan antara narrator dan naratee(reader) dan bagaimana bentuk pengekspresiannya. Dan hal ini dikembangkan ke lingkup yang lebih luas, yaitu dalam program TV, film, fotografi,dan website serta bagaimana bentuk kebudayaan ikut menyumbang dalam pembentukan makna itu sendiri.
MAKIN SENSE OF OUR WORLD : A NARRATIVE LOGIC
Walter Fisher mengatakan mendongeng adalah kebiasaan yang mendunia saat ini, karena tiap orang selalu menceritakan apa yang mereka lihat dan ingin katakan. Kadang cerita tersebut adalah fiksi dan dari situ kita bisa melihat kreatifitas daya imajinasi seseorang. Selain itu cerita tidak hanya berasal dari kata – kata, tapi juga visual, dari music hingga gesture seseorang, meskipun kata – kata tidak terucap.
Beberapa peneliti atau ahli, Victor Turner –antropologist mengatakan kita mengakui naratif adalah budaya yang sudah mendunia dan menjadi pusat drama sosial. Gregory Batteson juga berkata berpikir tentang naratif adalah mengatakan semua yang ada di pikiran. Alasdair MacIntyre juga mengklaim bahwa kita bisa memahami hidup kita dari naratif.Hayden White juga mengatakan ketidakhadiran dan penolakan terhadap naratif sama saja menolak pemahaman makna diri kita.
Perbedaan media penyampai cerita juga menjadi penyebab adanya perbedaan proses pemahaman konten cerita. Misalnya di sekolah – sekolah lebih banyak menggunakan teks daripada gambar (visual). Bentuk percakapan lebih banyak digunakan daripada media yang lain seperti televisi, film dan seperti yang baru – baru ini muncul, hypermedia.
Muncul perbedaan dalam penyampaian cerita melalui percakapan langsung dan tekstual. Yaitu adanya awal, pertengahan dan akhir cerita. Dalam percakapan seringkali kita bercerita langsung pada pertengahan, dan ini berbeda dengan cerita dalam sebuah teks atau buku yang mencakup awal, pertengahan, dan akhir cerita. Cronon mengungkapkan bahwa naratif dapat menyatukan yang terjadi di masa lalu dan yang alami terjadi menjadi jelas. Ada sebuah ungkapan “ Good story make a good sense of the world”. Mendongeng atau bercerita mampu memunculkan argument tentang kealamian realita. Adanya hipotesa yang muncul dari pendengar yang menjadikan hal tersebut adalah kekuatan pembentukan makna.
Walter Fisher mengungkapkan narrative logic merupakan langkah untuk membentuk pola pikir dimana pembuatan rasa dapat terjadi di dalamnya. Di sisi lain naratif juga peduli dengan hubungan internal, apakah cerita tersebut saling berkesinambungan atau malah muncul sebuah kontradiksi.
MAKING SENSE OF OUR WORLD VISUALLY : NARRATIVE AND PICTORIAL “LOGIC”
Fisher berpendapat bahwa “narrative adalah sebagai paradigma untuk studi komunikasi secara umum” yang tidak didorong oleh ketertarikan pada komunikasi visual. Fisher menggambarkan cara pemikiran narrative yaitu “secara serempak / simultan dengan ketertarikan akan pada indera / perasaan yang beragam, pada suatu alasan dan emosi, pada kecerdasan dan imaginasi, serta pada fakta dan nilai. Mitchel Stephens (1998) menggambarkan dengan kemiripan “sebuah cara melihat yang kompleks yang dimanfaatkan dalam gaya editing dari MTV disamping sebagai pekerjaan cubists, surrealist, abstract, impressionist, dan pop art. Dia menggambarkan sebuah pengalaman, merupakan tabrakan logika yang dipotong-potong menjadi bagian kecil oleh dunia ke dalam sebuah fragmen, lapisan-lapisan kata-kata dan grafis-grafis, dan menyusun fragmen tersebut dalam pola-pola baru yang penting dan bermakna. Herbert Zettl (1999) menggunakan istilah “complexity editing” untuk menggambarkan cara visual discourse ini.
Ann Marrie Barry (1997) mengemukakan pendapat mengenai pengertian dari intelegensi visual (visual intelligence) sebagai sebuah cara logika yang menyeluruh. Satfford melengkapi dengan menkonseptualisasikan “sebuah intelegensi dari penglihatan / pandangan”, atau “presentasi mosaic, “dengan karakterisasinya sebagai logika untuk mengkonfigurasikan dan mengangkut gagasan-gagasan”. (1996, p. 4) Turkel dan Papert (1993) menggambarkan sebuah pola dengan potongan-potongan (bits and pieces) dan kepingan-kepingan, sebuah cara dalam berpikir melalui "feeling one's way from one... to another," building up, sculpting a whole. Mereka menggunakan istilah “bricolage” untuk menggambarkan logika dari gaya kognitif ini yang ditandai dengan negosiasi dan penyusunan kembali. Pengertian dari bekerja dengan bits and pieces juga sejajar dengan “fashion a hypotheses” Sandra Moriarty mendiskusikannya kedalam “abductive reasoning” sebagai penjelasan dari proses informasi visual. Dengan kemiripan pada gestalt, dia menggambarkan “formasi dari an abductive hypothesis merupakan sebuah tindakan dalam wawasan, dimana gagasan datang seperti kilat” (1996, p. 181).
Itulah kemiripan lain antara Narrative Logic dan a Visual Logic secara teoritis membangun pengertian dari Pictorial Narrative.
MAKING NARRATIVE SENSE OF THE WORLD : NARRATIVE STRUCTURE
Pendekatan awal mengenai bentuk Narrative dijelaskan oleh Aristotle, yang berfokus pada plot sebagai prisip pertama sebuah cerita. Dia mengkarateristikkan sebagai sebuah keseluruhan susuna dari hubungan sebab-akibat yang terdiri dari permulaan / awal, bagian tengah, dan bagian akhir. Kita sering mengatakan keseluruhan ini sebagai lengkungan dramatic atau struktur kausal dibuat untuk situasi awal yang meliputi momen pengenalan atau penjelasan, diikuti oleh sekuen kasi yang meningkat, menuju poin puncak titik komplikasi. Puncaknya ditandai dengan “point of no return” pada sekuen yang kausal, membentuk dan mengawali sebuah akhir.
Pada alur yang mirip, pendekatan dramaturgical menghargai “sequence of meaning / pemaknaan dari sebuah sekuen” ini sebagai sebuah tahapan proses, Kerneth Burke (1970) mengkarakteristikkan atas pencemaran/pollution, rasa bersalah/ guilt, pemurnian/purification, dan penebusan/ redemption. Cerita diawali dengan aksi perusakan sebuah aturan atau nilai dari sistem atau pencemaran / pollution. Proses dramatic dilanjutkan dengan aksi dengan membuktikan rasa bersalah / gulit dengan menyerahkan pada seseorang atau sesuatu hal yang dinilai bertanggung jawab atas perusakan nilai dan aturan tersebut. Tahap pemurnian / purification yaitu dengan mencari pertanggungjawaban untuk mebebaskan masalah dan penyebabnya, dan di akhir tahap penebusan/ redemption sebuah resolusi terjadi dan sistem tersebut kembali lagi seperti sedia kala. Karena bentuk narrative berpusat pada “point of no return” pengembalian sistem dalam hal ini akan menjadi norma atau nilai yang berbeda sebelum sistem nilai ini dirusak.
Tentu saja sebuah cerita memerlukan lebih dari sekuen dari kejadian-kejadian atau plot. Walaupun kita mengantisipasi sebuah struktur mendorong dan mencapai puncak dari peristiwa-peristiwa, untuk aksi-aksi ini terjadi harus terdapat beberapa agen yang sama baikknya dengan pola singkat dari ritme narrative (Miller 1990). Dalam puisi dia menyebutkan setiap cerita harus mempunyai enam bagian Plot, Character, Diction, Thought, Spectacle and Song. Walaupun elemen-elemen dari plot, character, dan gagasan merupakan sebuah “objects / obyek-oyek” dari sebuah cerita, elemen diction and song menjadi bahasa ke dalam "rhythm, harmony, and song enter," merupakan bagian “medium / tengah” dari tipologi Aristotle (Fergusson, 1961, pp. 61-62).
Pengertian dari plot ini sebagai bentuk komposisional yang dapat dilepaskan dari isi / content dan terkstur dari sebuah cerita menuntun para teoritis untuk menyelidiki tentang “deep structure / kedalaman struktur” dari bentu narrative. Frye membuat perbedaan antara dekriptif dan struktur lirelal yang membantu untuk membuat teori dalam istilah dari pictorial sintax, dan Chatman menyediakan pendekatan untuk struktur discourse yang membantu membuat teori pictorial narrative sintax. Strukturalis membuat membuat perbedaan secara teoritis antara sebuah cerita / story (historie) dan discourse (discors) dari sebuah narrative dengan argument narrative discourse atau form atau bentuk itu sendiri merupakan sebuah struktur semiotic yang secara mandiri dan bermakna / penting. Walaupun sebuah cerita / story menurut Chatman merupakan konten dari rantai sebuah peristiwa-peristiwa (actions and happening) ditambah existents / keberadaan yang terdiri dari ( characters, items of setting) dari sebuah narrative. Discourse adalah sebuah expression / ekspresi ang merupakan isis / content dari apa yang dikomunikasikan.
Perbedaan antara dari apa yang merupakan cerita / story (content) dan apa yang merupakan discourse (expression) dari sebuah narrative menyediakan pembuka secara teoritis untuk memahami perbedaan antara the meaning-making roles of an image's pictorial content dan its pictorial form or syntax.
VISUAL NARRATIVE: DESCRIPTIVE AND LITERAL STRUCTURE
Literal struktur dari sebuah cerita / story, di sisi lain, bukan sesuatu yang dapat kita gambarkan atau lihat karena hal tersebut adalah syntax. Tentu saja narrative tidak ada kecuali merupakan sebuah struktur yang diintegrasikan dari dua hal yaitu cerita yang kita lihat atau cerita yang kita baca. Kita menemukan ketertarikan kita bergerak dalam dua arah dalam satu kesatuan (Frye, 1957, p. 73). Struktur deskriptif mengarahkan perhatian kita berangkat dari kita tetap dalam keadaan sedang membaca, dari kata-kata individual menuju pada sebuah pemaknaan apa yang mereka maksudkan, dan dalam waktu yang sama struktur literal mengarahkan perhatian kita sebagai kita mencoba untuk membangun perasaan / sisi masuk akal dari kata-kata berdasarkan pola verbal yang lebih besar yang mereka buat” (Frye, 1957, p. 73).
Ketika kita memberlakukan cara ini dalam pemikiran narrative secara visual, kita dapat melihat bagaimana bias bahasa memmpengaruhi konsepsi kita terhadap sebuah gambar dan bagaimana kita berpikir tentang visual storytelling.
Pada contoh studi film dan televisi, pelajar sering berfokus pada konten secara visual atau struktur deskriptif dari sebuah gambar, dengan sedikit pertimbangan pada pengertian dari pictorial sintax. Faktanya, karena bentuk narrative menghubungkan bentuk gambar dan kata-kata, pertimbangan dari struktur syntactical hampir secara otomatis jatuh pada naskah verbal. Fyre mengingatkan kita, meniru peristiwa-peristiwa di dunia nyata yang sesungguhnya, tidak hanya dengan merekam saja. Walaupun dengan mempertunjukkan konten dari gambar sebuah film dapat mengarahkan perhatian kita, secara bentuk komposisional dari konten ini mengarahkan perhatian kita ke dalam hubungan pembuatan rasa / sifat masuk akal yang dikonfigurasikan melalui angle, perspektif, field of view, dan the like / kesukaan.
VISUAL NARRATIVE: DISCURSIVE STRUCTURE
Chatman (1978) menyukai perspektif komunikasi dalam membuat teori meaning-making properties dari sebuah narrative. Dia memulai dari pengertian mengenai storytelling, walaupun sifat dari hubungan perspektif komunikasi yang kompleks, meskipun ketika menceritakan dan mendengarkan ditempatkan secara tatap muka. Dengan hubungan antara teller-listener dalam sebuah pemikiran, Chatman mengajukan kerangka diskursif “personages” sebagai cara untuk mengatakan tentang sifat abstrak dari narrative syntax.
Narrating “Eye” : Menunjukkan –er (narator) untuk menggambarkan –ee (naratee)
Dalam gambar, kehadiran narasi ini ditemukan dalam cara gambar dan urutan gambar yang disusun oleh khayalan -er untuk menunjukkan khayalan -ee. Dengan kata lain, sebuah "mata" meninggalkan jejak dalam sebuahi gambar tentang ruang dan waktu (menunjukkan-er) dan dalam pemaknaan gambar ini (menunjukkan-ee). Hubungan ini merupakan inti wacana karena jejak inilah yang membentuk dasar tanda-makna hubungan representasi visual.
Sebuah narasi adalah tertulis, maka dengan demikian berarti membuat unsur-unsur organisasi spasial sebagai bidang pandang (skala), tingkat pandang (angle), kedalaman pandang (perspektif), dan kontras pandang (cahaya dan bayangan) serta elemen temporal gerak (gerakan dalam bingkai satu dengan yang lain). Sebagai contoh kita lihat Gambar. 21,4, misalnya, mari kita mempertimbangkan bagaimana kehadiran –er yang tersirat dalam layar 7 dan 13. Karena benda-benda di layar ini berada dalam jarak sentuh, komposisi ruang menunjukkan hubungan spasial dari "kedekatan." Selanjutnya, karena jarak sentuh memberikan pengalaman perseptual sebagai pribadi hubungan spasial di gambar tersebut berpotensi dimaksudkan menjadi "dilihat" sebagai "kedalaman" atau keintiman. Selain itu, meskipun, hubungan spasial sudut juga bermain dalam sintaks. Selain itu hubungan spasial berhubungan dekat denagn "normalness" (mata melihat tingkat-normal). Dengan kata lain, seorang menceritakan mata menunjukkan kedekatan dan normalness dengan implikasi bahwa itu dilihat sebagai alami.
Pada dasarnya, narrating eye diartikan sebagai cara ruang dan waktu yang terorganisir. Selain itu, meskipun narrating eye harus melakukan pekerjaan pengorganisasian dari beberapa posisi ruang dan waktu. Narrating eye melaporkan apa yang ditunjukkan, dilihat sebagai obyektif.
Sudut Pandang Gambar : Menunjukkan Imager dan viewer
Dalam bercerita, sebuah cerita juga harus diberitahu dari sudut pandang tertentu. Meskipun
hubungan spasial yang diselenggarakan oleh penangkapan mata sebagai dunia cerita yang bergambar, yang hubungan spasialnya diatur oleh sebuah titik pandang bergambar yang menciptakan posisi untuk melihatnya. Hubungan spasial ini mungkin terdiri dari posisi "mengamati", misalnya, dengan implikasi bahwa pemandangan telah terlihat sebagai dunia gambar. Atau mereka mungkin terdiri dari posisi "melibatkan" atau "partisipatif”, menyiratkan bahwa melihat dilihat sebagai "melihat ke dalam" atau "berada dalam" suatu foto dunia (Zettl, 1999, hal 186-188). Hubungan-hubungan spasial menuliskan posisi tekstual tersirat sebuah imager dan viewer dalam suatu syntaks yang diskursif dari sebuah narasi bergambar.
Ada tiga variasi dari sebuah imager dan interaksi viewer diilustrasikan dalam gambar pertama dari delapan layar dari Gambar. 21.4. Tiga layar pertama terdiri dari titik pandang "mengamati”. Pada layar 4, hubungan spasial dibuat dengan objek mulai muncul, melibatkan sudut pandang. Akhirnya, pada layar 5-8 hubungan spasial hampir sempurna, tingkat partisipasi pandang seolah-olah bertambah. Dalam delapan layar tersebut, terjadi pergeseran sudut pandang dari posisi melihat untuk mencari dan kemudian viewer sudah mulai mengikuti dan masuk kedalam cerita yang ingin disampaikan.
Diskusi narrating eye dan titik pandang bergambar menunjukkan kegunaan dari teori cerita untuk menceritakan sebuah narasi bergambar. Lompatan dari penunjuk-er untuk menunjukkan-ee membuat cerita bergambar dan menggambarkan imager untuk menunjukkan viewer dalam posisi subjek untuk melihatnya. Mereka adalah struktur komposisi yang memberikan bentuk ke objek dari suatu gambar, dan bahwa ketika dianalisis, mengungkapkan bagaimana pengaturan mereka membuat makna menurut logika awal, tengah, dan akhir. The gagasan sintaks bergambar ini berguna untuk memahami peran konvensi bergambar dalam menciptakan pengalaman khusus yang terkait dengan berbagai genre cerita.
NARASI BERGAMBAR : GENRE CERITA
Mengapa kita perlu dan menikmati cerita dalam gagasan "rasionalitas naratif"? Jika hal ini menjelaskan mengapa kita perlu cerita, bagaimanapun, tidak menjelaskan mengapa kita sepertinya membutuhkan cerita yang sama berulang-ulang. Dalam menonton televisi, kita juga akan menonton dan menikmati cerita yang sama yang dikatakan berulang-ulang baik itu dalam komedi situasi atau program berita. Misalnya berita mengenai kejahatan. Kita tidak akan bosan mendengarkan cerita itu, entah itu dilihat dari perspektif polisi, perspektif pengacara, dari perspektif para penjahatnya sendiri. Meskipun cerita ini selalu tidak sama, seperti buku anak-anak yang dibaca berulang-ulang, mereka memiliki bentuk cerita yang serupa yang dikenali baik. Mereka adalah struktur generik tertentu yang dipisahkan dari "bahan" narasi dari cerita. Masing-masing bentuk mengikuti struktur transformasional yang berbeda. Misalnya, struktur transformasional komedi menegaskan titik pandang idealis tentang alam semesta sedangkan struktur transformasional menegaskan tragedi dari sudut pandang realistis. Struktur cerita yang berulang-ulang adalah salah satu cara yang menarik dan menegaskan kembali nilai-nilai melalui bentuk transformasional nya. Situasi komedi memberi kita kesempatan kita untuk "tahu" dunia sebagai tempat yang idealis, narasi melodramatis membuat kita lebih optimis. Kita biasanya mengacu pada bentuk rasa pembuatan structural sebagai genre bercerita.
Dalam analisis teks-teks visual narasi opera sabun, misalnya, Barbatsis dan Guy (1991) mengidentifikasi sejumlah konvensi komposisi narasi visual, dan dalam menganalisis sifat estetika. Mereka menemukan bahwa mereka menciptakan suatu rasa pengalaman dari penerimaan dan realitas yang terkait dengan opera sabun. Studi seperti ini yang menyelidiki struktur naratif sebagai pembawa fundamental budaya berarti menjawab pertanyaan mengapa kita membutuhkan kisah-kisah yang sama berulang-ulang dengan menunjukkan bagaimana pengambilan arti struktur narasi adalah "cara yang sangat kuat untuk menegaskan dasar ideologi budaya "(Miller, 1990, hal 71).
MENGGUNAKAN TEORI NARATIF /CERITA UNTUK MEMAHAMI KEKUATAN FOTO-FOTO BERITA
Kita mempelajari sesuatu dari cerita yang kita ceritakan karena dari awal kita belajar menggunakan kata yang akan membentuk pola pikir dan nilai yang kita pahami untuk bagaimana hidup dalam masyarakat. Misalkan cerita simbolik yang di percaya masyarakat akan menciptakan pemikiran dan tindakan yang seragam. Cara yang lain untuk mempercayai sesuatu selain dengan mendengar cerita adalah dengan melihat. Karena dengan melihat kita akan yakin bahwa itu benar-benar ada. Sebuah potret berita tentang suatu mitos akan menimbulkan keraguan atau keyakinan atas benar tidaknya suatu mitos dalam masyarakat. Tidak seperti cerita foto tidak memiliki tengah awal dan akhir sehingga menimbulkan alur cerita sendiri dalam benak orang yang melihatnya dan dia tidak dapat menghentikan pemahamannya tentang suatu potret tersebut. Menurut konsep Walter Fisher paradigma cerita, bagaimana berita dalam foto bisa menantang, memperkokoh, atau menegaskan kembali mitos kebudayaan.
PARADIGMA CERITA dan SIFAT FOTO BERITA.
Menurut Fisher manusia adalah pada hakekatnya pencerita, manusia kembali mengetahui hal lewat cerita dengan mendengar dan mengatakan. Paradigma cerita bersikeras bahwa komunikasi manusiawi sebaiknya dilihat sejarah serta situasional, sebagai cerita yang bersaing dengan cerita lain yang dikarenakan oleh sebab akibat? Dengan menilai kemungkinan cerita dan keabsahan cerita, kami bisa membuat pendapat tentang cerita dan apakah kita sebaiknya percaya bahwa cerita benar dan rasional. Dengan potret berita, selalu ada keterangan gambar yang membingkai potret dan tempat itu ke dalam konteks yang lebih besar. Konteks ini yang lebih besar itu menimbulkan cerita potret. Berger (1992) Karenanya, potret menjadi sebagian disampaikan sebagai cerita dan bisa dinilai serta sisa cerita untuk rasionalitasnya dan rasionalitas cerita yang lebih besar. Seseorang akan mulai akan berhenti percaya kepada cerita jika mereka mempunyai cukup bukti untuk membuktikan hal lain, mereka mungkin mulai untuk percaya kepada cerita yang berbeda, untuk menulis kembali cerita yang asli. Potret berita dan keterangan gambar yang menyertai sering menyediakan bukti untuk itu. Keraguan atau keyakinan atas suatu cerita menjelaskan kekuasaan potret berita untuk menantang, memperkokoh, atau mengkonfirmasi lagi cerita tersebut. Dalam cerita kata sangat penting karena menyampaikan maksud yang ingin di sampaikan oleh penulis, sedangkan potret dapat di asumsikan bahwa potret menyediakan kebenaran saat keterangan gambar membingkai suatu momen dan menambah atau mengurangi nya terlebih dahulu menjadi satu garis. Berger menonjolkan, "keterangan gambar menyediakan landasan dengan bahasa mana yang digunakan , dalam kaitannya dengan membuat cerita logis, yang memungkinkan untuk memasuki kembali ruang potret" (1992, p. 14). Suatu potret dapat membentuk keraguaan atas mitos kebudayaan yang sudah diyakini selama ini. Contoh yang lain waktu masyarakat di memulai untuk menantang mitos kebudayaan tetapi tidak bisa yakin entah mitos kebudayaan asli atau mempercayai cerita baru yang sebaiknya dipercaya, potret mungkin menyediakan bukti untuk memperkokoh kepercayaan baru tersebut .
FOTO BERITA
Pemboman Kota Oklahoma
Pada pagi hari 19 April 1995, Timothy Mc Veigh & konspirasinya menyalakan bom pupuk di luar bangunan Pemerintah Pusat Alfred P.Murrah di kota Oklahoma. Ledakan tesebut membunuh 168 orang termasuk beberapa anak-anak yang ada di tempat penitipan anak di bangunan tersebut. Seorang pegawai bank & dan tukang poto amatir Charles H.Porter IV mendengar ledakan tersebut dari kantornya yang terletak beberapa blok dan mengambil kamera untuk segera mengambil gambar dari kejadian ledakan tersebut. Kemudian ia melihat petugas pemadam kebakaran membawa bayi dari bangunan tersebut. Ia kemudian diam-diam mengambil gambar lalu mencetak gambar tersebut di pusat cuci cetak cepat. Kemudian bayi tersebut diidentifikasi berusia 1 tahun anak dari Baylee Almon yang ditemukan tewas pada kejadian tersebut. Porter menjualkaryanya ke Asosiasi Press yang mengsirkulasikan foto yang menjadi cover majalah dan koran untuk mewakili pemboman kota Oklahoma. Pada 1996, Porter mendapakna penghargaan Pulitzer untuk Spot News Reporting.
Kemungkinan naratif
Foto dari anggota pemadam api menggenggam satu anak berdarah mempunyai kemungkinan naratif tinggi karena ini adalah satu usaha anggota pemadam kebakaran untuk menawarkan bantuan pada korban. Walau foto adalah tragis, ini sungguh sesuatu yang dapat dipercaya tanpa kata-kata apapun. Tidak diperlukan informasi tambahan untuk membuat foto itu narrative dengan sendirinya.
Kesetiaan naratif
Kesetiaan naratif dapat dinilai oleh masing-masing believabilitynya retorik melawan apa dipikirkan diketahui dari dunia nyata. Di studi kasus ini, kita dapat menilai satu kabar potret melawan yang dipikirkan benar di setiap hari hidup. Pada Amerika Serikat, di kedengkian dari bukti ke arah berlawanan, Perasaan amerika yang mereka adalah selamat pada pelaksanaan dari mereka rutin normal. Bahwasanya, kita merasakan selamat pada tanah tumpah darah kita; kita meyakini serangan teroris itu hanyalah terjadi di tempat lain. Utama ke Kota Oklahoma Membom, Amerika Serikat telah secara relatif kebal dari terror warga keduanya warga lain dan pemerintah, di paling sedikit pada agung seperti itu skalakan. Walau Amerika Serikat telah korban ke serangan teroris, terutama di cahaya dari Perang Saudara dan Warga Negara Pergerakan Hak-hak, gempuran itu dianggap targeted ke arah tujuan group spesifik pada hidup harian ganggu untuk satu tujuan tertentu. Serang melawan perserikatan dan pada populasi minoritas disebut produk dari rumah menernakkan ketidak puasan dengan kebijakan bidang pemerintah spesifik. Dengan Kota Oklahoma pemboman, bagaimanapun, warga dihadapi dengan ide pengikut itu warga akan ambil aksi drastis untuk mengumumkan ke publik ketidak puasan mereka dengan itu bidang pemerintah kebijakan. Bahwasanya, laporan berita pada berikut hari dan minggu pemboman terkabar kesangsian tersebar luas itu satu peristiwa demikian dapat terjadi dan itu pelaku adalah satu U.S. warga. Pada kenyataan, laporan awal setelah pemboman gambar kesimpulan bahwa ini adalah satu akta dari terorisme internasional. Masih, Orang amerika disusul pada kepercayaan terorisme itu hanyalah terjadi di tempat lain dan Amerika itu warga tidak akan pernah melakukan jahat demikian. Matahari Toronto dipertimbangkan bahwa ' Orang Amerika tidak dapat menerima bahwa ini adalah sangat kemungkinan seperti itu akta dengan takut-takut dan mengerikan melawan orang-orang tidak berdosa dapat telah dilakukan oleh satu atau lebih mereka sendiri" (Raynier, 1995, p. 12).
Analisa
Di hampir waktu yang sama Kuli Pengangkut Barang itu gigit tembakannya, satu karyawan gas perusahaan memasang untuk Nasional Gas Oklahoma, Lester LaRue, didengar eksplosi dan rebut kameranya, menangkap satu hampir foto serupa ke Kuli Pengangkut Barang. LaRue terjual fotonya ke Newsweek dan ini, juga, tampak pada koran tak terbilang dan majalah. LaRue dilibatkan pada satu meja hijau panjang memperangi dengan Gas Alam Oklahoma seperti ke hak-hak ke foto. foto hampir serupa. Perbedaan primer di antara foto adalah dua: pertama, sudut adalah sedikit berbeda dengan fotonya LaRue ke hak dari Kuli Pengangkut Barang (ini adalah discernable oleh teduhan image penempatan dan latar belakang), dan kedua, Fotonya kuli pengangkut barang mempunyai seseorang pada benar bawah sudut bingkai, meskipun demikian orang sering menjadi di luar pagar yang terpotong dari foto. Bersikap dari figur pusat pada gambar, anggota pemadam api dengan anak pada lengan tangannya, adalah serupa. Pada mulanya mengerling, foto tampak yang dapat bertukar tempat. Karenanya, umum tendensi akan hanya merasa di situ satu foto bentuk tunggal. Ini adalah penting untuk mencatat karena daya tarikku sini berada di dalam bagaimana kabar memotret dongeng budaya tantangan. Fakta yang di situ adalah dua foto yang mempunyai berdua secara luas telah dilihat siratkan bahwa ini adalah berarti di belakang image agak dibandingkan image sendiri yang menciptakan kekuatan dari foto. Karenanya, ketika pejabat menunjuk ke "foto" publik pahami bahwa ini adalah fotonya anggota pemadam api tetapi bukan apakah ini adalah Kuli Pengangkut Barang atau LaRue versi. Alhasil, komentar pada "foto" jangan menetapkan apakah ini adalah Kuli Pengangkut Barang atau fotonya LaRue. Image lebar sendiri adalah apa menangkap perhatiannya orang-orang. Dengan dua foto pada hakekatnya yang sama dan berdua secara luas beredar, ini adalah berarti di belakang foto yang jadi penting, tidak yang memotret orang-orang memaksudkan. Tommy Almon, Datuknya Baylee Almon, dikatakan, "Ini adalah foto yang dirasakan di sekitar dunia" (Strupp, 1995). Longstreath daud (1995), Associated Press menyatakan editor foto, katakan foto adalah segalanya yang bersifat menandakan dari bombing—one dari itu jarang dipanah yang beri cerita seluruh dengan cara perkataan itu tidak dapat. Gubernur Terus Terang Oklahoma Keating menjelaskan bahwa foto adalah "satu kiasan untuk yang adalah terjadi sini" (Orang-orang, 1995, p. 35). Semua diasumsikan komentar ini sesuatu potret. Kita dapat mempertimbangkan sekarang apa berarti di belakang berdua foto menyiratkan di cahaya dari teori naratif. Ketika Kota Oklahoma membom terjadi, Amerika harus atur kembali dan evaluasi ulang naratif bahwa mereka meyakini sekitar domestik kedamaian dan keselamatan. Bersatu Status telah pokok terhadap keduanya domestik dan serangan teroris asing hampir dari ini awal. Bagaimanapun, Kota pemboman Oklahoma adalah yang pertama besar-besaran pemboman yang ambil tempat pada Amerika Serikat tanpa apapun dengan seketika materi ungkap seperti ke kenapa gempuran ambil tempat atau siapa lakukan ini. "Pembunuh curi satu keberuntungan yang day—lives, cinta, asa dan kesangsian kita itu satu hal seperti itu selalu dapat terjadi sini" (Mathis, 1997, p. 6 ). Evaluasi ulang ini jadi hasil terutama semata ke fakta yang naratif tidak lagi punyai naratif konsistensi kesetiaan atau eksternal. Apa Orang Amerika pikir benar dengan kasar dihancurkan. Bukti dari mungkin baru naratif adalah jelas pada foto dari anggota pemadam api menggenggam tubuh tak bernyawa dari Baylee Almon. Yang foto telah jadi satu lambang dari apa Orang Amerika adalah mampu untuk melakukan untuk satu sama lain. Tanpa bukti visuil, didukung oleh contextualization lisan, naratif asli dapat telah disimpan ulang dengan satu dugaan dismissive dari "ini bukan buruk itu," "ini baru satu pemerintah bangunan." Bagaimanapun, image dari anggota pemadam api dan anak membuat kengerian dari tragedi mustahil untuk sangkal. Naratif asli kemudian adalah sebelah kiri di keraguan; kalau ini dapat terjadi di Kota Oklahoma maka ini dapat terjadi dimanapun pada Amerika Serikat. Tagihan hutang sini bukan itu pergeseran di hakikat naratif adalah karena akibat foto. Rada, foto menyediakan bukti yang tidak dapat dipertentangkan itu naratif publik harus dipersoalkan. Kalau foto anggota pemadam api dari Kota Oklahoma menggambarkan bagaimana satu image dapat membuat kita persoalkan kepercayaan kita sekitar bangsa kita, satu analisa dengan foto lain mungkin sediakan bukti yang pertanyaan demikian dibenarkan.
Pembantaian My Lai
Pada 16 Maret, 1968, orang-orang dari Perusahaan Charlie, pada kepemimpinan dari Ernest Kapten Medina, dengan Letnan Satu William L. Calley Jr. , diharapkan untuk menjumpai oposisi hebat dari Vietcong selama perang Vietnam. Bagaimanapun, di sini hari mereka tidak menjumpai serdadu musuh. Sebagai ganti, mereka menghadapi perempuan, anak-anak, dan lebih tua; U.S. serdadu membunuh banyak penduduk dari satu desa dekat. Peristiwa ini jadi dikenal sebagai Laiku Bantai. Ketika pertama terkabar, Koran amerika hanya militer terkabar kecelakaan, tidak ada orang awam. Pada hari dari pembunuhan dengan rencana, bagaimanapun, satu tukang photo angkatan perang, Ron Haberle, telah menemani beramai-ramai. Foto resmi yang dia telah mengambil berada di dalam hitam dan putih, pokok pembahasan dermawan. Dia juga mempunyai kameranya sendiri dengan film warna. Ini memotret dia mempertahankan dan foto bukti showed dari pembunuhan dengan rencana brutal dari warganegara, meliputi anak-anak. Cerita dari kecelakaan warganegara rondai, dan mereka padahal memimpin ke satu militer dimana investigasi, Letnan Calley didakwa pembunuhan berat, gempuran yang simpan melewati tapi sedikit kabar untuk perhatian. Ketika Haberle lihat laporan berita ringkas, putuskan dia untuk pergi umum dengan fotonya di Bulan November 1968 dan hubungi satu Dataran Cleveland Pedagang pengecer pemberita, Joe Eszterhas. Ketika Eszterhas mengatakan editornya yang dia yang punya eksklusif dunia foto, editor kabarnya mengatakan untuk melupakan sekop karena satu moonwalk adalah dijadwalkan keesokan hari. Setelah melihat foto, dia mengatakan untuk melupakan moonwalk karena ini baru satu moonwalk rutin (Hersch, 1970). Foto yang dicetak pertama pada Pedagang Pengecer Sederhana halaman berhadapan pada 20 November kemudian pada sampul dari nyaris tiap-tiap Koran amerika adalah sesusun tubuh di tengah-tengah satu jalan, meliputi bayi mati dan anak-anak kecil. Program baru televisi showed foto statis pada penyebaran mereka malam Pedagang Pengecer Sederhana diterbitkan foto. Dengan penghamburan tersebar luas dari foto, cerita dengan jelas pada baru dan memimpin ke investigasi dari foto dan peristiwa yang pimpin ke pembunuhan dengan rencana.
Kemungkinan naratif
Foto dari sesusun tubuh termasuk membayikan dan kecil anak-anak, di pertama, menyesatkan. Pada mulanya mengerling, tubuh tidak menonjol. Rada, di sana tampak satu tumpukan dari pakaian pada jalan. Bagaimanapun, satu pengujian semakin dekat mengungkapkan kesatuan berdarah meliputi secara parsial anak-anak berkain dan bayi. Pokok pembahasan goncangan menyiagakan penonton ke kemungkinan dari keabsahan ini dan meminta pertanyaan, "Bagaimana ini terjadi?" Dengan kemungkinan yang foto yang lukiskan satu keadaan yang sebenarnya, kesetiaan naratif dari foto ke pengamatan Amerika sekitar peperangan di Vietnam dipanggil ke dalam pertanyaan.
Fidelity naratif
Percaya amerika itu Amerika menggenggam nilai dari hidup keadilan dan manusia sebagai nilai tertinggi. Ketika Amerika memasuki ke dalam peperangan ini adalah untuk menegakkan nilai ini. Selama Peperangan Vietnam, banyak Orang Amerika merasakan bahwa penggunaan di belakang peperangan tidak hanya jangan menegakkan keadilan kecuali juga merugikan `lives` Amerika. Alhasil, Amerika menjadi sedang berperang tidak mencocokkan paradigma yang beberapa Orang Amerika meyakini peperangan dibenarkan. Sebagai hasil, beberapa tidak dapat mendukung peperangan. Ini betul-betul kepercayaan ada diubah hanya ketika kita punya bukti baik untuk membuktikan bahwa naratif tidak lagi cocok. `Lai`ku potret asalkan bukti. `Goldberg` menyatakan sekitar `Lai`ku memotret dan foto lain dari yang sama peristiwa, "Akibat dari gambar ini bergantung kepada Power mereka seperti bukti dari satu brutal peristiwa" (1991, p. 233). `Newsweek` dilaporkan, "Ini hanya setelah foto mengaku untuk memperlihatkan tertuduh pembunuhan dengan rencana mempunyai tampak di Cleveland Pedagang Pengecer Sederhana —dan punya telah direbut oleh Hidup editor magazine—that dan Reader mulai rasakan alasan diyakinkan bahwa episode yang telah terjadi di semua" (1969, p. 35). Walau perasaan Amerika ke arah peperangan telah sangkaan untuk sementara waktu, `Lai`ku Membantai foto berikan kepercayaan ke akta brutal itu beberapa serdadu Amerika sedang melakukan. Ini, pada gilirannya, dipaksa Amerika untuk mengevaluasi ulang alasan mulia dari keterlibatannya Amerika di Vietnam. Amerika dapat tidak lagi sangkal gosip dari kekejaman yang beberapa serdadu Amerika dilakukan.
Analisa
Walau emosi dan kepercayaan dari Orang Amerika mengepung Peperangan Vietnam adalah lebih rumit dibandingkan dapat dijelaskan secara lengkap sini atau dengan analisa dari foto tunggal, kemungkinan naratif dari foto yang meminta penonton untuk mempersoalkan naratif kemana Fidelitynya foto akan dibandingkan. Itu foto adalah dipaksa yang dapat dipercaya Amerika untuk mengevaluasi ulang naratif dari satu baru memperangi dan memberikan kepercayaan ke penentang pendapat bahwa Vietnam bukan diperangi dengan hormat. Foto ini kecuali satu potongan dari bukti pada serangan gencar dari keterangan sekitar alasan Amerika dan aksi di Vietnam. Tapi ini satu potongan bukti adalah satu kekuatan kuat di penekanan lagi satu berbeda tentang peperangan naratif. Foto dari `Lai`ku Membantai memperbolehkan warga untuk menyatakan keraguan sekitar alasannya bangsa di Vietnam, menyalakan spekulasi selanjutnya dan investigasi. Foto lain tolong untuk menegaskan lagi naratif asli ketika menghadapi dengan kejujuran kesana-sini keraguan dari satu lama digenggam naratif.
World Trade Center
11 September, 2001, adalah satu hari yang paling Orang Amerika tidak akan pernah lupa. Empat pesawat adalah dibajak oleh teroris. Yang pertama pesawat `crashed` ke dalam Menara Utara dari Trade dunia Pusat kemudian pesawat detik `crashed` ke dalam Menara Selatan. Sepertiga pesawat memukul Pentagon di Washington, `D.C`. Pesawat akhir `crashed` ke dalam satu bidang di `Pennsylvania`. Diantara satu jam dan setengah, menara berdua dari Berdagang Memusat Dunia pingsan, pembunuhan ribuan dari pekerja kantor dan personalia Rescue. Pada lima pada sore dari 11 September, satu tukang photo untuk Daerah Bergen Rekaman, Franklin Thomas, sedang menyelesaikan memanah foto dari hancurnya Asas Nol untuk hari. Dia berada di atas satu kaki pejalan kaki menjembatani ketika dia lihat tiga anggota pemadam api menaikkan satu bendera dari satu balapan kapal pada pelabuhan dekat. Anggota pemadam api sedang menaikkan satu 5 kaki oleh 3 bendera kaki ke atas sisa dari satu tiang bendera dengan puing dari Berdagang Memusat Dunia pada latar belakang. Franklin ambil foto yang ingatkan dia dari penaikan bendera di Aku `wo Jima` dari Perang Dunia Ii (`Hampson`, 2001). Diantara beberapa jam foto adalah dikirimkan di seluruh bumi oleh Associated Press dan adalah satu finalis untuk 2002 `Pulitzer` Menghargai untuk Mematahkan Fotografi Baru. Image dari 11 September adalah `indelibly` membakar ke dalam urus dari paling Orang Amerika, sedikit mereka positif. Foto penaikan bendera sungguh pasti tidak satu-satunya menggambar yang datang ke urus dari serangan teroris kecuali ini dengan jelas salah satu image yang paling kuat ke permukaan. Satu pengujian dari Power naratif dari foto ini mungkin menolong menjelaskan ini Power.
Kemungkinan naratif
Image utama pada penaikan bendera potret, `firemen` menaikkan satu bendera, terutama mengejutkan. Seperti dengan pemboman Oklahoma City potret, `firemen` ditangkap melakukan satu aksi kemana publik dibiasakan, menaikkan bendera. Itu hanyalah satu pengujian tutup pelahiran maksud itu puing `amidst` yang mana bendera ditinggikan yang menciptakan setelan tidak biasa untuk satu aktivitas standar. Bagaimanapun, itu anggota pemadam api akan mengacungkan satu bendera adalah sendiri yang dapat dipercaya. Hanyalah ketika foto diuji pada dongeng budaya yang dipersoalkan apakah foto menanggung proporsi berpengaruh nyata.
Fidelity naratif
Image dari pemukulan naik pesawat terbang menara adalah luar biasa. Lebih lagi luar biasa adalah fakta yang Amerika juga rentan untuk serangan teroris gedang seperti itu pada perbatasan kita sendiri. Paling bisnis dan aksi menghadang sebagai Amerika dan orang-orang di seluruh bumi menonton sebagai hakikat dari apa terjadi resapi. Aviasi Pemerintah Pusat Administrasi menutup bandar udara untuk beberapa hari. Paling peristiwa olahraga adalah `canceled` hingga minggu berikut. Itu Orang Amerika ditakutkan adalah yang tidak dapat dipungkiri; perusahaan penerbangan industri masih percobaan untuk memulihkan dari gempuran. Ide AMERIKA itu. warga adalah selamat di negara mereka sendiri telah dihancurkan. Penaikan bendera memotret menawarkan asa pada satu keadaan sia-sia, menekankan lagi bahwa bersatu Status akan terus hidup gempuran ini dan Triumph pada rupa dari kesusahan. Ini nyatakan tadi kepercayaan ada itu Amerika dapat menaklukkannya ganggu. Hari Ini as nyatakan bahwa foto adalah "satu penampakan Defiance dan keberanian di sebentar ketakutan dan mundur" (`Hampson`, 2001, p. 1A). `Mary Panzer`, satu ahli sejarah budaya, katakan bahwa gubahan dari foto mengijinkan penonton "untuk memperoleh satu rasa dari pemenuhannya `firemen`" (`Hampson`, 2001, p. 1A). `Frankin`, tukang photo, dicatat perlambangan pada foto dan "keberanian luar biasa dari orang ini pada rupa dari kebinasaan demikian" (`Torpey Kemph`, 2001, p. 36). Walikota dari York Kota Besar New pada saat gempuran, `Rudolf Giuliani`, diakui bahwa foto "dibuktikan teroris tidak mencapai gol terakhir mereka untuk mematahkan semangatnya bangsa" (Burung robin, 2001, p. `A06`). Dengan jelas, di saat ini, Amerika memerlukan penenteraman hati kembali itu negara akan terus hidup, dan dapat yang menempatkan dari keselamatan dan kemantapan. Penaikan bendera memotret asalkan penenteraman hati kembali.
Analisa
Bukti pada foto, atau kemungkinan naratif ini, mengijinkan penonton untuk tegaskan lagi kepercayaan mereka di apa mereka memikirkan benar dari dunia, Fidelity naratif dari foto. Di kejadian ini apa penonton memikirkan benar pada dunia nyata adalah diguncangkan. Foto yang ditegaskan lagi untuk penonton yang kepercayaan mereka dibenarkan. Persamaan tak diragukan ke bendera penaikan `Iwo Jima` foto dari Perang Dunia Ii disediakan di bagian penenteraman hati kembali ini. `Fussell` mengatakan dari `Pulitzer` Menghargai foto kemenangan oleh `Joe Rosenthal` bahwa ini adalah satu sukses "emblem dari umum akan berjaya" (1982, p. 232). Dan, `Goldberg` menyarankan foto "telah pikul sebagai satu ikon paham perjuangan Amerika" (1991, p. 147). Diberikan kemiripan dari anggota pemadam api New York foto ke `Iwo Jima` memotret dan kebutuhan yang sama untuk umum Amerika untuk merasakan tertanggung tentang Amerika `survivability` ini bukan kaget bahwa foto New York dapat memenuhi ini berfungsi. Fotonya Franklin akan hampir bisa dipastikan mencapai satu tempat serupa di riwayat sebagai `wo Jima` aku potret sebab satu perangko melahirkan imagenya foto telah dikeluarkan dan satu data status di dalamnya persamaan diajukan. 2 Sebagai tambahan, foto telah diulangan pada t kemeja dan kole, dan `editorialized` di film karton dan tempat peristiwa lain yang tak terbilang. Barangkali potensial untuk daya tahan dari foto ini mengonfirmasikan fungsi pokok materi itu dari isi foto untuk penonton ini: menegaskan lagi ide yang Amerika adalah kuat dan akan menangkan.
IMPLIKASI
Foto lagi adalah sering diambil sebagai satu rekaman dari satu peristiwa oleh berdua penonton mereka dan pencipta mereka. Mereka menyediakan bukti dari satu naratif dari peristiwa yang pimpin ke pokok materi dari foto. Bagaimanapun, untuk memahami kenapa image tertentu menjadi bagian dari satu umum kesadaran, kita perlu memahami gulungan itu kabar tertentu memotret permainan pada satu dongeng budaya yang lebih besar. Walau ini bukan penggunaanku untuk membenarkan kenapa foto tertentu tersisa ikon sementara orang lain berangsur hilang, ini adalah perkelahianku yang dapat kita tolong untuk jelaskan Power dengan foto tertentu ketika mereka tantang, nyatakan, atau konfirmasi ulang mendarah-daging dongeng budaya. Beberapa foto mengatakan satu cerita lengkap atas diri mereka sendiri, seperti itu Oklahoma City foto anggota pemadam api. Seragam pada anggota pemadam api menyiratkan beberapa jenis dari bencana dan anak tak bernyawa memereli kedalaman dari tragedi. Walau kita tidak mengetahui spesifik dari itu tragedi tertentu, kita mengetahui bahwa satu cerita tragis mempunyai terjadi. Adalah foto itu dari satu api rumah disebabkan oleh kawat salah, foto akan telah membuat halaman berhadapan kecuali akan telah memudar dari ingatan umum secara relatif segera. Bagaimanapun, ketika foto itu menjadi bagian dari cerita dari pemboman Oklahoma City, awal ini untuk mempunyai satu papan rak lebih panjang hidup. Bahwasanya, ketika ini mulai mewakili satu Challenge untuk sangat kepercayaan kemasyarakatan ada sekitar keselamatan kita dari teroris domestik, ini menjadi satu ikon mulai mengingatkan kita dari satu hakikat baru. Hanya ketika kita melihat foto ini seperti bagian dari dongeng budaya lakukan kita mulai memahami Power dari foto. Fakta kabar itu permainan foto ke dalam satu dongeng budaya yang lebih besar sendirian tidak meyakinkan kita dari Power mereka. Bukti yang tidak dapat dipertentangkan dari foto kabar dari kebenaran mereka sendiri, kemungkinan naratif mereka, paksa satu pemeriksaan bandingan dari dongeng budaya keadaan sekitar itu foto. Ketika kita menilai Fidelity naratif dari foto baru, kita ditinggalkan ke persoalkan cerita dibanding dengan foto dinilai. Di dalam melakukan, dongeng budaya mungkin jadilah tantang, dinyatakan, atau konfirmasi ulang.
bukunya apa ini ya kak ?
BalasHapus