BAB 3
METODE PENELITIAN
3.1 Paradigma Ilmu Komunikasi
Paradigma yang digunakan dalam penelitian ini adalah paradigma interpretatif. Pendekatan interpretif berangkat dari upaya untuk mencari penjelasan tentang peristiwa sosial atau budaya yang didasarkan pada perspektif dan pengalaman orang yang diteliti. Pendekatan interpretif diadopsi dari orientasi praktis. Secara umum pendekatan interpretif merupakan sistem sosial yang memaknai perilaku secara detail langsung mengobservasi. (Newman, 1997: 68).
Namun pendapat Husseerl masih dirasakan abstrak, maka Schutz mencoba lebih menyederhanakan dan mengawali pemikirannya dengan mengatakan bahwa objek penelitian ilmu sosial pada dasarnya berhubungan dengan interpretasi terhadap realitas. Dalam melakukan penelitian, peneliti harus menggunakan metode interpretasi yang sama dengan orang yang diamati, sehingga peneliti bisa masuk ke dalam dunia interpretasi orang yang dijadikan objek penelitian. Pada praktiknya, peneliti mengasumsikan dirinya sebagai orang yang tidak tertarik atau bukan bagian dari dunia orang yang diamati. Peneliti hanya terlibat secara kogniti dengan orang yang diamati. Peneliti dapat memilih satu ‘posisi’ yang dirasakan nyaman oleh subyek penelitiannya, sehingga ketika subyek merasa nyaman maka dirinya dapat menjadi diri sendiri. Ketika ia menjadi dirinya sendiri inilah yang menjadi bahan kajian peneliti sosial.
3.2 Metodologi Penelitian
Metodologi yang kami gunakan yaitu kualitatif. Kualitatif menekankan pada metode penelitian observasi di lapangan dan datanya dianalisa dengan cara nonstatistik. Riset kualitatif bertujuan untuk menjelaskan fenomena dengan sedalam-dalamnya melalui pengumpulan data sedalam-dalamnya. Riset ini tidak mengutamakan besarnya populasi atau samplingnya sangat terbatas. Jika data yang terkumpul sudah mendalam dan bisa menjelaskan fenomena yang diteliti, maka tidak perlu mencari sampling lainnya. Di sini yang lebih ditekankan adalah persoalan kedalaman (kualitas) data bukan banyaknya (kuantitas) data(Rachmat Kriyantono 2007: 58).
3.3 Jenis Penelitian
Penelitan ini menggunakan jenis penelitian deskriptif. Penelitian deskriptif adalah suatu bentuk penelitian yang ditujukan untuk mendeskripsikan fenomena-fenomena yang ada, baik fenomena alamiah maupun fenomena buatan manusia. Fenomena itu bisa berupa bentuk, aktivitas, karakteristik, perubahan, hubungan, kesamaan, dan perbedaan antara fenomena yang satu dengan fenomena lainnya. (Sukmadinata, 2006:72)
3.4. Metode Penelitian
Metode penelitian yang digunakan adalah fenomenologi. Fenomenologi adalah gerakan filsafat yang dipelopori oleh Edmund Husserl (1859 – 1838). Salah satu arus pemikiran yang paling berpengaruh pada abad ke-20. Fenomenologi mencoba menepis semua asumsi yang mengkontaminasi pengalaman konkret manusia. Ini mengapa fenomenologi disebut sebagai cara berfilsafat yang radikal. Fenomenologi menekankan upaya menggapai “hal itu sendiri” lepas dari segala presuposisi. Langkah pertamanya adalah menghindari semu konstruksi, asumsi yang dipasang sebelum dan sekaligus mengarahkan pengalaman. Tak peduli apakah konstruksi filsafat, sains, agama, dan kebudayaan, semuanya harus dihindari sebis mungkin. Semua penjelasan tidak boleh dipaksakan sebelum pengalaman menjelaskannya sendiri dari dan dalam pengalaman itu sendiri(Donny, 2002 : 42) Fenomenologi menekankan perlunya filsafat melepaskan diri dari ikatan historis apapun—apakah itu tradisi metafisika, epistimologi, atau sains. Program utama fenomenologi adalah mengembalikan filsafat ke penghayatan sehari-hari subjek pengetahuan. Kembali ke kekayaan pengalaman manusia yang konkret, lekat, dan penuh penghayatan.. Pengaruh fenomenologi sangat luas. Hampir semua disiplin keilmuan mendapatkan inspirasi dari fenomenologi.
3.5 Ruang Lingkup
Penelitian ini membahas tentang bagaimana fenomena komunitas gay di kota Malang melakukan interaksi di dalam kelompok gay itu sendiri dan interaksi dengan masyarakat. Serta penggunaan bahasa dalam komunikasi verbal dan komunikasi non verbal.
3.6 Teknik Pemilihan Informan
Peneliti sengaja untuk mencari data lewat informan yang sudah dikenal (purposive sampling) yaitu dengan cara komunikasi face to face dan menjelaskan tentang penelitian yang dilakukan. Hal ini bertujuan agar mendapatkan data selengkap-lengkapnya karena semakin orang mengenal satu sama lain, maka keterbukaan akan terjadi,dan secara langsung informasi didapat secara utuh.
Peneliti memiliki beberapa kriteria dalam pemilihan informan, antaralain:
1. Peneliti benar – benar mengetahui informan adalah gay.
2. Untuk informan kunci, peneliti menentukan pada seseorang benar – benar mengetahui seluk beluk gay dalam sebuah kelompok atau sebuah komunitas.
3. Informan selanjutnya bisa merupakan rekomendasi dari informan kunci.
4. Usia dari informan antara 17 – 30 tahun.dan memiliki wawasan tentang dunia gay secara umum.
3.7 Sumber Data
Berdasarkan sumbernya, data yang kami gunakan dibedakan dalam 2 jenis, yaitu primer dan sekunder. Data primer adalah data yang diperoleh dari sumber data atau tangan pertama di lapangan. Sumber data ini bisa responden atau subjek penelitian (Rachmat Kriyantono, 2007: 43).
Jenis data yang kedua adalah sekunder. Data sekunder adalah data yang diperoleh dari sumber kedua atau sekunder (Rachmat Kriyantono, 2007: 44). Sumber data sekunder yang kami gunakan adalah buku, koran, dan internet.
3.8 Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah
3.8.1 Wawancara Mendalam
Sebuah sistem perolehan informasi dengan tanya jawab tidak bersruktur, spontan, terbuka, fleksibel, mendorong subyek penelitian untuk mendiskripsikan dirinya sendiri, dan dilakukan selama observasi atau saat waktu dan tempat tertentu.
( Terdapat lampiran hasil wawancara)
Kegiatan wawancara ini dilakukan dengan pembuatan daftar wawancara yang berisi sepuluh pertanyaan dengan isi dari pertanyaan yang mengandung pengembangan dan penalaran mengenai cara berkomunikasi kaum metroseksual di universitas Brawijaya
3.8.2 Metode Pengamatan
Kegiatan lain yang dilakukan selain wawancara mendalam, adalah melalui pengamatan , baik secara langsung maupun tidak langsung. Peneliti akan melakukan pengamatan aktivitas kaum gay selama berada di wilayah kampus dan di beberapa tempat umum yang dijadikan sebagai tempat berkumpul, seperti mall dan café di kota Malang.
3.8.3 Metode dokumentasi
Pengumpulan data melalui buku-buku dokumen. Buku-buku dokumen yang digunakan peneliti adalah yang berkaitan dengan buku – buku yang diperoleh dari sistem online / internet.
3.9 Unit Analisis
Unit analisis dari penelitian ini berasal dari pengalaman secara sadar dari peneliti terhadap interaksi kaum gay di kota Malang juga pengalaman – pengalaman yang disampaikan oleh informan.
3.10Teknik Analisa Data
Peneliti menggunakan teknik analisis data fenomenologi Van Kaam (Engkus Kuswarno, 2009 : 69 - 70). Meliputi
- Proses horizonalisasi, yaitu penulisan hasil wawancara secara kasar (lampiran).
- Reduksi dan Eliminasi, yaitu memasukkan hal – hal penting dalam wawancara dan tidak mengikutsertakan yang tidak dibutuhkan (lampiran)
- Thematic Potrayal, yaitu pengelompokan hasil wawancara agar mempermudah penulisan hasil dengan membuat tema – tema(poin – poin ) besar beserta sub tema dalam paragraph.
- Individual Textural Description dengan memakai teknik Snow Ball penjelasan poin –poin berdasar para informan.
- Composite Textural Description merupakan analisis dan kalimat peneliti mulai masuk dengan menyertakan kalimat – kalimat akademis.
- Individual Structural Description dengan mengkorelasikan bahasa penulis dengan proses pengejawantahkan dengan kalimat karena sesuatu maka terjadisesuatu.
- Composite Structural Description
Penggabungan dari individual structural description
Hasil yang diperoleh dari proses ini adalah pure essence.
3.11 Instrumen Penelitian
Komunikasi antarpribadi sangat potensial untuk menjalankan fungsi instrumental sebagai alat untuk mempengaruhi atau membujuk orang lain, karena kita dapat menggunakan kelima alat indera kita untuk mempertinggi daya bujuk pesan yang kita komunikasikan kepada komunikan kita. Sebagai komunikasi yang paling lengkap dan paling sempurna, komunikasi antarpribadi berperan penting hingga kapanpun, selama manusia masih mempunyai emosi. Kenyataannya komunikasi tatap-muka ini membuat manusia merasa lebih akrab dengan sesamanya.
3.12Kerangka Pemikiran
Bentuk komunikasi verbal dan non verbal dikalalangan gay merupakan hasil dari proses interaksi kaum homoseksual yang yang membentuk sebuah kelompok atau komunitas. Komunitas tersebut sebagai sarana menunjukkan aktualisasi diri dari kaum yang dianggap marginal ini. Kaum homoseksual mulai berani untuk membuka diri dalam kehidupan sosialnya, sehingga masyarakat Indonesia yang notabene sebagai masyarakat yang agraris mulai sadar untuk menerima keberadaan mereka dengan segala kontroversi yang terjadi di dalamnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar