BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Jumlah perkembangan kaum gay di Indonesia menunjukkan kuantitas yang sangat signifikan. Hal ini dapat dibuktikan berdasarkan hasil survey sebuah yayasan yang menaungi gay, lesbian, waria, serta transgender di Jakarta yang mencatat terdapat 5000 gay dan lesbian hidup di Jakarta.
Belakangan ini kaum homoseksual khususnya kaum gay semakin berani untuk mengungkapkan keberadaan atau eksistensinya dalam masyarakat, hal ini ditandai dengan informasi-informasi yang berkembang di media massa tentang berita yang menceritakan kehidupan kaum gay sehingga menyebabkan berkembangnya kelompok-kelompok atau komunitas sebagai wadah aktualisasi yang dapat menampung aspirasi dan kreatifitas dari kaum yang dianggap marginal ini.
Sebenarnya komunitas gay sudah lama terbentuk di Indonesia. Pada tahun 1969 Himpunan Wadam Djakarta (HIWAD) merupakan kelompok yang menaungi kaum homoseksual di Jakarta, disusul dengan LAMBDA pada tanggal 1 Maret 1982 merupakan organisasi gay pertama yang terbuka di Indonesia bahkan di Asia dengan sekretariat yang berada di Solo, dengan waktu yang singkat terbentuklah cabang-cabangnya di Yogyakarta, Surabaya, Jakarta, dan tempat-tempat yang lain. Akibat dari munculnya organisasi LAMBDA, pada tahun 1992 terjadi ledakan berdirinya organisasi-organisasi gay di Jakarta, Bandung, Pekanbaru, dan Denpasar, dan tahun 1993 menyusul di Malang dan Ujungpandang. (Lihat http://www.eramuslim.com/berita/analisa/ tentang di-balik-keberanian-kongres-gay-di-surabaya.htm Oleh anonym Diakses pada tanggal 6 April 2010 pukul 20.35 WIB).
Maraknya dibentuk komunitas-komunitas yang mewadahi aktualisasi kaum gay di kota-kota besar seperti yang telah digambarkan di atas, membawa pengaruh juga pada sekelompok kaum gay di Malang untuk membuat sebuah komunitas yang formal yang bertajuk Ikatan Gay Malang atau IGAMA.
Menurut data yang peneliti peroleh dari Awal pembentukan organisasi ini dipelopori oleh Yoseph Abilsana yang dibantu oleh beberapa rekan-rekan sehati di Malang. Pada waktu itu ada sekitar dua belas (12) aktivis seperti Yoseph Abilsana, Didiet, Bram, Didiek, Angga, Adjie, dan yang lainnya secara bersama-sama berjuang untuk mendirikan organisasi untuk rekan-rekan yang memiliki kesamaan persepsi dan pandangan terhadap masalah kesehatan laki – laki.
Atas dukungan Dede Oetomo pendiri Gaya Nusantara (GN) Surabaya, akhirnya diresmikanlah organisasi IGAMA yang bertepatan dengan tanggal 01 April 1993. Akhirnya, secara resmi IGAMA didaftarkan ke Pengadilan Negeri Malang lewat notaris Sja'bany Bachry, SH yang berkedudukan di Jalan Mojopahit 3-A Malang dengan nomor Akte No. 32 Tanggal 27 Agustus 2002 oleh empat serangkai aktivis IGAMA (Mamad, Syaiful, Koko dan Henry).
Pada awal tebentuknya organisasi ini kegiatan awalnya hanya menjadi wadah bagi komunitas MSM untuk saling mengenal dan bersosialisasi, dengan ragam kegiatan yang terbatas seperti: arisan, acara rekreasi bersama, kegiatan pentas seni dan rapat anggota. Agar bisa diterima oleh semua kalangan dan semua elemen komunitas MSM serta masyarakat akhirnya dipilihlah konsep dengan format dan konsep baru, menjadi sebuah lembaga yang memberikan pelayanan dan support bagi seluruh komunitas MSM dari berbagai elemen dan kelompok, baik yang terbuka ataupun yang tertutup dengan berbagai program kegiatan, dalam kaitannya dengan kesehatan seksual laki-laki (termasuk program penanggulangan HIV/AIDS).
Dampak dari dibentuknya organisasi IGAMA yang telah diakui dan dipantenkan keberadaannya ini membawa pengaruh kepada keterbukaan kaum gay dalam menunjukkan eksistensinya dengan cara mereka membentuk suatu kelompok-kelompok non formal (gang) diantara kaum gay di kota Malang. Seperti gang Bidadari, gang Cantik, gang Lollypop, Keluarga Cendana, Keluarga Kelantan dan lain sebagainya. Kelompok-kelompok ini sebagai wadah untuk sarana interaksi dan komunikasi secara sosial diantara kaum gay yang tergabung di dalam gang tersebut. Dalam kelompok ini mereka juga mengembangkan bahasa-bahasa in group yaitu bahasa yang hanya dimengerti oleh sekelompok orang dalam suatu kelompok, yang diadaptasi dari bahasa gaul yang sudah tercipta sejak lama sebagai identitas dari kelompok atau gang mereka seperti capcus, rumput, lekong dan lain sebagainya.
Berdasarkan gambaran di atas peneliti mempunyai ketertarikan untuk mengetahui pola-pola interaksi dan komunikasi verbal dan non verbal yang digunakan oleh kaum gay khususnya di kota Malang ditinjau melalui Komunikasi antar Pribadi (KAP), saat mereka melakukan hubungan sosial baik internal di dalam kelompok sesama gay maupun di luar kelompok dalam artian masyarakat secara umum dengan menggunakan pendekatan fenomenologi yaitu pendekatan bagaimana melihat sebuah pengalaman secara sadar yang dialami seseorang dan.
1.2 Rumusan Masalah
1.2.1 Bagaimanakah kaum gay melakukan interaksi dan komunikasi verbal dan non verbal dengan sesama kaum gay ?
1.2.2 Bagaiamana kaum gay melakukan interaksi dan komunikasi verbal dan non verbal dengan lingkungan masyarakatnya?
1.3. Tujuan Penelitian
Berdasarkan latar belakang yang sudah disebutkan sebelumnya, tujuan dari penelitian ini adalah :
Untuk mengetahui pola-pola interaksi dan komunikasi verbal dan non verbal yang digunakan oleh kaum gay ditinjau melalui Komunikasi Antar Pribadi (KAP), saat mereka melakukan hubungan secara sosial dengan sesama gay di dalam suatu kelompok maupun masyarakat secara umum dengan menggunakan pendekatan fenomenologi.
1.4 Manfaat Penelitian
1.4.1 Teoritis
Menambah wacana baru tentang studi masalah fenomenologi khususnya pada ruang lingkup Komunikasi Antar Pribadi dalam mengkaji interaksi dan komunikasi kaum gay.
Dapat bermanfaat bagi perkembangan dan pendalaman studi komunikasi khususnya bagi peminat kajian kaum gay, sehingga mampu menjadi referensi bagi penelitian serupa dimasa yang akan datang
1.4.2 Praktis
Untuk menambah ilmu pengetahuan mengenai bagaimana kaum gay melakukan interaksi dan komunikasi verbal dan dan non verbal dengan rekan sesamanya dalam suatu kelompok dan lingkungan masyarakat secara umum.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar