Cari Blog Ini

Kamis, 04 Agustus 2011

Studi Fenomenologi Interaksi Kaum Gay di Kota Malang (Bab6) (MPK Danis-Adhar)

BAB VI
PEMBAHASAN


Penelitian interaksi kaum gay di kota Malang sempat menimbulkan perasaan takut peneliti sendiri akibat banyaknya stereotype negatif masyarakat tentang kehidupan mereka . Namun rasa ingintahu akan informasi dunia gay membuat peneliti memiliki semangat untuk menelitinya lebih dalam. Penggunaan metode fenomenologi dengan teknik pengumpulan data wawancara mendalam dengan informan yang berasal dari kaum gay menjadi langkah awal peneliti untuk mulai mengetahui kehidupan kaum gay dari segi siapa dan bagaimana kaum gay berinteraksi dengan sesamanya dalam sebuah kelompok atau komunitas serta interaksi kaum gay di dalam masyarakat (luar kelompok).
Proses wawancara yang dilakukan peneliti mengalami beragam situasi dan sempat menunjukkan antusias emosional beberapa informan yang ternyata cukup terbuka dalam memberikan informasi berdasarkan pengalaman yang pernah dilalui meskipun di awal perbincangan mengalami sedikit rasa enggan atau malu dalam mengungkapkan. Di sisi ,lain, ada juga informan yang justru membuka diri lebih awal untuk memberi informasi dengan antusiame yang tinggi.
Penjelasan mengenai kehidupan gay dari beberapa informan memberi pengertian tambahan tentang apa itu gay atau dalam bahasa lain disebut sering disebut binan. Gay sendiri juga memiliki klasifikasi yang ditinjau dari penyebutan pengelompokan yang berbeda ditinjau dari beberapa segi.
Dari segi orientasi seksual yang mengarah pada suatu hubungan (in relationship), gay dibedakan menjadi tiga, yaitu :
- Product top, yang terdiri dari kaum gay yang cenderung ke arah maskulin, kelihatan normal seperti laki – laki pada umumnya.
Biasanya berperan sebagai “laki - laki” dalam hubungan pacaran.
- Product bot (bottom), yang terdiri dari kaum gay yang cenderung kemayu/ kewanita – wanitaan, feminin, dan suka dandan dalam arti memakai bedak, alis dibentuk, memakai lip gloss.
Biasanya berperan sebagai “wanita” dalam hubungan pacaran.
- Product verse, yang terdiri dari kaum gay yang tidak menempatkan diri pada posisi “”laki – laki” atau “wanita”, bersifat fleksibel.
Pembedaan ini berlaku atas kesepakatan awal saat seorang gay mendeklarasikan diri sebagai gay, ataupun saat menjalani sebuah hubungan khusus.

Ditinjau dari kesetaraan status dapat dilihat dari segi edukasi. Kaum gay yang memiliki tingkat edukasi tinggi seperti seorang siswa, mahasiswa atau bekerja di sebuah perusahaan baik swasta maupun milik negara tergabung dalam gay dengan predikat high education dan cenderung tertutup bahkan terbuka dengan sesamanya. Ada juga kaum gay yang termasuk dalam low education yang didapati sering menjual diri untuk faktor pemenuhan ekonomi.
Ada juga informan yang mengelompokkan kaum gay berdasarkan pengungkapan diri dalam masyarakat. Yaitu :
- Gay terbuka, yaitu golongan kaum gay yang memiliki sifat feminine lebih tinggi. Tingkah laku dari cara jalan, cara berbicara dan cara berdiri di depan umum dapat terlihat tanpa mereka harus mengungkapkan jati diri sebenarnya, khususnya akan terlihat khusus oleh sesamanya.
Dan kerap menggunakan bahasa khusus mereka di dalam masyarakat.
- Gay tertutup (discreet), yaitu golongan kaum gay yang maskulin, sehingga tidak kentara bahawa dia sebenarnya adalah gay. Karena mereka akan bersikap selayaknya seorang laki-laki.
Pengelompokkan tersebut dapat diperoleh dari pembukaan diri seorang gay atau kelompok gay terhadap orang – orang di dalam komunitas gay atau orang – orang awam dalam masyarakat yang dipercaya.
Sikap tersebut dinamakan self disclosure (pembukaan diri).
Menurut Jhon H. Harvey dan William P. Smith, sikap adalah kesiapan merespon secara konsisten dalam bentuk positif atau negatif terhadap objek atau situasi.
Penjelasan dari informan yang mampu menjadi perwakilan kaum gay dalam menjelaskan alasan mereka menjadi seorang gay, juga diakibatkan suatu peristiwa, seperti dalam lingkungan baik di keluarga maupun dimana dia bergaul, dan keterpaksaan kondisi, misalnya putus dari pacar menyebabkan perubahan sikap. Perubahan sikap pun terjadi karena beberapa faktor, yaitu faktor intern. Faktor yang terdapat dalam pribadi manusia itu sendiri. Faktor ini berupa selectivity atau daya pilih seseorang untuk menerima dan mengolah pengaruh – pengaruh yang datang dari luar. Faktor ekstern juga berpengaruh. Faktor ini terdapat di luar pribadi manusia dan berupa interaksi sosial di luar kelompok. misalnya interaksi antara manusia yang dengan hasil kebudayaan manusia.

Gay, dalam penjelasan para informan, secara langsung akan tergabung di dalam komunitas khusus yang dalam penelitian ini untuk informan yang mengaku sebagai gay tertutup tidak tergabung dalam sebuah komunitas khusus. Mereka lebih nyaman untuk menutup diri dan akan melakukan interaksi apabila bertemu dengan sesamanya tanpa harus menunjukkan sikapnya seperti gay terbuka.
Hal tersebut dapat diperdalam melalui teori interaksi simbolikyang membahas konsep mengenai “interaksi“, baik interaksi dengan diri sendiri maupun interaksi dengan orang lain atau antar individu. Interaksi dalam hal ini ditentukan oleh pertukaran symbol dalam situasi tertentu dan dalam interaksi ini seseorang akan melakukan proses interaksi berdasarkan pesan verbal maupun non-verbal yang ia tangkap. Interaksi juga dapat dimaknai sebagai suatu proses karena berlangsung secara terus menerus, tidak akan berhenti, dan berkelanjutan berdasarkan feedback atau umpan balik dan ekspektasi atau harapan (tujuan) peserta interaksi pada situasi tertentu.
Interaksi sebagai suatu rangkaian pemikiran dan perilaku yang dilakukan secara sadar berdasarkan pada rangsangan dan respons. Tujuandari interaksi menurut SI, adalah untuk menciptakan makna yang sama.(West and Turner, 2008 : 99)
Makna tersebut dibentuk melalui komunikasi dalam proses interaksi berdasarkan kesepakatan, pendefinisan atau pengertian antara peserta interaksi sehingga makna yang diberikan terhadap suatu simbol tidak bersifat intrinsic atau mutlak.
Seorang gay dalam menjalin sebuah hubungan dengan sesame gay dan melakukan aktivitas bersama, memerlukan sebuah kesepakatan dan konsep diri, yang merupakan suatu perspektif atau pandangan dan pengetahuan yang relative stabil yang dipercaya orang mengenai dirinya sendiri. Konsep diri berdasarkan teori interaksi simbolik menggambarkan individu dengan diri yang aktif, didasarkan pada konteks social dan interaksi social dengan orang lain.
. Melalui konsep diri kita dapat melakukan prediksi akan pemenuhan diri (self-fullfilling prophecy) yaitu prediksi mengenai diri kita sendiri yang menyebabkan kita berperilaku sedemikian sehingga hal tersebut atau apa yang kita harapkan benar-benar terjadi.
Dalam teori Interaksi Simbolik terdapat 3 hal penting menurut pemikiran Mead. Antara lain self, mind dan society. Self : di dalam konsep diri terdapat kemampuan kita untuk melihat sebagaimana diri kita dilihat oleh orang lain (looking-glass self). Melalui bahasa yang digunakan, seseorang dapat melihat dirinya sebagai subyek (I) dan sebagai obyek (Me), konsep diri sebagai subyek maksudnya kita berperan aktif untuk bertindak dan berperilaku yang lebih bersifat spontan, impulsive, dan kreatif. Sedangkan sebagai obyek kita dapat mengamati perilaku dan tindakan kita sendiri yang bersifat reflektif dan peka terhadap lingkungan sosial.
Mead mendefinisikan pikiran (mind) sebagai kemampuan untuk menggunakan simbol yang mempunyai makna yang sosial yang sama. (West dan Turner, 2008 : 104)
Society yaitu masyarakat sebagai jaringan/struktur social yang diciptakan manusia. Interaksi yang terjadi dalam masyarakat bersifat dinamis dalam hal ini dikenal suatu istilah yaitu Particular Others dan Generalized Others. Paritcular others merujuk pada individu (perilaku/tindakan) dalam interaksi kita melihat pada perilaku orang lain agar kita juga dapat diterima secara social, sedangkan generalized others merujuk pada cara pandang dari sebuah kelompok social atau budaya sebagai satu keseluruhan.
Pada saat wawancara berlangsung pada keempat informan, peneliti mengamati dari tingkah laku dan berdasar informasi yang disampaikan mereka menerapkan teori ini..
Mereka mengalami seperti halnya harapan dari Jendela Johari (Johari Window), yaitu Open Self mendapat tempat terbesar dibandingkan dengan Blind Self, Unknown Self dan Blank Self.
Daerah terbuka (Open Self) berisikan semua informasi, perilaku, sikap, perasaan, keinginan, motivasi, gagasan, dan sebagainya yang diketahui oleh diri sendiri dan oleh orang lain. (Joseph A.Devito, 2008 : 57) . Peneliti merasakan mereka memang akan terbuka ketika rasa nyaman dalam berkomunikasi. Sehingga informasi yang diperoleh juga sesuai.
Interaksi kaum gay, khususnya bagi mereka yang berkelompok menjadikan rasa nyaman dan keterbukaan berlangsung di dalamnya. Adegan curhat adalah salah satu hal yang paling digemari kaum gay mengingat mereka juga berasal dari latar belakang yang hampir sama. Kelompok itu menyadari bahwa komunikasi antar pribadi sangat berpengaruh dalam menjaga solidaritas kelompok.
- Abraham Maslow (dalam hall ) dan Lindsey, 1978; papilia, olds, dan feld man, 1998 ; Wallace 1993) mengemukakan bahwa pada prinsipnya pembentukan dan perkembangan kepribadian manusia didasari untuk memenuhi kebutuhan – kebutuhan hidupnya. Dorongan u memenuhi kebutuhan tersebut menyebabkan individu bergerak mengarahkan perilakunya guna mencapai kepuasan, baik kepuasan yang bersifat fisiologis , psikologis maupun sosiologis (122-123)

Kelompok atau komunitas gay ternyata memiliki budaya khusus di setiap kelompok yang berbeda. Di kota Malang banyak sekali komunitas kaum gay dengan berbagai nama yang unik serta aktivitas yang beragam. Hal ini sesuai dengan sebuah teori. Pada jantung dari Teori Budaya Organisasi adalah keyakinan bahwa organisasi memiliki berbagai simbol, ritual, dan nilai yang membuatnya unik.(West dan Turner, 2008 : 319)
Peninjauan mendalam peneliti adalah dilihat dari segi komunikasi yang digunakan yaitu komunikasi verbal dan non verbal yang dilakukan di dalam kelompok. Maupun seorang gay di dalam masyarakat (luar kelompok).
Komunikasi verbal yang dilakukan oleh komunitas gay di dalam kelompok memiliki sebuah keunikan pemakaian bahasa, yang disebut sebagai bahasa gaul. Informan bercerita bahasa – bahasa khusus tersebut memang sudah ada yaitu berasal dari bahasa gaul Derby Sehertian. Budaya salon seperti penuturan informan kunci yang bercerita pernah mendatangi salon yang memiliki pegawai waria. Pada saat itu, informan kunci peneliti secara langsung bagaimana para waria bertutur kata dengan menggunakan bahasa gaul. Bahasa gay pun ternyata juga tidak jauh dari bahasa gaul Derby Sehertian. Hanya saja beberapa orang dari komunitas mengembangkan dengan kekreativitasan mereka untuk membuat bahasa baru untuk kaum gay.
Contohnya jajaran genjang ketumbar yang berarti janjian ketemuan (Derby Sehertian, 2000 : 3).
Peneliti menyertakan bahasa gaul dengan rumus – rumus khusus. Contoh kombinasi “e+ong” seperti sakit menjadi sekong atau laki-laki menjadi lekong (Indari Mastuti, 2008 : 60). Kaum gay juga bisa membuat bahasa – bahasa baru seperti yang dituturkan informan, misalnya “sis”. Artinya siapa seseorang yang menarik di sana (laki - laki).
Pemakaian bahasa gay di Jawa Timur memiliki kesamaan hampir di komunitas gay di berbagai wilayah di Jawa Timur, karena seorang gay yang berasal dari sebuah komunitas pasti memiliki teman sesama gay yang berasal dari luar daerah. Tapi penggunaan bahasa gay itu tidak sama antar provinsi. Misalnya menyebut (maaf) alat kelamin seorang laki – laki. Di Jawa Timur kaum gay menyebutnya dengan kenti, berbeda dengan komunitas gay di Jawa Tengah dan Jakarta yang menyebutnya dengan kontraktor dan kentongan.
Tujuan dari penggunaan bahasa ini adalah sebagai tanda. Orang awampun juga sering menggunakan bahasa – bahasa seperti itu misalnya capcuz yang berarti ayo, atau rumput yang berarti kamu banyak bicara (cerewet) dengan kondisi gemas pada saat berbicara.
Komunikasi nonverbal dalam komunitas gay juga memiliki tujuan yang sama yaitu memberikan tanda bahwa mereka adalah gay pada sesama gay, menyembunyikan maksud pembicaraan pada orang di luar komunitas gay, serta membedakan kedekatan antar anggota maupun kelompok berbeda dalam satu komunitas.Contohnya, pada saat seorang gay bertemu dengan laki – laki yang menarik, dia akan mengkomunikasikan terhadap temannya sambil menjulurkan lidah ke arah obyek, namun lidah tetap berada di rongga mulut, seakan – akan mengulum sesuatu.
Contoh lain adalah penggunaan aksesoris pada tubuh seperti cincin di kelingking, anting –anting di telinga kanan, serta pemakaian baju dengan warna yang mencolok, berkerah V-neck, ataupun gaya rambut klimis. Tatapan mata seorang gay apabila tertarik dengan seorang laki – laki, mereka akan menatap lebih lama, yaitu lebih dari 3 detik atau curi – curi pandang, sambil mengerlingkan matanya untuk titik ekstrim. Pada saat bicara pun mulut dapat menunjukkan bahwa dia gay atau bukan.
Setiap gay memiliki kemampuan khusus mendeteksi gay lain yang disebut gaydar.

Interaksi kaum gay ternyata tidak hanya sebatas melalui interaksi secara langsung, tapi juga melalui media massa. Media massa terdiri dari : (1). Media cetak, yaitu surat kabar dan majalah; (2). Media elektronik, yaitu radio siaran, televisi, dan media online (internet). (Elvinaro Ardianto,dkk, 2007 : 40). Para informan bercerita bahwa kebanyakan dari mereka khususnya gay tertutup (discreet), kebanyakan berkomunikasi untuk melanjutkan sebuah hubungan melalui situs jejaring Facebook.
Sebuah informasi penting yang diperoleh peneliti dari para informan adalah kelanjutan kehidupan seorang gay dalam kehidupannya di keluarga. Banyak keluarga dari para gay yang belum tahu tentang kehidupan anggota keluarga mereka yang menjadi seorang gay. Apabila ketahuan pasti akan nada permasalahan yang cukup besar dihadapi. Tapi tidak menutup kemungkinan, keluarga dari para gay menerima kondisi yang sebenarnya.
Orientasi seks sejenis dianggap berlaku untuk selamanya dan tidak bisa bereproduksi. Memang bagi beberapa orang demikianlah yang terjadi. Beberapa gay yang saya temui tetap berorientasi homoseks sepanjang hidupnya. Sebaliknya, ada juga yang dulu hanya melakukan hubungan heteroseks, namun setelah mencoba hubungan homoseks dan merasakan kenikmatan yang lebih dari kenikmatan hubungan heteroseks, untuk selanjutnya orientasi seks-nya adalh homoseks (Femy Ratnasari, dkk, 2008 : 123). Apabila seorang gay ingin sembuh atau kembali ke kehidupan yang normal, diperlukan waktu yang cukup lama serta komitmen dari diri sendiri. Akan tetapi berdasarkan penuturan para informan yang mendapat informasi yang valid, seorang gay yang memutuskan untuk menikah dengan seorang wanita pun akan susah untuk menghilangkan orientasi seksualitasnya sebagai seorang gay. Perceraian menjadi akhir dari pernikahan mereka.





Tidak ada komentar:

Posting Komentar