Cari Blog Ini

Kamis, 04 Agustus 2011

Studi Fenomenologi Interaksi Kaum Gay di Kota Malang (Bab7 + DafPus) (MPK Danis-Adhar)

BAB VII
PENUTUP

7.1 Kesimpulan
Komunitas gay di kota Malang memiliki berbagai warna kehidupan terlihat dari interaksi yang dilakukan baik di dalam kelompok gay juga dengan lingkungan. Bahasa yang digunakan menunjukkan sebuah tanda bahwa mereka adalah gay di dalam kelompok atau anggota di luar kelompok dalam komunitas gay.
Bahasa verbal adalah yang sering diucapkan, dan menjadi bahasa dalam kelompok ketika membahas sesuatu. Bahasa ini merupakan bahasa gaul ala Debby Sehertian yang dikreasikan kembali.
Bahasa nonverbal ditunjukkan melalui sikap dan penampilan para kaum gay, yang diinterpretasikan oleh kaumnya sendiri juga kadangkala diikuti oleh masyarakat umum.
Persaingan antar kelompok memicu mereka mencari anggota gay baru. Tujuannya adalah saat mereka mencari pasangan dan mengaktualisasikan diri.
Sisi positif dari komunitas gay adalah kepedulian mereka terhadap bahaya AIDS, sehingga mereka sering mengadakan pertemuan rutin buakan hanya untuk inter kelompok tapi juga masyarakat secara umum.

7.2 Saran
Dalam interaksi baik di dalam maupun di luar kelompok, kaum gay diharapkan dapat menyesuaikan dengan konteks interaksi khususnya dalam komunikasi yaitu tempat, waktu, kapan dan dimana serta dengan siapa.
Masyarakat secara umum dalam menanggapi bahasa tersebut harus lebih selektif agar menghindari bahasa baik verbal maupun non verbal yang kurang sesuai dengan masyarakat.
Seharusnya dalam kelompok gay yang termasuk dalam kelompok marginal tidak perlu bersaing agar terhindar dari asumsi negatif masyarakat. Dan bagi masyarakat harus lebih peka dan menjaga diri dari segala pengaruh yang secara tidak langsung diberikan oleh komunitas kaum gay,khususnya kota Malang.
Masyarakat harus lebih terbuka pola pikir dengan tidak mendiskriminasi kaum gay.


DAFTAR PUSTAKA

Ardianto, Elvinaro dkk.. 2007. Komunikasi Massa Suatu Pengantar. Bandung : Refika Offset
Dariyo, Agoes. 2003 . Psikologi Perkembangan Dewasa Muda. Jakarta : PT Gramedia Widiasarana Indonesia 
 
Daymon, Christine and Immy Holloway. 2008. Metode-metode Riset Komunikasi dalam Public Relations dan Marketing Communications. Terjemahan oleh Cahya Wiratama. Yogyakarta: Bentang

Devito, Joseph A. 1997. Komunikasi Antar Manusia. Jakarta : Proffesional Book

Effendy,Onong. 1994, Ilmu Komunikasi: Teori dan Praktek, Bandung, Remaja Rosdakarya

Kriyantono, Rachmat. 2007. Teknik Praktis: Riset Komunikasi. Jakarta: Kencana Prenada Media Group

Mastuti Indah , 2008. Bahasa baku vs Bahasa Gaul. Jakarta :Highfest Publishing

Mulyana, Deddy. 2005, Ilmu Komunikasi: Suatu Pengantar, Bandung, Remaja Rosdakarya.

Rakhamat, Jalaludin. 2007, Metode Penelitian Komunikasi, Bandung, Remaja Rosdakarya.

Retnasari, Femy,dkk. 2008. Ada di Lingkaran Luar Kisah Seksualitas Orang Muda. Surabaya : KSGK (Kelompok Studi Gender dan Kesehatan) dan Fakultas Psikologi UBAYA

Turner dan West. 2008. Pengantar Teori Komunikasi, Edisi 3. Jakarta : Penerbit Salemba Humanika

http://veggy.wetpaint.com/page/Fenomenologi,+Hermeneutika+dan+Positivisme
http://rottee.wordpress.com/2008/08/01/fenomena-komunitas-homoseksual-studi-fenomenologis-komunikasi-verbal-dan-nonverbal-di-kalangan-gay-terselubung-di-kota-medan/
http://www.lusa.web.id/komunikasi-antar-pribadi-interpersonal-communication/
http://gayindo.forumotion.net/pojok-ruang-room-corner-f4/ciri-ciri-lelaki-gay-t4519-72.htm





Studi Fenomenologi Interaksi Kaum Gay di Kota Malang (Bab6) (MPK Danis-Adhar)

BAB VI
PEMBAHASAN


Penelitian interaksi kaum gay di kota Malang sempat menimbulkan perasaan takut peneliti sendiri akibat banyaknya stereotype negatif masyarakat tentang kehidupan mereka . Namun rasa ingintahu akan informasi dunia gay membuat peneliti memiliki semangat untuk menelitinya lebih dalam. Penggunaan metode fenomenologi dengan teknik pengumpulan data wawancara mendalam dengan informan yang berasal dari kaum gay menjadi langkah awal peneliti untuk mulai mengetahui kehidupan kaum gay dari segi siapa dan bagaimana kaum gay berinteraksi dengan sesamanya dalam sebuah kelompok atau komunitas serta interaksi kaum gay di dalam masyarakat (luar kelompok).
Proses wawancara yang dilakukan peneliti mengalami beragam situasi dan sempat menunjukkan antusias emosional beberapa informan yang ternyata cukup terbuka dalam memberikan informasi berdasarkan pengalaman yang pernah dilalui meskipun di awal perbincangan mengalami sedikit rasa enggan atau malu dalam mengungkapkan. Di sisi ,lain, ada juga informan yang justru membuka diri lebih awal untuk memberi informasi dengan antusiame yang tinggi.
Penjelasan mengenai kehidupan gay dari beberapa informan memberi pengertian tambahan tentang apa itu gay atau dalam bahasa lain disebut sering disebut binan. Gay sendiri juga memiliki klasifikasi yang ditinjau dari penyebutan pengelompokan yang berbeda ditinjau dari beberapa segi.
Dari segi orientasi seksual yang mengarah pada suatu hubungan (in relationship), gay dibedakan menjadi tiga, yaitu :
- Product top, yang terdiri dari kaum gay yang cenderung ke arah maskulin, kelihatan normal seperti laki – laki pada umumnya.
Biasanya berperan sebagai “laki - laki” dalam hubungan pacaran.
- Product bot (bottom), yang terdiri dari kaum gay yang cenderung kemayu/ kewanita – wanitaan, feminin, dan suka dandan dalam arti memakai bedak, alis dibentuk, memakai lip gloss.
Biasanya berperan sebagai “wanita” dalam hubungan pacaran.
- Product verse, yang terdiri dari kaum gay yang tidak menempatkan diri pada posisi “”laki – laki” atau “wanita”, bersifat fleksibel.
Pembedaan ini berlaku atas kesepakatan awal saat seorang gay mendeklarasikan diri sebagai gay, ataupun saat menjalani sebuah hubungan khusus.

Ditinjau dari kesetaraan status dapat dilihat dari segi edukasi. Kaum gay yang memiliki tingkat edukasi tinggi seperti seorang siswa, mahasiswa atau bekerja di sebuah perusahaan baik swasta maupun milik negara tergabung dalam gay dengan predikat high education dan cenderung tertutup bahkan terbuka dengan sesamanya. Ada juga kaum gay yang termasuk dalam low education yang didapati sering menjual diri untuk faktor pemenuhan ekonomi.
Ada juga informan yang mengelompokkan kaum gay berdasarkan pengungkapan diri dalam masyarakat. Yaitu :
- Gay terbuka, yaitu golongan kaum gay yang memiliki sifat feminine lebih tinggi. Tingkah laku dari cara jalan, cara berbicara dan cara berdiri di depan umum dapat terlihat tanpa mereka harus mengungkapkan jati diri sebenarnya, khususnya akan terlihat khusus oleh sesamanya.
Dan kerap menggunakan bahasa khusus mereka di dalam masyarakat.
- Gay tertutup (discreet), yaitu golongan kaum gay yang maskulin, sehingga tidak kentara bahawa dia sebenarnya adalah gay. Karena mereka akan bersikap selayaknya seorang laki-laki.
Pengelompokkan tersebut dapat diperoleh dari pembukaan diri seorang gay atau kelompok gay terhadap orang – orang di dalam komunitas gay atau orang – orang awam dalam masyarakat yang dipercaya.
Sikap tersebut dinamakan self disclosure (pembukaan diri).
Menurut Jhon H. Harvey dan William P. Smith, sikap adalah kesiapan merespon secara konsisten dalam bentuk positif atau negatif terhadap objek atau situasi.
Penjelasan dari informan yang mampu menjadi perwakilan kaum gay dalam menjelaskan alasan mereka menjadi seorang gay, juga diakibatkan suatu peristiwa, seperti dalam lingkungan baik di keluarga maupun dimana dia bergaul, dan keterpaksaan kondisi, misalnya putus dari pacar menyebabkan perubahan sikap. Perubahan sikap pun terjadi karena beberapa faktor, yaitu faktor intern. Faktor yang terdapat dalam pribadi manusia itu sendiri. Faktor ini berupa selectivity atau daya pilih seseorang untuk menerima dan mengolah pengaruh – pengaruh yang datang dari luar. Faktor ekstern juga berpengaruh. Faktor ini terdapat di luar pribadi manusia dan berupa interaksi sosial di luar kelompok. misalnya interaksi antara manusia yang dengan hasil kebudayaan manusia.

Gay, dalam penjelasan para informan, secara langsung akan tergabung di dalam komunitas khusus yang dalam penelitian ini untuk informan yang mengaku sebagai gay tertutup tidak tergabung dalam sebuah komunitas khusus. Mereka lebih nyaman untuk menutup diri dan akan melakukan interaksi apabila bertemu dengan sesamanya tanpa harus menunjukkan sikapnya seperti gay terbuka.
Hal tersebut dapat diperdalam melalui teori interaksi simbolikyang membahas konsep mengenai “interaksi“, baik interaksi dengan diri sendiri maupun interaksi dengan orang lain atau antar individu. Interaksi dalam hal ini ditentukan oleh pertukaran symbol dalam situasi tertentu dan dalam interaksi ini seseorang akan melakukan proses interaksi berdasarkan pesan verbal maupun non-verbal yang ia tangkap. Interaksi juga dapat dimaknai sebagai suatu proses karena berlangsung secara terus menerus, tidak akan berhenti, dan berkelanjutan berdasarkan feedback atau umpan balik dan ekspektasi atau harapan (tujuan) peserta interaksi pada situasi tertentu.
Interaksi sebagai suatu rangkaian pemikiran dan perilaku yang dilakukan secara sadar berdasarkan pada rangsangan dan respons. Tujuandari interaksi menurut SI, adalah untuk menciptakan makna yang sama.(West and Turner, 2008 : 99)
Makna tersebut dibentuk melalui komunikasi dalam proses interaksi berdasarkan kesepakatan, pendefinisan atau pengertian antara peserta interaksi sehingga makna yang diberikan terhadap suatu simbol tidak bersifat intrinsic atau mutlak.
Seorang gay dalam menjalin sebuah hubungan dengan sesame gay dan melakukan aktivitas bersama, memerlukan sebuah kesepakatan dan konsep diri, yang merupakan suatu perspektif atau pandangan dan pengetahuan yang relative stabil yang dipercaya orang mengenai dirinya sendiri. Konsep diri berdasarkan teori interaksi simbolik menggambarkan individu dengan diri yang aktif, didasarkan pada konteks social dan interaksi social dengan orang lain.
. Melalui konsep diri kita dapat melakukan prediksi akan pemenuhan diri (self-fullfilling prophecy) yaitu prediksi mengenai diri kita sendiri yang menyebabkan kita berperilaku sedemikian sehingga hal tersebut atau apa yang kita harapkan benar-benar terjadi.
Dalam teori Interaksi Simbolik terdapat 3 hal penting menurut pemikiran Mead. Antara lain self, mind dan society. Self : di dalam konsep diri terdapat kemampuan kita untuk melihat sebagaimana diri kita dilihat oleh orang lain (looking-glass self). Melalui bahasa yang digunakan, seseorang dapat melihat dirinya sebagai subyek (I) dan sebagai obyek (Me), konsep diri sebagai subyek maksudnya kita berperan aktif untuk bertindak dan berperilaku yang lebih bersifat spontan, impulsive, dan kreatif. Sedangkan sebagai obyek kita dapat mengamati perilaku dan tindakan kita sendiri yang bersifat reflektif dan peka terhadap lingkungan sosial.
Mead mendefinisikan pikiran (mind) sebagai kemampuan untuk menggunakan simbol yang mempunyai makna yang sosial yang sama. (West dan Turner, 2008 : 104)
Society yaitu masyarakat sebagai jaringan/struktur social yang diciptakan manusia. Interaksi yang terjadi dalam masyarakat bersifat dinamis dalam hal ini dikenal suatu istilah yaitu Particular Others dan Generalized Others. Paritcular others merujuk pada individu (perilaku/tindakan) dalam interaksi kita melihat pada perilaku orang lain agar kita juga dapat diterima secara social, sedangkan generalized others merujuk pada cara pandang dari sebuah kelompok social atau budaya sebagai satu keseluruhan.
Pada saat wawancara berlangsung pada keempat informan, peneliti mengamati dari tingkah laku dan berdasar informasi yang disampaikan mereka menerapkan teori ini..
Mereka mengalami seperti halnya harapan dari Jendela Johari (Johari Window), yaitu Open Self mendapat tempat terbesar dibandingkan dengan Blind Self, Unknown Self dan Blank Self.
Daerah terbuka (Open Self) berisikan semua informasi, perilaku, sikap, perasaan, keinginan, motivasi, gagasan, dan sebagainya yang diketahui oleh diri sendiri dan oleh orang lain. (Joseph A.Devito, 2008 : 57) . Peneliti merasakan mereka memang akan terbuka ketika rasa nyaman dalam berkomunikasi. Sehingga informasi yang diperoleh juga sesuai.
Interaksi kaum gay, khususnya bagi mereka yang berkelompok menjadikan rasa nyaman dan keterbukaan berlangsung di dalamnya. Adegan curhat adalah salah satu hal yang paling digemari kaum gay mengingat mereka juga berasal dari latar belakang yang hampir sama. Kelompok itu menyadari bahwa komunikasi antar pribadi sangat berpengaruh dalam menjaga solidaritas kelompok.
- Abraham Maslow (dalam hall ) dan Lindsey, 1978; papilia, olds, dan feld man, 1998 ; Wallace 1993) mengemukakan bahwa pada prinsipnya pembentukan dan perkembangan kepribadian manusia didasari untuk memenuhi kebutuhan – kebutuhan hidupnya. Dorongan u memenuhi kebutuhan tersebut menyebabkan individu bergerak mengarahkan perilakunya guna mencapai kepuasan, baik kepuasan yang bersifat fisiologis , psikologis maupun sosiologis (122-123)

Kelompok atau komunitas gay ternyata memiliki budaya khusus di setiap kelompok yang berbeda. Di kota Malang banyak sekali komunitas kaum gay dengan berbagai nama yang unik serta aktivitas yang beragam. Hal ini sesuai dengan sebuah teori. Pada jantung dari Teori Budaya Organisasi adalah keyakinan bahwa organisasi memiliki berbagai simbol, ritual, dan nilai yang membuatnya unik.(West dan Turner, 2008 : 319)
Peninjauan mendalam peneliti adalah dilihat dari segi komunikasi yang digunakan yaitu komunikasi verbal dan non verbal yang dilakukan di dalam kelompok. Maupun seorang gay di dalam masyarakat (luar kelompok).
Komunikasi verbal yang dilakukan oleh komunitas gay di dalam kelompok memiliki sebuah keunikan pemakaian bahasa, yang disebut sebagai bahasa gaul. Informan bercerita bahasa – bahasa khusus tersebut memang sudah ada yaitu berasal dari bahasa gaul Derby Sehertian. Budaya salon seperti penuturan informan kunci yang bercerita pernah mendatangi salon yang memiliki pegawai waria. Pada saat itu, informan kunci peneliti secara langsung bagaimana para waria bertutur kata dengan menggunakan bahasa gaul. Bahasa gay pun ternyata juga tidak jauh dari bahasa gaul Derby Sehertian. Hanya saja beberapa orang dari komunitas mengembangkan dengan kekreativitasan mereka untuk membuat bahasa baru untuk kaum gay.
Contohnya jajaran genjang ketumbar yang berarti janjian ketemuan (Derby Sehertian, 2000 : 3).
Peneliti menyertakan bahasa gaul dengan rumus – rumus khusus. Contoh kombinasi “e+ong” seperti sakit menjadi sekong atau laki-laki menjadi lekong (Indari Mastuti, 2008 : 60). Kaum gay juga bisa membuat bahasa – bahasa baru seperti yang dituturkan informan, misalnya “sis”. Artinya siapa seseorang yang menarik di sana (laki - laki).
Pemakaian bahasa gay di Jawa Timur memiliki kesamaan hampir di komunitas gay di berbagai wilayah di Jawa Timur, karena seorang gay yang berasal dari sebuah komunitas pasti memiliki teman sesama gay yang berasal dari luar daerah. Tapi penggunaan bahasa gay itu tidak sama antar provinsi. Misalnya menyebut (maaf) alat kelamin seorang laki – laki. Di Jawa Timur kaum gay menyebutnya dengan kenti, berbeda dengan komunitas gay di Jawa Tengah dan Jakarta yang menyebutnya dengan kontraktor dan kentongan.
Tujuan dari penggunaan bahasa ini adalah sebagai tanda. Orang awampun juga sering menggunakan bahasa – bahasa seperti itu misalnya capcuz yang berarti ayo, atau rumput yang berarti kamu banyak bicara (cerewet) dengan kondisi gemas pada saat berbicara.
Komunikasi nonverbal dalam komunitas gay juga memiliki tujuan yang sama yaitu memberikan tanda bahwa mereka adalah gay pada sesama gay, menyembunyikan maksud pembicaraan pada orang di luar komunitas gay, serta membedakan kedekatan antar anggota maupun kelompok berbeda dalam satu komunitas.Contohnya, pada saat seorang gay bertemu dengan laki – laki yang menarik, dia akan mengkomunikasikan terhadap temannya sambil menjulurkan lidah ke arah obyek, namun lidah tetap berada di rongga mulut, seakan – akan mengulum sesuatu.
Contoh lain adalah penggunaan aksesoris pada tubuh seperti cincin di kelingking, anting –anting di telinga kanan, serta pemakaian baju dengan warna yang mencolok, berkerah V-neck, ataupun gaya rambut klimis. Tatapan mata seorang gay apabila tertarik dengan seorang laki – laki, mereka akan menatap lebih lama, yaitu lebih dari 3 detik atau curi – curi pandang, sambil mengerlingkan matanya untuk titik ekstrim. Pada saat bicara pun mulut dapat menunjukkan bahwa dia gay atau bukan.
Setiap gay memiliki kemampuan khusus mendeteksi gay lain yang disebut gaydar.

Interaksi kaum gay ternyata tidak hanya sebatas melalui interaksi secara langsung, tapi juga melalui media massa. Media massa terdiri dari : (1). Media cetak, yaitu surat kabar dan majalah; (2). Media elektronik, yaitu radio siaran, televisi, dan media online (internet). (Elvinaro Ardianto,dkk, 2007 : 40). Para informan bercerita bahwa kebanyakan dari mereka khususnya gay tertutup (discreet), kebanyakan berkomunikasi untuk melanjutkan sebuah hubungan melalui situs jejaring Facebook.
Sebuah informasi penting yang diperoleh peneliti dari para informan adalah kelanjutan kehidupan seorang gay dalam kehidupannya di keluarga. Banyak keluarga dari para gay yang belum tahu tentang kehidupan anggota keluarga mereka yang menjadi seorang gay. Apabila ketahuan pasti akan nada permasalahan yang cukup besar dihadapi. Tapi tidak menutup kemungkinan, keluarga dari para gay menerima kondisi yang sebenarnya.
Orientasi seks sejenis dianggap berlaku untuk selamanya dan tidak bisa bereproduksi. Memang bagi beberapa orang demikianlah yang terjadi. Beberapa gay yang saya temui tetap berorientasi homoseks sepanjang hidupnya. Sebaliknya, ada juga yang dulu hanya melakukan hubungan heteroseks, namun setelah mencoba hubungan homoseks dan merasakan kenikmatan yang lebih dari kenikmatan hubungan heteroseks, untuk selanjutnya orientasi seks-nya adalh homoseks (Femy Ratnasari, dkk, 2008 : 123). Apabila seorang gay ingin sembuh atau kembali ke kehidupan yang normal, diperlukan waktu yang cukup lama serta komitmen dari diri sendiri. Akan tetapi berdasarkan penuturan para informan yang mendapat informasi yang valid, seorang gay yang memutuskan untuk menikah dengan seorang wanita pun akan susah untuk menghilangkan orientasi seksualitasnya sebagai seorang gay. Perceraian menjadi akhir dari pernikahan mereka.





Studi Fenomenologi Interaksi Kaum Gay di Kota Malang (Bab5) (MPK Danis-Adhar)

BAB V
PENGALAMAN INTERAKSI GAY

Pada bab ini penelitian interaksi kaum gay di kota Malang menggunakan beberapa tahapan dalam proses analisis. Metode analisis data fenomenologi Van Kaam.

5.1 Thematic Potrayal
Thematic potrayal merupakan proses pengelompokan tema hasil wawancara berdasarkan jenis dan ragam pertanyaan yang diungkapkan pada informan. Tujuannya adalah mempermudah peneliti dalam spesifikasi data. Sebelum thematic potrayal, peneliti terlebih dahulu melakukan proses horizonalisasi yaitu penulisan kembali hasil wawancara dalam bentuk yang sebenarnya serta kemudian melakukan proses reduksi dan eliminasi yaitu pembagian data hasil wawancara dengan memasukkan data – data penting dan membuang data yang dianggap tidak dibutuhkan. Dalam bab ini peneliti membagi tema menjadi 3 (tiga) tema besar, antara lain :

5.1.1 Latar Belakang Menjadi Seorang Gay
Merupakan alasan mengapa seseorang menjadi seorang gay. Dalam tema ini peneliti membagi lagi spesifikasi sesuai dengan pertanyaan antaralain : awal mula dan lamanya seseorang menjadi seorang gay; latar belakang seseorang menjadi gay; serta tujuan mereka masuk dunia gay.

5.1.2 Identifikasi Kaum Gay
Peneliti melakukan sebuah proses pengidentifikasian ketika seseorang memilih masuk dan terlibat dalam dunia gay, melalui : pengelompokan yang ada dalam lingkungan gay (komunitas, grup, kelompok); tujuan melakukan atau bergabung dalam sebuah kelompok / komunitas/ grup.

5.1.3 Interaksi Kaum Gay
Tema ini berhubungan bagaimana seorang gay melakukan interaksi dengan sesama gaya dalam sebuah kelompok yang sama, dengan sesama gay di luar kelompok (secara keseluruhan) serta gay dengan masyarakat secara umum, yang terbagi lagi menjadi : komunikasi verbal, komunikasi non verbal, bahasa yang digunakan, serta proses pembukaan diri.


5.2 Individual Textural Description
5.2.1 Informan 1
5.2.1.1 Latar Belakang Menjadi Seorang Gay
Rio memiliki pendapat bahwa seseorang menjadi seorang gay karena faktor lingkungan. Rio sendiri mengaku bahwa dia adalah teman curhat para kaum gay. Tujuan seseorang menjadi gaya adalah mereka ingin menhaktualisasikan diri dan 80 % karena faktor seksual
5.2.1.2 Identifikasi Kaum Gay
Rio mengatakan dia tidak tergabung dalam suatu komunitas.Tapi menurutnya kaum gay membentuk suatu komunitas atau kelompok untuk sekedar bersenang – senang.
5.2.1.3 Interaksi Kaum Gay
Rio menyebutkan ada beberapa bahasa khusus yang digunakan orang gay dalam berkomunikasi di dalam sesama gay, yaitu bahasa gaul yang dikreasikan seperti sis atau rumput dan bahasa ini juga digunakan oleh masyarakat umum.

5.2.2 Informan 2
5.2.2.1 Latar Belakang Menjadi Seorang Gay
Tito berpendapat bahwa seseorang menjadi gay karena faktor lingkungan. Dia mengaku sebagai seorang gay tertututp (discreet), dan tujuan sebagai gay adalah orientasi seks.
5.2.2.2 Identifikasi Kaum Gay
Tito tidak tergabung dalam sebuah komunitas khusus, tetapi sering keluar bersama teman – temannya. Tujuan adanya komunitas adalah untuk aktualisasi diri.
5.2.2.3 Interaksi Kaum Gay
Tito melakukan interaksi dengam bahasa gay saat bersama pasangannya. Tetapi saat ini dia tidak mempunyai pacar, jadi bahasa tersebut pada saat berkumpul dengan sesamanya. Tito berusaha untuk tidak meberitahu jati dirinya kepada siapa pun, karena takut mengganggu karir.

5.2.1 Informan 3
5.2.3.1 Latar Belakang Menjadi Seorang Gay
Putra berpendapat seseorang bisa menjadi gay karena gen dan lingkungan . Dia mengaku sebagai gay terbuka. Tujuan sebagai gay adalah orientasi seksual.
5.2.3.2 Identifikasi Kaum Gay
Putra tergabung dalam sebuah komunitas gay di kota Malang, tujuannya adalah untuk bersenang – senang sambil melakukan berbagai aktivitas bersama teman – teman gay, seperti berenang.
5.2.3.3 Interaksi Kaum Gay
Bahasa yang digunakan Putra adalah bahasa gay sama seperti informan kunci. Dan dia cukup terbuka untuk mengakui dirinya sebagai seorang gay

5.2.4 Informan 4
5.2.4.1 Latar Belakang Menjadi Seorang Gay
Andre berpendapat bahwa seseorang menjadi gay karena lingkungan dan keterpaksaan, seperti yang dialamainya. Dia mengakui sebagai gay terbuka dan memiliki pasangan.

5.2.4.2 Identifikasi Kaum Gay
Andre menjadi gay dan tergabung dalam sebuah komunitas di kota Malang. Tujuannya adalah untuk bersenang senang saat jenuh.
5.2.4.3 Interaksi Kaum Gay
Dia menggunakan bahasa gaul seperti yang dijelasakan informan kunci.



5.3 Composite Textural Description
5.3.1 Latar Belakang Menjadi Seorang Gay
Hampir semua informan mengatakan bahwa seseorang menjadi gay karena faktor lingkungan, gen dan keterpaksaaan. Dengan tujuan yang sama yaitu orientasi seksual.
5.3.2 Identifikasi Kaum Gay
Gay tertutup tidak tergabung dalam komunitas karena menjaga diri ditinjau dari faktor imej, sedangkan gay terbuka tergabung dalam komunitas di kota Malang dan brtujuan untuk bersenang – senang.
5.3.3. Interaksi Kaum Gay
Bahasa yang mereka gunakan adalah bahasa gaul yang dimodifikasi menjadi bahasa gay dalam kelompok, dan interaksi dengan masyarakat juga dijaga.


5.4. Individual Structural Description
5.4.1 Informan 1
Lingkungan memiliki pengaruh besar seseorang menjadi seorang gay. Dengan orientasi seksual yang berpengaruh sebagai tujuan.
Rio mengaku bahwa dia adalah tempat curhat kaum gay di kota Malang dan tidak tergabung dalam sebuah komunitas. Akan tetapi menurutnya, tujuan sebuah komunitas adalah sebagai pelindung dan tempat aktualisasi diri.
Bahasa yang digunakan adalah bahasa gaul yang dikreasikan dan digunakan di dalam komunitas. Pengaruhnya terhadap masyarakat adalah menjaga diri agar masyarakat tidak resah.

5.4.2 Informan 2
Lingkungan berpengaruh terhadap seorang menjadi gay. Orientasi seksual merupakan tujuan utama.
Tito adalah gay tertutup dan dia tidak tergabung di kelompok gay tertentu. Meskipun dia tahu kelompok gay berfungsi sebagai wadah mereka berinteraksi dengan sesama.
Bahasa gay hanya digunakan pada saat dia bersama teman-teman gay karena dia ingin menjaga imej dimasyarakat.

5.4.3 Informan 3
Lingkungan dan gen memiliki pengaruh besar seseorang menjadi gay. Orientasi seksual merupakan tujuannya.
Putra mengakui dirinya adalah gay terbuka dan tergabung dalam sebuah kelompok gay. Dia merasa nyaman dan puas.
Bahasa gay pun dia gunakan pada saat di dalam kelompok, namun dia berani mengakui di depan masyarakat.
5.4.4. Informan 4
Lingkungan dan keterpaksaan menjadi latar belakang seseorang menjadi gay. Dengan orientasi seksual sebagai tujuan utama.
Andre memiliki pasangan gay dan dia sudah menjalinnya hingga 8 bulan, dia juga tergabung dalam kelompok khusus dan dia merasa nyaman.
Bahasa yang digunakan adalah bahasa gay dan digunakan hanya ketika berkumpul bersama gay, dia tidak mengakui sebagia gay di masyarakat karena faktor nama baik keluarga.


5.5 Composite Structural Description
Latar belakang seseorang menjadi seorang gay karena faktor lingkungan, gen dan keterpaksaan.Tujuan utama memang karena orientasi seksual. Gay memiliki kelompok dalam komunitas tapi tidak semua gay tergabung di dalamnya. Alasan utama ada kelompok adalah mengenai aktualisasi diri dan kesenangan. Bahasa gay digunakan di dalam komunitas akan tetapi saat ini banyk masyarakat yang tahu dan bersikap biasa. Gay berusaha menjaga diri untuk tidak dikenal masyarakat terlalu luas karena faktor nama baik diri sendiri dan keluarga.

Studi Fenomenologi Interaksi Kaum Gay di Kota Malang (Bab 4 ) (MPK Danis - Adhar)

BAB IV
GAMBARAN UMUM KAUM GAY
DI KOTA MALANG

Keberadaan kaum gay semakin lama semakin tampak di lingkungan mayarakat khususnya di Jawa Timur. Sebuah hal yang ironis sekali mengingat Jawa Timur merupakan provinsi yang terkenal dengan semangat jiwa anak mudanya. Banyaknya perguruan tinggi baik negeri maupun swasta yang ada di Jawa Timur menunjukkan beragamnya anak muda yang menempuh pendidikan di sana. Keberagaman tersebut ditinjau dari asal daerah mahasiswa yang berjumlah hampir lebih besar daripada mahasiswa yang berasal dari Jawa Timur sendiri atau lebih sering disebut sebagai pendatang, latar belakang keluarga, usia, motivasi belajar, bahkan orientasi seksual juga ikut serta dalam keberagaman tersebut.
Surabaya yang menjadi ibukota provinsi sekaligus dikenal sebagai kota metropolis selain Jakarta memiliki penilaian khusus dilihat dari sisi adanya ruang – ruang khusus bagi masyarakat yang memiliki sebuah kelompok – kelompok yang memiliki kedekatan, kesamaan orientasi seksual dan menyangkut ketertarikan antar personal. Peneliti merangkum penjelasan tersebut dalam kelompok gay.

4.1. Perkembangan Gay di Kota Malang
Sebuah informasi yang cukup mencengangkan bahwa salah satu LSM yang didirikan untuk kaum gay yaitu Gaya Nusantara memperkirakan sekitar 260.000 dari enam juta penduduk Jawa Timur adalah homo. Bahkan Surabaya merupakan daerah yang mempunyai populasi gay terbesar di Indonesia. Secara kalkulasi, pakar seksualitas Dr Boyke Dian Nugraha sempat mencatat bahwa frekuensi kaum gay yang murni adalah satu dari 10 pria.
Di kota Malang yang menjadi tempat peneliti melakukan observasi memiliki potensi sebagai tempat berlangsungnya interaksi kaum gay kedua terbesar di Jawa Timur. Alasan mengapa kota Malang dijadikan sebagai posisi kedua adalah dapat dilihat dari segi wilayah yang strategis dan dipilih oleh kebanyakan kaum muda untuk melanjutkan pendidikan formal dan bekerja. Lingkungan yang mendukung dengan berbagai fasilitas publik serta keramahan masyarakat kota Malang pada umumnya juga menjadi prioritas seseorang memilih kota Malang sebagai tempat berkompetisi untuk mencapai tingkat kenyamanan dalam berkarya.
Kaum muda yang tidak terbatas dari segi pendidikan atau yang sudah bekerja pun, khususnya bagi mereka yang tergolong sebagai kaum gay dapat menyalurkan “interaksi” mereka dengan mudah dan berkembang hingga ke daerah lainnya di Jawa Timur, seperti Ponorogo, Blitar, Mojokerto, Banyuwangi dan Gresik.
Kaum gay yang berada di kota Malang memiliki tempat berkumpul dengan sesamanya. Gay atau yang biasa dikenal sebagai MSM (Men who having Ses with Men) selalu melakukan aktivitas bersama seperti mejeng, cari pasangan, cari partner, atau sekedar bersenda gurau dengan teman – teman gay nya di beberapa titik lokasi yang merupakan lokasi yang cukup dikenal di Kota Malang.

4.2. Tempat berkumpul Gay di Kota Malang
- Alun-Alun Kota yang menjadi pusat Kota Malang di jalan Merdeka Tempat duduk Taman di seputaran Alun-alun Kota, terutama areal di bawah pohon beringin depan Masjid Jami' Malang. Tiap hari Jam 20.00-22.00 WIB. Komunitas Gay dan Kucing. Jika Hari Jumat sehabis sholat Jumatan, banyak Gay terutama yang Tubang nongkrong
-Warung Jeffry yang terletak di jalan Arief Margono, Kasin, Malang Warung yang dididirikan oleh pasangan MSM Jeffry-Maskur ini menjadi tempat mangkal alternatif bagi kenalan dan rekanan kedua pemiliknya. Awalnya berdiri, warung ini sangat ramai, karena semua ingin mencoba menu yang disajikan.
- MATOS. Terutama Terrace Cafe dan Dream’s Cafe serta Pujasera lt 3 di jalan Veteran Malang. Mall terbesar di Malang ini menjadi ajang perburuan MSM untuk mencari pasangan, karena selain kucing, MSM yang tertutup juga menjadikan mall ini untuk hunting dan tempat ketemuan setelah chatting. Tiap Senin, Selasa, Jumat jam 11.00 hingga jam 21.00 WIB
- Rumah Singgah Ko Sun yang terletak jalan Raya Bareng, Malang. Rumah milik Sundoko seorang warga keturunan Tionghoa ini, terletak di dalam kampung di Bareng. Rumah ini sudah lama manjadi tempat jujukan para MSM dari luar kota hingga MSM yang terlantar. Beberapa diantaranya berprofesi sebagai kucing di Alun-alun dan tukang pijat panggilan.


4.3. Kegiatan yang dilakukan kaum gay
Secara individu gay di kota Malang melakukan aktivitas yang rutin sesuai dengan pekerjaannya. Seperti ke kampus, bekerja di perusahaan swasta atau milik negara, ataupun aktivitas saat santai selayaknya rekan – rekannya yang tidak gay.
Kegiatan yang dilakukan para gay pada saat berada di kelompok gay akan sedikit berbeda dengan kegiatan rutin secara individual. Kelompok gay di Malang memiliki sebuah wadah yang legal dan dilindungi pemerintah yaitu IGAMA (Ikatan Gay Malang). Kebanyakan kegiatan yang dilakukan adalah kegiatan yang menyenangkan bagi gay dan teman – teman dalam kelompoknya, seperti karaoke, jalan – jalan di mall, bahkan juga diadakan kegiatan positif seperti yang dilakukan oleh teman – teman gay di IGAMA. Yaitu menghadiri sosialisasi tentang bahaya virus HIV yang menyebabkan AIDS.
Di balik alasan untuk menjaga kebersamaan dan solidaritas dalam kelompok gay, ada maksud tersembunyi yang muncul saat melakukan aktivitas tersebut yaitu mencari pasangan.

4.4. Data Informan
1. Rio ( Bukan Nama Sebenarnya)
Rio adalah informan pertama sekaligus menjadi infoman kunci. Dengan usia 27 tahun, Rio bekerja di salah perusahaan swasta di kota Malang. Rio mengaku sampai saat ini dia selalu menjadi tempat curhat para kaum gay, terutama yang cukup dekat dengannya. Pada saat wawancara awalnya tidak terbuka, setelah informan merasa nyaman sikapnya mulai berubah menjadi lebih terbuka dan semakin bersahabat. Informasi yang diberikan juga sangat banyak dan detail mengenai kehidupan kaum gay dan kelompoknya.

2. Tito (Bukan Nama Sebenarnya)
Usia Tito mendekati 28 tahun dan saat ini bekerja di salah satu perusahaan swasta di kota Malang. Tito merupakan informan kedua yang direkomendasikan tanpa sengaja oleh informan kunci. Kebetulan teman – teman gay dari informan kunci, termasuk Tito, tidak sengaja bertemu peneliti dan akhirnya berkumpul di tempat dimana kami melakukan wawancara. Sehingga kami memutuskan untuk mewawancarainya juga setelah beliau setuju.
Pada saat diwawancarai, Tito langsung membuka diri dengan memberikan informasi yang sesuai dengan tema wawancara yang disampaikan peneliti.

3. Putra ( Bukan Nama Sebenarnya)
Putra adalah seorang mahasiswa semester empat di salah satu perguruan tinggi di kota Malang. Tahun ini usianya mencapai 20 tahun. Dia mengaku menjadi seorang gay semenjak tahun 2008 lalu, saat keluar dari SMA.
Putra merupakan informan ketiga yang memiliki sikap terbuka pada saat diwawancara. Segala macam pertanyaan yang disampaikan oleh peneliti dijawab dengan lugas tanpa kesan ditutup – tutupi. Malahan Putra yang bercerita tentang kehidupan pribadinya kepada peneliti.

4. Andre ( Bukan Nama Sebenarnya)
Andre yang saat ini berusia 22 tahun merupakan informan keempat dan sedang menjalankan studi akhir di salah satu perguruan tinggi di kota Malang. Peneliti mendapatkan informasi keberadaan informan keempat ini dari informan kunci.
Dalam wawancara Andre berusaha untuk terbuka namun rasa takut untuk menggali lebih dalam muncul dari informan keempat ini. . Setelah agak lama cukup suasana yang terjalin menjadi akrab dalam wawancaara kami, sehingga Andre bisa menggali informasi yang dia peroleh untuk diceritakan sesuai pertanyaan yang disampaikan peneliti.

Studi Fenomenologi Interaksi Kaum Gay di Kota Malang (Bab 3) (MPK Danis-Adhar)

BAB 3
METODE PENELITIAN

3.1 Paradigma Ilmu Komunikasi
Paradigma yang digunakan dalam penelitian ini adalah paradigma interpretatif. Pendekatan interpretif berangkat dari upaya untuk mencari penjelasan tentang peristiwa sosial atau budaya yang didasarkan pada perspektif dan pengalaman orang yang diteliti. Pendekatan interpretif diadopsi dari orientasi praktis. Secara umum pendekatan interpretif merupakan sistem sosial yang memaknai perilaku secara detail langsung mengobservasi. (Newman, 1997: 68).
Namun pendapat Husseerl masih dirasakan abstrak, maka Schutz mencoba lebih menyederhanakan dan mengawali pemikirannya dengan mengatakan bahwa objek penelitian ilmu sosial pada dasarnya berhubungan dengan interpretasi terhadap realitas. Dalam melakukan penelitian, peneliti harus menggunakan metode interpretasi yang sama dengan orang yang diamati, sehingga peneliti bisa masuk ke dalam dunia interpretasi orang yang dijadikan objek penelitian. Pada praktiknya, peneliti mengasumsikan dirinya sebagai orang yang tidak tertarik atau bukan bagian dari dunia orang yang diamati. Peneliti hanya terlibat secara kogniti dengan orang yang diamati. Peneliti dapat memilih satu ‘posisi’ yang dirasakan nyaman oleh subyek penelitiannya, sehingga ketika subyek merasa nyaman maka dirinya dapat menjadi diri sendiri. Ketika ia menjadi dirinya sendiri inilah yang menjadi bahan kajian peneliti sosial.

3.2 Metodologi Penelitian
Metodologi yang kami gunakan yaitu kualitatif. Kualitatif menekankan pada metode penelitian observasi di lapangan dan datanya dianalisa dengan cara nonstatistik. Riset kualitatif bertujuan untuk menjelaskan fenomena dengan sedalam-dalamnya melalui pengumpulan data sedalam-dalamnya. Riset ini tidak mengutamakan besarnya populasi atau samplingnya sangat terbatas. Jika data yang terkumpul sudah mendalam dan bisa menjelaskan fenomena yang diteliti, maka tidak perlu mencari sampling lainnya. Di sini yang lebih ditekankan adalah persoalan kedalaman (kualitas) data bukan banyaknya (kuantitas) data(Rachmat Kriyantono 2007: 58).


3.3 Jenis Penelitian
Penelitan ini menggunakan jenis penelitian deskriptif. Penelitian deskriptif adalah suatu bentuk penelitian yang ditujukan untuk mendeskripsikan fenomena-fenomena yang ada, baik fenomena alamiah maupun fenomena buatan manusia. Fenomena itu bisa berupa bentuk, aktivitas, karakteristik, perubahan, hubungan, kesamaan, dan perbedaan antara fenomena yang satu dengan fenomena lainnya. (Sukmadinata, 2006:72)

3.4. Metode Penelitian
Metode penelitian yang digunakan adalah fenomenologi. Fenomenologi adalah gerakan filsafat yang dipelopori oleh Edmund Husserl (1859 – 1838). Salah satu arus pemikiran yang paling berpengaruh pada abad ke-20. Fenomenologi mencoba menepis semua asumsi yang mengkontaminasi pengalaman konkret manusia. Ini mengapa fenomenologi disebut sebagai cara berfilsafat yang radikal. Fenomenologi menekankan upaya menggapai “hal itu sendiri” lepas dari segala presuposisi. Langkah pertamanya adalah menghindari semu konstruksi, asumsi yang dipasang sebelum dan sekaligus mengarahkan pengalaman. Tak peduli apakah konstruksi filsafat, sains, agama, dan kebudayaan, semuanya harus dihindari sebis mungkin. Semua penjelasan tidak boleh dipaksakan sebelum pengalaman menjelaskannya sendiri dari dan dalam pengalaman itu sendiri(Donny, 2002 : 42) Fenomenologi menekankan perlunya filsafat melepaskan diri dari ikatan historis apapun—apakah itu tradisi metafisika, epistimologi, atau sains. Program utama fenomenologi adalah mengembalikan filsafat ke penghayatan sehari-hari subjek pengetahuan. Kembali ke kekayaan pengalaman manusia yang konkret, lekat, dan penuh penghayatan.. Pengaruh fenomenologi sangat luas. Hampir semua disiplin keilmuan mendapatkan inspirasi dari fenomenologi.

3.5 Ruang Lingkup
Penelitian ini membahas tentang bagaimana fenomena komunitas gay di kota Malang melakukan interaksi di dalam kelompok gay itu sendiri dan interaksi dengan masyarakat. Serta penggunaan bahasa dalam komunikasi verbal dan komunikasi non verbal.

3.6 Teknik Pemilihan Informan
Peneliti sengaja untuk mencari data lewat informan yang sudah dikenal (purposive sampling) yaitu dengan cara komunikasi face to face dan menjelaskan tentang penelitian yang dilakukan. Hal ini bertujuan agar mendapatkan data selengkap-lengkapnya karena semakin orang mengenal satu sama lain, maka keterbukaan akan terjadi,dan secara langsung informasi didapat secara utuh.
Peneliti memiliki beberapa kriteria dalam pemilihan informan, antaralain:
1. Peneliti benar – benar mengetahui informan adalah gay.
2. Untuk informan kunci, peneliti menentukan pada seseorang benar – benar mengetahui seluk beluk gay dalam sebuah kelompok atau sebuah komunitas.
3. Informan selanjutnya bisa merupakan rekomendasi dari informan kunci.
4. Usia dari informan antara 17 – 30 tahun.dan memiliki wawasan tentang dunia gay secara umum.

3.7 Sumber Data
Berdasarkan sumbernya, data yang kami gunakan dibedakan dalam 2 jenis, yaitu primer dan sekunder. Data primer adalah data yang diperoleh dari sumber data atau tangan pertama di lapangan. Sumber data ini bisa responden atau subjek penelitian (Rachmat Kriyantono, 2007: 43).
Jenis data yang kedua adalah sekunder. Data sekunder adalah data yang diperoleh dari sumber kedua atau sekunder (Rachmat Kriyantono, 2007: 44). Sumber data sekunder yang kami gunakan adalah buku, koran, dan internet.

3.8 Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah
3.8.1 Wawancara Mendalam
Sebuah sistem perolehan informasi dengan tanya jawab tidak bersruktur, spontan, terbuka, fleksibel, mendorong subyek penelitian untuk mendiskripsikan dirinya sendiri, dan dilakukan selama observasi atau saat waktu dan tempat tertentu.

( Terdapat lampiran hasil wawancara)

Kegiatan wawancara ini dilakukan dengan pembuatan daftar wawancara yang berisi sepuluh pertanyaan dengan isi dari pertanyaan yang mengandung pengembangan dan penalaran mengenai cara berkomunikasi kaum metroseksual di universitas Brawijaya

3.8.2 Metode Pengamatan

Kegiatan lain yang dilakukan selain wawancara mendalam, adalah melalui pengamatan , baik secara langsung maupun tidak langsung. Peneliti akan melakukan pengamatan aktivitas kaum gay selama berada di wilayah kampus dan di beberapa tempat umum yang dijadikan sebagai tempat berkumpul, seperti mall dan café di kota Malang.
3.8.3 Metode dokumentasi
Pengumpulan data melalui buku-buku dokumen. Buku-buku dokumen yang digunakan peneliti adalah yang berkaitan dengan buku – buku yang diperoleh dari sistem online / internet.

3.9 Unit Analisis
Unit analisis dari penelitian ini berasal dari pengalaman secara sadar dari peneliti terhadap interaksi kaum gay di kota Malang juga pengalaman – pengalaman yang disampaikan oleh informan.

3.10Teknik Analisa Data
Peneliti menggunakan teknik analisis data fenomenologi Van Kaam (Engkus Kuswarno, 2009 : 69 - 70). Meliputi
- Proses horizonalisasi, yaitu penulisan hasil wawancara secara kasar (lampiran).
- Reduksi dan Eliminasi, yaitu memasukkan hal – hal penting dalam wawancara dan tidak mengikutsertakan yang tidak dibutuhkan (lampiran)
- Thematic Potrayal, yaitu pengelompokan hasil wawancara agar mempermudah penulisan hasil dengan membuat tema – tema(poin – poin ) besar beserta sub tema dalam paragraph.
- Individual Textural Description dengan memakai teknik Snow Ball penjelasan poin –poin berdasar para informan.
- Composite Textural Description merupakan analisis dan kalimat peneliti mulai masuk dengan menyertakan kalimat – kalimat akademis.
- Individual Structural Description dengan mengkorelasikan bahasa penulis dengan proses pengejawantahkan dengan kalimat karena sesuatu maka terjadisesuatu.
- Composite Structural Description
Penggabungan dari individual structural description
Hasil yang diperoleh dari proses ini adalah pure essence.


3.11 Instrumen Penelitian
Komunikasi antarpribadi sangat potensial untuk menjalankan fungsi instrumental sebagai alat untuk mempengaruhi atau membujuk orang lain, karena kita dapat menggunakan kelima alat indera kita untuk mempertinggi daya bujuk pesan yang kita komunikasikan kepada komunikan kita. Sebagai komunikasi yang paling lengkap dan paling sempurna, komunikasi antarpribadi berperan penting hingga kapanpun, selama manusia masih mempunyai emosi. Kenyataannya komunikasi tatap-muka ini membuat manusia merasa lebih akrab dengan sesamanya.


3.12Kerangka Pemikiran
Bentuk komunikasi verbal dan non verbal dikalalangan gay merupakan hasil dari proses interaksi kaum homoseksual yang yang membentuk sebuah kelompok atau komunitas. Komunitas tersebut sebagai sarana menunjukkan aktualisasi diri dari kaum yang dianggap marginal ini. Kaum homoseksual mulai berani untuk membuka diri dalam kehidupan sosialnya, sehingga masyarakat Indonesia yang notabene sebagai masyarakat yang agraris mulai sadar untuk menerima keberadaan mereka dengan segala kontroversi yang terjadi di dalamnya.

Studi Fenomenologi Interaksi Kaum Gay di Kota Malang (Bab 2) (MPK Danis-Adhar)

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Pada bab ini peneliti membagi penjelasan mengenai definisi homoseksual khususnya gay, karakteristik atau ciri-ciri gay, definisi interaksi dan faktor-faktor pembentuk interaksi, definisi dan prinsip komunikasi, definisi dan Komunikasi Antar Pribadi,definisi Komunikasi Verbal dan Non Verbal.

2.1 Definisi homoseksual dan gay
Homoseksualitas mengacu pada interaksi seksual dan/atau romantis antara pribadi yang berjenis kelamin sama misalnya lelaki dan lelaki secara situasional atau berkelanjutan. Pada penggunaan mutakhir, kata sifat homoseks digunakan untuk hubungan intim dan/atau hubungan sexual di antara orang-orang berjenis kelamin yang sama. Istilah gay adalah suatu istilah tertentu yang digunakan untuk merujuk kepada pria homoseks.
Apabila dilihat dari segi hormonal jika bayi laki-laki tidak menerima hormon laki-laki yang cukup pada masa-masa awal pertumbuhannya,salah satu dari kemungkinan yang akan terjadi. Pertama, kemungkinan akan lahir bayi laki-laki dengan struktur otak yang lebih feminine daripada maskulin, dengan kata lain bayi laki-laki ini akan besar kemungkinannya menjadi seorang gay ketika memasuki usia pubertas. Kedua, akan lahir bayi laki-laki yang memiliki fungsi otak perempuan dan memiliki alat kelamin pria. Bayi seperti ini, ketika dewasa akan menjadi seorang trans-gender (waria). (Allan and Barbara Pease, 2004 : 212)
Dasawarsa 1970-an merupakan titik awal persentuhan Indonesia dengan istilah gay dan / atau lesbi. Ketika itu majalah asing mulai masuk ke Indonesia . Beberapa di antaranya diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.


2.2 Karakteristik atau ciri gay
Kaum gay memiliki ciri-ciri yang membantu mereka untuk mengenali dan dikenali dengan sesama gay dan di dalam masyarakat. Ciri-ciri tersebut terkadang sengaja dibentuk oleh mereka, tapi ada juga yang dilakukan secara tidak sengaja atau pembawaan secara naluri. Berikut adalah karakteristik atau cirri-ciri yang dimiliki kaum gay;
Gay lebih menyukai mengenakan pakaian ketat, karena dapat memperlihatkan lekuk tubuh si pemakai. Bagi gay, lekukan tubuh merupakan daya jual tersendiri. Gay lebih senang memakai warna mencolok. Dalam berkomunikasi gaya bicaranya pun lebih feminim dan perhiasan yang dikenakannya pun cenderung “ramai”. Bahkan itu merupakan alat komunikasi sesama gay. Ciri lainnya adalah selalu tertarik pada aktivitas yang biasanya dilakukan wanita.
Ada juga yang mengatakan bahwa, ciri-ciri lelaki gay adalah sebagai berikut:
1. Berpenampilan rapi
2. Tidak banyak bicara (kecenderungan pendiam)
3. Selalu memakai pengharum tubuh dengan Bebauan yang Agak Norak
4. Berbicara seadanya, dan cenderung lembut.
5. Tidak suka bergaul dengan banyak orang
6. Bertindak kehati-hatian dalam segala hal pekerjaan yang sedang dia kerjakan.
7. Pakaian yang digunakan biasanya agak berbeda dari yang lain, sehingga cenderung menarik perhatian banyak orang.
Setiap gay tidak memiliki perbedaan dari tatapan mereka. Dapat dikatakan, mereka cenderung pendiam atau cenderung cerewet. Gaya hidup mereka terkadang terlalu normal atau terlalu tidak wajar. Mereka bisa mendapat tekanan batin dan bisa pula mereka terlalu terbiasa dengan kondisi mereka sebagai gay. Biasanya kaum gay cenderung temperamental.


2.3 Interaksi Sosial
Interaksi sosial adalah hubungan timbal balik antara individu dengan individu, individu dengan kelompok dan antara kelompok dengan kelompok. Interaksi sosial merupakan proses komunikasi diantara orang-orang untuk saling mempengaruhi perasaan, pikiran dan tindakan. Interaksi sosial akan berlangsung apabila seorang individu melakukan tindakan dan dari tindakan tersebut menimbulkan reaksi individu yang lain
Sebuah interaksi memberikan pengaruh pada individu yang terlibat di dalamnya. Dalam interaksi sosial terbentuk tindakan berdasarkan norma dan nilai sosial yang berlaku dalam masyarakat.
Terdapat beberapa faktor yang mendasari proses terbentuknya interaksisosial,antaralain:
1. Imitasi merupakan proses sosial atau tindakan seseorang untuk meniru orang lain, mulai sikap penampilan, gaya hidupnya, bahkan apa-apa yang dimilikinya. Semua berawal dari lingkungan keluarga dan seiring berjalannya proses pergaulan hingga mencapai ranah masyarakat.
2. Indentifikasi mengarah pada upaya yang dilakukan oleh seorang individu untuk mejadi sama (identik) dengan merubah tidak hanya pola perilaku saja melainkan hingga kejiwaan.
3. Sugesti adalah rangsangan, pengaruh, stimulus yang diberikan sesorang individu kepada individu lain sehingga orang yang diberi sugesti menuruti
atau melaksanakan tanpa berpikir kritis dan rasional. Sugesti akan menjadi positif apabila orang yang member sugesti juga memiliki niat yang baik.
4. Motivasi yaitu rangsangan pengaruh, stimulus yang diberikan seorang individu kepada individu lain, sehingga orang yang diberi motivasi menuruti tau melaksanakan apa yang dimotivasikan secara kritis, rasional dan penuh rasa tanggung jawab . Motivasi biasanya diberikan oleh orang yang memiliki status yang lebih tinggi dan berwibawa, misalnya dari seorang ayah kepada anak, seorang guru kepada siswa.
5. Simpati adalah proses kejiwaan saat seseorang tertarik pada sesorang yang lain atau pada kelompok tertentug karena sikapnya, penampilan, wibawa atau perbuatan yang mendukung.
6. Empati yaitu mirip dengan simpati, akan tetapi tidak semata-mata perasaan kejiwaan saja. Empati dibarengi dengan perasaan organisme tubuh yang sangat intens/dalam.

2.4 Komunikasi
Kata komunikasi atau communications dalam bahasa Inggris berasal dari kata Latin Communis yang berarti “sama”, communico, communication, atau communicare yang berarti “membuat sama” (to make common). Istilah pertama (communis) adalah istilah yang paling sering disebut sebagai asal-usul kata komunkasi. Komunikasi menyarankan bahwa suatu pikiran, suatu makna, atau suatu pesan dianut secara sama. Komunikasi juga di definisikan secara luas sebagai “berbagi pengalaman”. (Dedy Mulyana, 2005: 41-42 )
Menurut Harold D.Lasswell, sebagaimana yang dikutid oleh Sendjaja (1999:7) cara yang baik untuk menggambarkan komunikasi adalah dengan menjawab pertanyaan berikut : Who Says what In which Channel To Whom With What Effect? (Siapa mengatakan apa dengan saluran apa kepada siapa dengan efek bagaimana?).(Wiryanto, 2004: 6)
Shannon dan Weaver (1949) juga mengemukakan bahwa komunikasi adalah bentuk interaksi manusia yang saling mempengaruhi satu sama lain, sengaja atau tidak disengaja dan tidak terbatas pada bentuk komunikasi verbal, tetapi juga dalam hal ekspresi muka, lukisan, seni dan teknologi.

Komponen Komponen Komunikasi
Setidaknya ada 7 komponen pembentuk komunikasi yang saling terkait dan berhubungan dengan yang lain, yaitu:

1.Source: Sumber pesan, seseorang atau sekelompok orang yang berinisiatif mengirimkan pesan. Sumber harus melakukan encoding (proses mengubah ide, gagasan, atau perasaan, kedalam seperangkat simbol dan tanda) untuk menyampaikan pesannya.
2.Message: pesan, atau apa yang dikomunikasikan oleh source kepada penerima dalam bentuk berupa simbol-simbol dan tanda.
3.Media : saluran/sarana yang digunakan sumber untuk menyampaikan pesannya. Dapat berupa media fisik, seperti suara, cahaya, sistem syaraf, dsb, maupun cara penyajian pesannya.
4.Receiver: orang yang menerima pesan dari sumber. Receiver malakukan decoding, kebalikan dari encoding. Yaitu proses menafsirkan seperangkat tanda yang ia terima menjadi gagasan yang dapat dipahaminya.
5. Effect: apa yang terjadi pada penerima setelah ia menerima pesan, berupa perubahan persepsi, perilaku, dsb.
6.Feedback: reaksi, atau tanggapan dari pihak receiver sebagai petunjuk efektif tidaknya pesan yang disampaikan sebelumnya. Umpan balik tidak harus disengaja. Misalnya kejang-kejang dan histeris setelah mendengar berita duka, dll.
7.Noise: faktor-faktor berupa rangsangan tambahan yang mengganggu penyampaian pesan atau mengurangi akurasi pesan. Sebuah kursi yang tidak nyaman selama kuliah dapat menjadi suber noise, kita tidak dapat menerima pesan hanya melalui mata dan telinga kita. Pikiran-pikiran yang lebih menarik daripada kata-kata dosen juga merupakan gangguan (John Fiske, 2005 :16)

Berdasarkan definisi dari komunikasi yang telah diutarakan para ahli patut diketahui pula prinsip-prinsip yang terdapat dalam komunikasi. Prinsip-prinsip komunikasi tersebut antara lain :
Prinsip 1 : Komunikasi adalah suatu proses simbolik
Lambang atau symbol adalah sesuatu yang digunakan untuk menunjuk sesuatu lainnya, berdasarkan kesepakatan sekelompok orang (Dedy Mulyana, 2005:84). Lambang bersifat sebarang, manasuka, atau sewenang-wenang (Dedy Mulyana, 2005:85). Lambang memiliki sifat yaitu fleksibel, dengan kata lain setiap lambang tidak mempunyai makna yang permanen tergantung dari persepsi dan pemikiran dari orang yang menerimanya. Sifat ini dapat dapat dijabarkan melalui contoh berikut. Suatu hari seorang dosen mengatakan “tutup pintunya dari depan” kepada seorang mahasiswanya yang telambat. Kalimat ini menimbulkan persepsi yang berbeda-beda diantara para mahasiswa. Sehingga dapat ditarik kesimpulan bahwa lambing pada dasarnya tidak mempunyai makana: kitalah yang memberi makna pada lambang (Dedy Mulyana, 2005:88).
Elemen lain yang termasuk tanda namun tidak memerlukan kesepakatan bersama dalam pengertiannya yaitu indeks. Karena dalam memaknainya ikon indeks mucul berdasarkan hubungan sebab dan akibat (biasanya secara alamiah). Istilah lain dari indeks adalah sinyal (signal) atau juga gejala (symptom). Misalnya adalah bunyi sirene yang merupakan indeks dari mobil ambulan.
Prinsip 2 : Setiap perilaku memiliki potensi komunikasi
Kita tidak dapat tidak berkomunikasi (we cannot not communicate). Tidak berarti bahwa semua perilaku adalah komunikasi. (Dedy Mulyana, 2005:98). Hal ini berarti bahwa komunikasi itu mulai terjadi apabila seseorang memberi makna atau mengartikan perilaku orang lain maupun memaknai perilakunya sendiri.
Prinsip 3 : Komunikasi punya dimensi isi dan dimensi hubungan
Dimensi isi disandi secara verbal, sementara dimensi hubungan disandi secara nonverbal. Dimensi isi menunjukkan muatan (isi) komunikasi, yaitu apa yang dikatakan. Sedangkan dimensi hubungan menunjukkan bagaimana cara mengatakannya yang juga mengisyaratkan bagaimana hubungan para peserta komunikasi itu, dan bagaimana seharusnya pesan itu ditafsirkan. (Dedy Mulyana, 2005:99).
Prinsip 4 : Komunikasi berlangsung dalam berbagai tingkat kesengajaan
Komunikasi berlangsung dalam berbagai tingkat kesenjangan, hal ini berarti komunikasi dapat berlangsung dengan sengaja atau direncanakan misalnya ketika kita menyampaikan sebuah ceramah maupun komunikasi dapat berlangsung dengan tidak disengaja misalnya ketika kita sedang merenung dan orang lain memperhatikan serta memaknai apa yang kita lakukan.
Kesengajaan bukanlah syarat untuk terjadinya komunikasi, dan dalam berkomunikasi biasanya kesadaran kita lebih tinggi dalam situasi khusus alih-alih dalam situasi rutin (Dedy Mulyana, 2005:101).
Prinsip 5 : Komunikasi terrjadi dalam konteks ruang dan waktu
Komunikasi dalam kehidupan sehari-hari bergantung pada fisik atau ruang dimana kegiatan tersebut berlangsung. Jadi kita harus pandai menempatkan diri dimana kita melakukan kegiatan komunikasi. Waktu juga mempengaruhi makna terhadap suatu pesan (Dedy Mulyana, 2005:104).
Prinsip 6 : Komunikasi melibatkan prediksi peserta komunikasi
Komunikasi terikat pada aturan terrtentu atau tata karma yang berarti orang-orang memilih strategi tertentu berdasarkan bagaimana orang yang menerima pesan akan merespon. (Dedy Mulyana, 2005:105). Prediksi ini seringkali berlangsung cepat dan tanpa disadari dan dapat diramalkan. Misalnya apabila kita mengalami sakit gigi dan kita pergi kedokter gigi kita memprediksi pasti yang diperiksa adalah gigi kita bukan anggota tubuh kita yang lain.
Prinsip 7 : Komunikasi itu bersifat sistematik
Komunikasi memiliki beberapa unsur sehingga menjadikannya sebagai suatu system. Terdapat dua system dasar yang melandasi transaksi komunikasi yaitu system internal dan system eksternal. Sistem internal adalah seluruh system nilai yang dibawa oleh seorang individu ketika ia berpartisipasi dalam komunikasi. System internal mengandung unsure kepribadian, agama, intelegensi, pendidikan, bahasa, motif, keinginan, cita-cita, dan pengalaman masa lalunya. (Dedy Mulyana, 2005:106). Sedangkan system eksternal yaitu semua unsure yang berada diluar individu termasuk lingkungan.
Prinsip 8 : Semakin mirip latar belakang sosial budaya semakin efektiflah komunikasi
Komunikasi yang efektif adalah komunikasi yang hasilnya sesuai dengan harapan para pesertanya (orang-orang yang sedang berkomunikasi) (Dedy Mulyana, 2005:107).
Prinsip 9 : Konunikasi bersifat nonsekuensial
Komunikasi dapat berlangsung secara linier (satu arah) maupun sirkuler dua arah. Pada dasarnya setiap proses komunikasi bersifat dua arah karena orang-orang yang kita anggap sebagai komunikan pada saat yang sama mereka juga menjadi komunikator atau penyampai pesan meskipun ditunjukkan melalui perilaku nonverbal. Beberapa pakar komunikasi mengakui sifat sirkuler atau dua arah komunikasi ini walaupun, sifat sirkuler dapat digunakan untuk menandai proses komunikasi, unsure-unsur komunikasi sebenarnya tidak berpola secara kaku. Oleh karena itu sifat nonsekuensial alih-alih sirkuler tampaknya lebih tepat digunakan untuk menandai proses komunikasi. (Dedy Mulyana, 2005:109).
Prinsip 10 : Komunikasi bersifat prosesual, dinamis, dan transaksional
Komunikasi tidak mempunyai awal dan tidak mempunyai akhir, melainkan merupakan proses yang sinambung (continuous) (Dedy Mulyana, 2005:109). Karena hal yang paling penting dalam proses komunikasi adalah antara komunikator dan komunikan mampu merumuskan atau menafsirkan pesan yang diterima dengan baik serta dalam proses ini terjadi saling mempengaruhi antara peserta komunikasi.
Implikasi dari komunikasi sebagai proses yang dinamis dan transaksional adalah bahwa para peserta komunikasi berubah (dari sekadar berubah dalam pengetahuan hingga berubah pandangan dunia dan perilakunya) baik berubah dengan sedikit demi sedikt maupun berrubah secara tiba-tiba (Dedy Mulyana, 2005:111).
Prinsip 11 : Komunikasi bersifat irreversible
Sifat irreversible ini adalah implikasi dari komunikas sebagai proses yang selalu berubah. Prinsip ini seharusnya menyadarkan kita bahwa kita harus berhati-hati untuk menyampaikan suatu pesan kepada orang lain. (Dedy Mulyana, 2005:112).
Prinsip 12 : Komunikasi bukan paasea untuk menyelesaikan berbagai masalah
Banyak konflik yang disebabkan oleh masalah komunikasi. Namun komunikasi bukanlah panasea (obat mujarab) untuk mentelesaikan persoalan atau konflik itu (Dedy Mulyana, 2005:115).

2.5 Komunikasi Antar Pribadi
Definisi berdasar komponen
Menjelaskan KAP dengan mengamati komponen – komponen utamanya dalam hal ini penyampaian pesan oleh satu orang dan penerimaan pesan oleh orang lain atau sekelompok kecil orang, dengan berbagai dampaknya dan peluang untuk member umpan balik segera.

Definisi berdasar hubungan dyadic (relational )
Menjelaskan komunikasi antarpribadi sebagai komunikasi yang berlangsung di antara dua orang yang mempunyai hubungan yang mantab dan jelas. Adakalanya definisi hubungan ini diperluas sehingga mencangkup juga sekelompok kecil orang, seperti anggota keluarga atau kelompok – kelompok yang terdiri dari tiga atau empat orang. (Joseph A. Devito, 1997 : 231)

Keberhasilan komunikasi diadik adalah dalam prosesnya si komunikator harus berupaya menyamakan field of reference dan frame of reference dari komunikan, di samping itu kedua pihak harus mempunyai empati. Kedekatan hubungan pihak-pihak yang berkomunikasi terlihat dari jenis-jenis pesan atau respon non-verbal mereka, seperti sentuhan, tatapan mata yang ekspresif, dan jarak fisik yang sangat dekat.




Definisi berdasarkan pengembangan
Dalam ancangan pengembangan (developmental), KAP dilihat sebagai akhir pengembangan dari Komunikasi yang berrsifat tak pribadi (impersonal) pada suatu ekstrim menjadi komunikasi pribadi atau intim pada ekstrim yang lain. Perkembangan ini mengisyaratkan atau mendefinisikan pengembangan KAP. (Joseph A. Devito, 1997 : 231)
KAP merupakan komunikasi paling efektif untuk mengubah sikap, pendapat atau perilaku seseorang. menurut Kumar (2000: 121-122), lima ciri efektifitas KAP sebagai berikut : (1) keterbukaan (openess) ; (2) empati (empathy) ; (3) dukungan (supportiveness) ; (4) rasa positif (positiveness) ; (5) kesetaraan (equality).


Dalam bukunya, Devito mengidentifikasi lima faktor yang mempengaruhi daya tarik antarpribadi, yaitu :
1. Daya Tarik Fisik dan Kepribadian
Membentuk Citra
2. Kedekatan (Proksiminitas)
3. Pengukuhan
Bersifat sosial (pengakuan orang lain terhadap diri kita)
Menghargai Orang Lain
4. Kesamaan
Berpikir dan bertindak mirip
Hipotesis Kecocokan
5. Sikap Saling Melengkapi (Complementarity)

2.6. Bahasa Verbal

Bahasa adalah sebuah institusi sosial yang dirancang, dimodifikasi, dan dikembangkan (beberapa puris, orang yang sangat memperhatikan tata bahasa yang baik dan benar, bahkan mengistilahkannya sebagai distorsi untuk memenuhi kebutuhan kultur dan subkultur yang terus menerus berubah. (Joseph A. Devito, 2008 : 157)
Menurut Larry L. Barker (dalam Deddy Mulyana,2005), bahasa mempunyai tiga fungsi: penamaan (naming atau labeling), interaksi, dan transmisi informasi.
1. Penamaan atau penjulukan merujuk pada usaha mengidentifikasikan objek, tindakan, atau orang dengan menyebut namanya sehingga dapat dirujuk dalam komunikasi.
2. Fungsi interaksi menekankan berbagi gagasan dan emosi, yang dapat mengundang simpati dan pengertian atau kemarahan dan kebingungan.
Melalui bahasa, informasi dapat disampaikan kepada orang lain, inilah yang disebut fungsi transmisi dari bahasa. Keistimewaan bahasa sebagai fungsi transmisi informasi yang lintas-waktu, dengan menghubungkan masa lalu, masa kini, dan masa depan, memungkinkan kesinambungan budaya dan tradisi kita.
Subkultur merupakan bagian – bagian dari sebuah kultur yang dapat dibedakan berdasar wilayah geografis, agama, pekerjaan, orientasi, suku bangsa, kebutuhan dan sebagainya. Dalam subkultur, muncullah subbahasa yang membantu mempermudah dalam komunikasi. Selain itu subbahasa memiliki beberapa fungsi yang lain, antaralain sarana identifikasi dan menjaga kerahasiaan (privasi) komunikasi. Salah satu fungsi yang tidak begitu baik dari subbahasa – yang dimanfaatkan oleh banyak profesional – adalah membuat orang luar terkesan dan kadang – kadang bingung (Joseph A. Devito , 2008 : 160)


Bahasa Gaul
Sejumlah kata atau istilah menjadi memiliki arti khusus pada saat digunakan oleh orang – orang dari sub kultur tertentu. Bahasa subkultur yang seperti ini disebut sebagai bahasa khusus (special language), bahasa gaul atau argot. Kata – kata tidak lazim itu merujuk pada bahasa rahasia yang digunakan pada kelompok menyimpang (deviant group), seperti kelompok preman, kaum homoseksual (lesbian maupun gay), kaum pelacur, dan sebagainya.
Terdapat fungsi tertentu bagi kelompok pengguna bahasa khusus ini. Pertama, sebagai kontrabudaya dan sarana pertahanan diri, terutama bagi kelompok yang hidup di lingkungan yang memusuhi mereka. Kedua, argot berfungsi sebagai sarana kebencian kelompok tersebut terhadap budaya dominan, tanpa diketahui kelompok dominan dan dihukum oleh mereka. Ketiga, argot berfungsi sebagai sarana memelihara identitas dan solidaritas kelompok. Argot memungkinkan mereka mengenal orang dalam dan membedakan mereka dengan orang luar. ** (Deddy Mulyana, 2005: 280)

2.7. Komunikasi Nonverbal

Komunikasi nonverbal menyangkut pesan yang dikomunikasikan oleh gerakan tubuh, gerakan mata, ekspresi wajah, sosok tubuh, penggunaan jarak (ruang), kecepatan dan volume bicara, bahkan keheningan.
Dalam buku Joseph A.Devito tentang Komunikasi Antar Manusia, komunikasi nonverbal memiliki enam fungsi utama (Eknam, 1956 ; Knapp, 1978), antaralain :
-Untuk menekankan beberapa bagian dari pesan verbal
-Untuk melengkapi (complement) pada saat seseorang sedang mengkomunikasikan suatu pesan verbal secara umum.
-Untuk menunjukkan kontradiksi pada saat seseorang dengan sengaja mempertentangkan pesan verbal dengan gerakan non verbal.
-Untuk mengatur arus pesan verbal. Contohnya mengerutkan kening, mencondongkan badan ke depan, atau menggerakkan tangan.
-Untuk mengulangi atau merumuskan –ulang makna dari pesan verbal.
-Untuk menggantikan pesan verbal yang ingin disampaikan. Misalanya kata- kata “aku tahu” dengan menjentikkan jari.

Jenis Komunikasi Nonverbal
Bahasa Tubuh
Kinesika adalah bagian yang mempelajari bahasa tubuh dan istilah ini diciptakan oleh salah satu ahli bahasa nonverbal, Ray L. Birdwhistell.
Bahasa tubuh ini dibagi lagi menjadi beberapa bagian yaitu isyarat tangan, gerakan kepala, postur tubuh dan posisi kaki, ekspresi wajah dan tatapan mata.
Sentuhan
Studi yang mempelajari tentang sentuh menyentuh adalah haptika (haptics). Menurut Heslin terdapat lima kategori sentuhan yang merupakan suatu rentang dari yang sangat impersonal hingga yang sangat personal. Kategori-kategori tersebut adalah sebagi berikut
• Fungsional-profesional. Disini sentuhan bersifat “dingin” dan berorientasi bisnis, misalnya pelayan toko membantu pelanggan yang memilh produk di tokonya
• Sosial – sopan . Bertujuan membangun dan memperteguh harapan. Misalnya berjabat tangan.
• Persahabatan – kehangatan
• Cinta – keintiman. Merujuk pada keterikatan emosional atau ketertarikan.
• Rangsangan seksual. Kategori ini berkaitan erat dengan kategori sebelumnya, hanya saja motifnya bersifat seksual. Rangsangan seksual tidak otomatis bermakna cinta atau keintiman. (Deddy Mulyana, 2005 : 337)

Parabahasa atau vokalia (vocalics)
Menuju ke arah aspek – aspek suara selain ucapan yang dipahami, misalnya kecepatan saat berbicara.

Penampilan Fisik
Jenis ini berpengaruh pada persepsi tiap orang dan memiliki beberapa aspek seperti busana (model, kualitas bahan, warna), ornament yang dikenakan (kalung, gelang, cincin, sepatu) serta karakteristik fisik (kumis atau bentuk kaki).

Bau-bauan
Wangi-wangian juga digunakan dalam penyampaian pesan. Begitu pula dengan bau yang kurang enak dapat menyampaikan suatu pesan khusus.

Orientasi Ruang dan Jarak Pribadi
Dikategorikan lagi pada ruang pribadi dengan ruang publik seseorang serta posisi duduk dan pengaturan ruang.

Konsep Waktu
Kronemika adalah studi dan interpretasi atas waktu sebagai pesan, yaitu bagaimana seseorang berhubungan dengan ketepatan waktu atau tidak dan akan mempengaruhi penilaian orang lain.

Warna
Seseorang sering menggunakan warna untuk menunjukkan suasana emosional, cita rasa, afiliasi politik, dan bahkan keyakinan agama.

Artefak
Artefak adalah segala macam benda yang dihasilkan dari kecerdasan manusia (Deddy Mulyana , 2005 : 380)
















Studi Fenomenologi Interaksi Kaum Gay di Kota Malang (Bab1) (MPK Danis-Adhar)

BAB I
PENDAHULUAN


1.1 Latar Belakang
Jumlah perkembangan kaum gay di Indonesia menunjukkan kuantitas yang sangat signifikan. Hal ini dapat dibuktikan berdasarkan hasil survey sebuah yayasan yang menaungi gay, lesbian, waria, serta transgender di Jakarta yang mencatat terdapat 5000 gay dan lesbian hidup di Jakarta.
Belakangan ini kaum homoseksual khususnya kaum gay semakin berani untuk mengungkapkan keberadaan atau eksistensinya dalam masyarakat, hal ini ditandai dengan informasi-informasi yang berkembang di media massa tentang berita yang menceritakan kehidupan kaum gay sehingga menyebabkan berkembangnya kelompok-kelompok atau komunitas sebagai wadah aktualisasi yang dapat menampung aspirasi dan kreatifitas dari kaum yang dianggap marginal ini.
Sebenarnya komunitas gay sudah lama terbentuk di Indonesia. Pada tahun 1969 Himpunan Wadam Djakarta (HIWAD) merupakan kelompok yang menaungi kaum homoseksual di Jakarta, disusul dengan LAMBDA pada tanggal 1 Maret 1982 merupakan organisasi gay pertama yang terbuka di Indonesia bahkan di Asia dengan sekretariat yang berada di Solo, dengan waktu yang singkat terbentuklah cabang-cabangnya di Yogyakarta, Surabaya, Jakarta, dan tempat-tempat yang lain. Akibat dari munculnya organisasi LAMBDA, pada tahun 1992 terjadi ledakan berdirinya organisasi-organisasi gay di Jakarta, Bandung, Pekanbaru, dan Denpasar, dan tahun 1993 menyusul di Malang dan Ujungpandang. (Lihat http://www.eramuslim.com/berita/analisa/ tentang di-balik-keberanian-kongres-gay-di-surabaya.htm Oleh anonym Diakses pada tanggal 6 April 2010 pukul 20.35 WIB).
Maraknya dibentuk komunitas-komunitas yang mewadahi aktualisasi kaum gay di kota-kota besar seperti yang telah digambarkan di atas, membawa pengaruh juga pada sekelompok kaum gay di Malang untuk membuat sebuah komunitas yang formal yang bertajuk Ikatan Gay Malang atau IGAMA.
Menurut data yang peneliti peroleh dari Awal pembentukan organisasi ini dipelopori oleh Yoseph Abilsana yang dibantu oleh beberapa rekan-rekan sehati di Malang. Pada waktu itu ada sekitar dua belas (12) aktivis seperti Yoseph Abilsana, Didiet, Bram, Didiek, Angga, Adjie, dan yang lainnya secara bersama-sama berjuang untuk mendirikan organisasi untuk rekan-rekan yang memiliki kesamaan persepsi dan pandangan terhadap masalah kesehatan laki – laki.
Atas dukungan Dede Oetomo pendiri Gaya Nusantara (GN) Surabaya, akhirnya diresmikanlah organisasi IGAMA yang bertepatan dengan tanggal 01 April 1993. Akhirnya, secara resmi IGAMA didaftarkan ke Pengadilan Negeri Malang lewat notaris Sja'bany Bachry, SH yang berkedudukan di Jalan Mojopahit 3-A Malang dengan nomor Akte No. 32 Tanggal 27 Agustus 2002 oleh empat serangkai aktivis IGAMA (Mamad, Syaiful, Koko dan Henry).
Pada awal tebentuknya organisasi ini kegiatan awalnya hanya menjadi wadah bagi komunitas MSM untuk saling mengenal dan bersosialisasi, dengan ragam kegiatan yang terbatas seperti: arisan, acara rekreasi bersama, kegiatan pentas seni dan rapat anggota. Agar bisa diterima oleh semua kalangan dan semua elemen komunitas MSM serta masyarakat akhirnya dipilihlah konsep dengan format dan konsep baru, menjadi sebuah lembaga yang memberikan pelayanan dan support bagi seluruh komunitas MSM dari berbagai elemen dan kelompok, baik yang terbuka ataupun yang tertutup dengan berbagai program kegiatan, dalam kaitannya dengan kesehatan seksual laki-laki (termasuk program penanggulangan HIV/AIDS).
Dampak dari dibentuknya organisasi IGAMA yang telah diakui dan dipantenkan keberadaannya ini membawa pengaruh kepada keterbukaan kaum gay dalam menunjukkan eksistensinya dengan cara mereka membentuk suatu kelompok-kelompok non formal (gang) diantara kaum gay di kota Malang. Seperti gang Bidadari, gang Cantik, gang Lollypop, Keluarga Cendana, Keluarga Kelantan dan lain sebagainya. Kelompok-kelompok ini sebagai wadah untuk sarana interaksi dan komunikasi secara sosial diantara kaum gay yang tergabung di dalam gang tersebut. Dalam kelompok ini mereka juga mengembangkan bahasa-bahasa in group yaitu bahasa yang hanya dimengerti oleh sekelompok orang dalam suatu kelompok, yang diadaptasi dari bahasa gaul yang sudah tercipta sejak lama sebagai identitas dari kelompok atau gang mereka seperti capcus, rumput, lekong dan lain sebagainya.
Berdasarkan gambaran di atas peneliti mempunyai ketertarikan untuk mengetahui pola-pola interaksi dan komunikasi verbal dan non verbal yang digunakan oleh kaum gay khususnya di kota Malang ditinjau melalui Komunikasi antar Pribadi (KAP), saat mereka melakukan hubungan sosial baik internal di dalam kelompok sesama gay maupun di luar kelompok dalam artian masyarakat secara umum dengan menggunakan pendekatan fenomenologi yaitu pendekatan bagaimana melihat sebuah pengalaman secara sadar yang dialami seseorang dan.


1.2 Rumusan Masalah
1.2.1 Bagaimanakah kaum gay melakukan interaksi dan komunikasi verbal dan non verbal dengan sesama kaum gay ?
1.2.2 Bagaiamana kaum gay melakukan interaksi dan komunikasi verbal dan non verbal dengan lingkungan masyarakatnya?

1.3. Tujuan Penelitian
Berdasarkan latar belakang yang sudah disebutkan sebelumnya, tujuan dari penelitian ini adalah :
Untuk mengetahui pola-pola interaksi dan komunikasi verbal dan non verbal yang digunakan oleh kaum gay ditinjau melalui Komunikasi Antar Pribadi (KAP), saat mereka melakukan hubungan secara sosial dengan sesama gay di dalam suatu kelompok maupun masyarakat secara umum dengan menggunakan pendekatan fenomenologi.

1.4 Manfaat Penelitian

1.4.1 Teoritis
Menambah wacana baru tentang studi masalah fenomenologi khususnya pada ruang lingkup Komunikasi Antar Pribadi dalam mengkaji interaksi dan komunikasi kaum gay.
Dapat bermanfaat bagi perkembangan dan pendalaman studi komunikasi khususnya bagi peminat kajian kaum gay, sehingga mampu menjadi referensi bagi penelitian serupa dimasa yang akan datang
1.4.2 Praktis
Untuk menambah ilmu pengetahuan mengenai bagaimana kaum gay melakukan interaksi dan komunikasi verbal dan dan non verbal dengan rekan sesamanya dalam suatu kelompok dan lingkungan masyarakat secara umum.
TEORI NARATIF

TEORI NARATIF
Gretchen Barbatsis (Universitas Michigan)
Banyak orang mendefinisikan naratif sebagai suatu gaya bercerita. Naratif juga berasal dari kata narasi yaitu suatu cerita tentang peristiwa atau kejadian dengan adanya paragraf narasi yang disusun dengan merangkaikan peristiwa-peristiwa yang berurutan atau secara kronologis. Tujuannya, pembaca diharapkan seolah-olah mengalami sendiri peristiwa yang diceritakan.Cara yang dilakukan menggunakan kata- kata, juga dengan memperlihatkan maksud cerita melalui tarian, gambar, maupun musik. Serta juga dapat dibuat melalui TV / Film atau secara langsung dipertunjukkan lewat panggung (stage).
Pertanyaan yang kemudian muncul adalah bagaimana hal tersebut dengan mudah disebut cerita? Meskipun media cerita itu disampaikan juga beragam,seperti badut yang biasa menghibur dengan menggunakan cerita, lewat buku anak-anak, balet, novel, cerpen, orchestra, berita TV, sitcom, Koran dan film, komik dan foto – foto documenter. Pencarian terhadap jawaban itu dapat mulai digali melalui rahasia yang ada di karakteristik saat narasi itu dibuat.
Cerita memiliki awal, tengah cerita dan akhir cerita. Hal ini seperti dalam penelitian Aristoteles dalam Poetcs (Fergusson, 1961). Terdapat rangkaian elemen- elemen dari macam – macam keterangan sebab musabab untuk meningkatkan intensitas maksud dari kritik yang diberikan serta perubahan yang terjadi karenanya.
Northrup Frye mengatakan “a way of structuring thought” yaitu saat kita mempertemukan cerita – cerita yang ada kemudian kita mengalami dunia yang dibentuk melalui keterangan – keterangan yang muncul dari fakta – fakta yang ada.
Seperti yang diungkapkan Walter Fisher bahwa cerita adalah rangkaian makna. Dengan naratif rangkaian cerita dapat bermakna karena juga bisa dihubungkan perubahan yang terjadi dalam personal naratif (pencerita dan yang mendapat cerita). Cerita – cerita dan personal dalam naratif, keduanya berada dalam pengalaman itu sendiri. Apakah peristiwa itu dikarang sendiri oleh hidup kita atau orang lain yang membantunya. Sampai kita sering dan familiar dengan kalimat “Suatu waktu”.
Naratif memang masih sering diidentikan dengan kekuatan kata – kata. Memang benar, akan tetapi saat ini pikiran seseorang juga bisa terstruktur melalui gambar. Jadi naratif juga bisa dilakukan lewat cerita bergambar. Dari situlah tinggal bagaimana kita membawakan cerita tersebut.
Jangkauan dari teori Naratif sendiri mencangkup macam – macam cabang ilmu pengetahuan dan akhirnya terangkum dalam Teori Komunikasi. Hal ini juga meliputi bagaimana pemahaman kita dalam menciptakan sebuah cerita dari pola – pola cerita yang belum tergabung. Penggunaan naratif ini sendiri bertujuan untuk memahami tingkah laku manusia. Pendekatan yang dilakukan yaitu melalui tiga kepentingan. Walter Fisher menyebut yang pertama adalah Narative Logic yang menggabungkan kesamaan naratif dan logika visual. Northrup Frye mencoba fokus pada bagaimana cerita berbicara melalui konten / isi, bagaimana mengatakannya yaitu dilihat dari bentuknya, serta memasukkan teori pemahaman perbedaan antara aturan pembuatan makna antara maksud dari cerita bergambar dengan gambar itu sendiri. Dengan menggunakan kritikan sebagai alat untuk meletakkan dan menjelaskan gambar visual sintaksis dan struktur komposisionalnya dalam hubungan yang renggang.
Seymour Chatman’s mengatakan bahwa yang harus dilihat dalam teori naratif dalam pidato/ sebuah wacana adalah hubungan antara narrator dan naratee(reader) dan bagaimana bentuk pengekspresiannya. Dan hal ini dikembangkan ke lingkup yang lebih luas, yaitu dalam program TV, film, fotografi,dan website serta bagaimana bentuk kebudayaan ikut menyumbang dalam pembentukan makna itu sendiri.

MAKIN SENSE OF OUR WORLD : A NARRATIVE LOGIC
Walter Fisher mengatakan mendongeng adalah kebiasaan yang mendunia saat ini, karena tiap orang selalu menceritakan apa yang mereka lihat dan ingin katakan. Kadang cerita tersebut adalah fiksi dan dari situ kita bisa melihat kreatifitas daya imajinasi seseorang. Selain itu cerita tidak hanya berasal dari kata – kata, tapi juga visual, dari music hingga gesture seseorang, meskipun kata – kata tidak terucap.
Beberapa peneliti atau ahli, Victor Turner –antropologist mengatakan kita mengakui naratif adalah budaya yang sudah mendunia dan menjadi pusat drama sosial. Gregory Batteson juga berkata berpikir tentang naratif adalah mengatakan semua yang ada di pikiran. Alasdair MacIntyre juga mengklaim bahwa kita bisa memahami hidup kita dari naratif.Hayden White juga mengatakan ketidakhadiran dan penolakan terhadap naratif sama saja menolak pemahaman makna diri kita.
Perbedaan media penyampai cerita juga menjadi penyebab adanya perbedaan proses pemahaman konten cerita. Misalnya di sekolah – sekolah lebih banyak menggunakan teks daripada gambar (visual). Bentuk percakapan lebih banyak digunakan daripada media yang lain seperti televisi, film dan seperti yang baru – baru ini muncul, hypermedia.
Muncul perbedaan dalam penyampaian cerita melalui percakapan langsung dan tekstual. Yaitu adanya awal, pertengahan dan akhir cerita. Dalam percakapan seringkali kita bercerita langsung pada pertengahan, dan ini berbeda dengan cerita dalam sebuah teks atau buku yang mencakup awal, pertengahan, dan akhir cerita. Cronon mengungkapkan bahwa naratif dapat menyatukan yang terjadi di masa lalu dan yang alami terjadi menjadi jelas. Ada sebuah ungkapan “ Good story make a good sense of the world”. Mendongeng atau bercerita mampu memunculkan argument tentang kealamian realita. Adanya hipotesa yang muncul dari pendengar yang menjadikan hal tersebut adalah kekuatan pembentukan makna.
Walter Fisher mengungkapkan narrative logic merupakan langkah untuk membentuk pola pikir dimana pembuatan rasa dapat terjadi di dalamnya. Di sisi lain naratif juga peduli dengan hubungan internal, apakah cerita tersebut saling berkesinambungan atau malah muncul sebuah kontradiksi.

MAKING SENSE OF OUR WORLD VISUALLY : NARRATIVE AND PICTORIAL “LOGIC”
Fisher berpendapat bahwa “narrative adalah sebagai paradigma untuk studi komunikasi secara umum” yang tidak didorong oleh ketertarikan pada komunikasi visual. Fisher menggambarkan cara pemikiran narrative yaitu “secara serempak / simultan dengan ketertarikan akan pada indera / perasaan yang beragam, pada suatu alasan dan emosi, pada kecerdasan dan imaginasi, serta pada fakta dan nilai. Mitchel Stephens (1998) menggambarkan dengan kemiripan “sebuah cara melihat yang kompleks yang dimanfaatkan dalam gaya editing dari MTV disamping sebagai pekerjaan cubists, surrealist, abstract, impressionist, dan pop art. Dia menggambarkan sebuah pengalaman, merupakan tabrakan logika yang dipotong-potong menjadi bagian kecil oleh dunia ke dalam sebuah fragmen, lapisan-lapisan kata-kata dan grafis-grafis, dan menyusun fragmen tersebut dalam pola-pola baru yang penting dan bermakna. Herbert Zettl (1999) menggunakan istilah “complexity editing” untuk menggambarkan cara visual discourse ini.
Ann Marrie Barry (1997) mengemukakan pendapat mengenai pengertian dari intelegensi visual (visual intelligence) sebagai sebuah cara logika yang menyeluruh. Satfford melengkapi dengan menkonseptualisasikan “sebuah intelegensi dari penglihatan / pandangan”, atau “presentasi mosaic, “dengan karakterisasinya sebagai logika untuk mengkonfigurasikan dan mengangkut gagasan-gagasan”. (1996, p. 4) Turkel dan Papert (1993) menggambarkan sebuah pola dengan potongan-potongan (bits and pieces) dan kepingan-kepingan, sebuah cara dalam berpikir melalui "feeling one's way from one... to another," building up, sculpting a whole. Mereka menggunakan istilah “bricolage” untuk menggambarkan logika dari gaya kognitif ini yang ditandai dengan negosiasi dan penyusunan kembali. Pengertian dari bekerja dengan bits and pieces juga sejajar dengan “fashion a hypotheses” Sandra Moriarty mendiskusikannya kedalam “abductive reasoning” sebagai penjelasan dari proses informasi visual. Dengan kemiripan pada gestalt, dia menggambarkan “formasi dari an abductive hypothesis merupakan sebuah tindakan dalam wawasan, dimana gagasan datang seperti kilat” (1996, p. 181).
Itulah kemiripan lain antara Narrative Logic dan a Visual Logic secara teoritis membangun pengertian dari Pictorial Narrative.


MAKING NARRATIVE SENSE OF THE WORLD : NARRATIVE STRUCTURE

Pendekatan awal mengenai bentuk Narrative dijelaskan oleh Aristotle, yang berfokus pada plot sebagai prisip pertama sebuah cerita. Dia mengkarateristikkan sebagai sebuah keseluruhan susuna dari hubungan sebab-akibat yang terdiri dari permulaan / awal, bagian tengah, dan bagian akhir. Kita sering mengatakan keseluruhan ini sebagai lengkungan dramatic atau struktur kausal dibuat untuk situasi awal yang meliputi momen pengenalan atau penjelasan, diikuti oleh sekuen kasi yang meningkat, menuju poin puncak titik komplikasi. Puncaknya ditandai dengan “point of no return” pada sekuen yang kausal, membentuk dan mengawali sebuah akhir.
Pada alur yang mirip, pendekatan dramaturgical menghargai “sequence of meaning / pemaknaan dari sebuah sekuen” ini sebagai sebuah tahapan proses, Kerneth Burke (1970) mengkarakteristikkan atas pencemaran/pollution, rasa bersalah/ guilt, pemurnian/purification, dan penebusan/ redemption. Cerita diawali dengan aksi perusakan sebuah aturan atau nilai dari sistem atau pencemaran / pollution. Proses dramatic dilanjutkan dengan aksi dengan membuktikan rasa bersalah / gulit dengan menyerahkan pada seseorang atau sesuatu hal yang dinilai bertanggung jawab atas perusakan nilai dan aturan tersebut. Tahap pemurnian / purification yaitu dengan mencari pertanggungjawaban untuk mebebaskan masalah dan penyebabnya, dan di akhir tahap penebusan/ redemption sebuah resolusi terjadi dan sistem tersebut kembali lagi seperti sedia kala. Karena bentuk narrative berpusat pada “point of no return” pengembalian sistem dalam hal ini akan menjadi norma atau nilai yang berbeda sebelum sistem nilai ini dirusak.
Tentu saja sebuah cerita memerlukan lebih dari sekuen dari kejadian-kejadian atau plot. Walaupun kita mengantisipasi sebuah struktur mendorong dan mencapai puncak dari peristiwa-peristiwa, untuk aksi-aksi ini terjadi harus terdapat beberapa agen yang sama baikknya dengan pola singkat dari ritme narrative (Miller 1990). Dalam puisi dia menyebutkan setiap cerita harus mempunyai enam bagian Plot, Character, Diction, Thought, Spectacle and Song. Walaupun elemen-elemen dari plot, character, dan gagasan merupakan sebuah “objects / obyek-oyek” dari sebuah cerita, elemen diction and song menjadi bahasa ke dalam "rhythm, harmony, and song enter," merupakan bagian “medium / tengah” dari tipologi Aristotle (Fergusson, 1961, pp. 61-62).
Pengertian dari plot ini sebagai bentuk komposisional yang dapat dilepaskan dari isi / content dan terkstur dari sebuah cerita menuntun para teoritis untuk menyelidiki tentang “deep structure / kedalaman struktur” dari bentu narrative. Frye membuat perbedaan antara dekriptif dan struktur lirelal yang membantu untuk membuat teori dalam istilah dari pictorial sintax, dan Chatman menyediakan pendekatan untuk struktur discourse yang membantu membuat teori pictorial narrative sintax. Strukturalis membuat membuat perbedaan secara teoritis antara sebuah cerita / story (historie) dan discourse (discors) dari sebuah narrative dengan argument narrative discourse atau form atau bentuk itu sendiri merupakan sebuah struktur semiotic yang secara mandiri dan bermakna / penting. Walaupun sebuah cerita / story menurut Chatman merupakan konten dari rantai sebuah peristiwa-peristiwa (actions and happening) ditambah existents / keberadaan yang terdiri dari ( characters, items of setting) dari sebuah narrative. Discourse adalah sebuah expression / ekspresi ang merupakan isis / content dari apa yang dikomunikasikan.
Perbedaan antara dari apa yang merupakan cerita / story (content) dan apa yang merupakan discourse (expression) dari sebuah narrative menyediakan pembuka secara teoritis untuk memahami perbedaan antara the meaning-making roles of an image's pictorial content dan its pictorial form or syntax.

VISUAL NARRATIVE: DESCRIPTIVE AND LITERAL STRUCTURE

Literal struktur dari sebuah cerita / story, di sisi lain, bukan sesuatu yang dapat kita gambarkan atau lihat karena hal tersebut adalah syntax. Tentu saja narrative tidak ada kecuali merupakan sebuah struktur yang diintegrasikan dari dua hal yaitu cerita yang kita lihat atau cerita yang kita baca. Kita menemukan ketertarikan kita bergerak dalam dua arah dalam satu kesatuan (Frye, 1957, p. 73). Struktur deskriptif mengarahkan perhatian kita berangkat dari kita tetap dalam keadaan sedang membaca, dari kata-kata individual menuju pada sebuah pemaknaan apa yang mereka maksudkan, dan dalam waktu yang sama struktur literal mengarahkan perhatian kita sebagai kita mencoba untuk membangun perasaan / sisi masuk akal dari kata-kata berdasarkan pola verbal yang lebih besar yang mereka buat” (Frye, 1957, p. 73).
Ketika kita memberlakukan cara ini dalam pemikiran narrative secara visual, kita dapat melihat bagaimana bias bahasa memmpengaruhi konsepsi kita terhadap sebuah gambar dan bagaimana kita berpikir tentang visual storytelling.
Pada contoh studi film dan televisi, pelajar sering berfokus pada konten secara visual atau struktur deskriptif dari sebuah gambar, dengan sedikit pertimbangan pada pengertian dari pictorial sintax. Faktanya, karena bentuk narrative menghubungkan bentuk gambar dan kata-kata, pertimbangan dari struktur syntactical hampir secara otomatis jatuh pada naskah verbal. Fyre mengingatkan kita, meniru peristiwa-peristiwa di dunia nyata yang sesungguhnya, tidak hanya dengan merekam saja. Walaupun dengan mempertunjukkan konten dari gambar sebuah film dapat mengarahkan perhatian kita, secara bentuk komposisional dari konten ini mengarahkan perhatian kita ke dalam hubungan pembuatan rasa / sifat masuk akal yang dikonfigurasikan melalui angle, perspektif, field of view, dan the like / kesukaan.

VISUAL NARRATIVE: DISCURSIVE STRUCTURE

Chatman (1978) menyukai perspektif komunikasi dalam membuat teori meaning-making properties dari sebuah narrative. Dia memulai dari pengertian mengenai storytelling, walaupun sifat dari hubungan perspektif komunikasi yang kompleks, meskipun ketika menceritakan dan mendengarkan ditempatkan secara tatap muka. Dengan hubungan antara teller-listener dalam sebuah pemikiran, Chatman mengajukan kerangka diskursif “personages” sebagai cara untuk mengatakan tentang sifat abstrak dari narrative syntax.

Narrating “Eye” : Menunjukkan –er (narator) untuk menggambarkan –ee (naratee)

Dalam gambar, kehadiran narasi ini ditemukan dalam cara gambar dan urutan gambar yang disusun oleh khayalan -er untuk menunjukkan khayalan -ee. Dengan kata lain, sebuah "mata" meninggalkan jejak dalam sebuahi gambar tentang ruang dan waktu (menunjukkan-er) dan dalam pemaknaan gambar ini (menunjukkan-ee). Hubungan ini merupakan inti wacana karena jejak inilah yang membentuk dasar tanda-makna hubungan representasi visual.
Sebuah narasi adalah tertulis, maka dengan demikian berarti membuat unsur-unsur organisasi spasial sebagai bidang pandang (skala), tingkat pandang (angle), kedalaman pandang (perspektif), dan kontras pandang (cahaya dan bayangan) serta elemen temporal gerak (gerakan dalam bingkai satu dengan yang lain). Sebagai contoh kita lihat Gambar. 21,4, misalnya, mari kita mempertimbangkan bagaimana kehadiran –er yang tersirat dalam layar 7 dan 13. Karena benda-benda di layar ini berada dalam jarak sentuh, komposisi ruang menunjukkan hubungan spasial dari "kedekatan." Selanjutnya, karena jarak sentuh memberikan pengalaman perseptual sebagai pribadi hubungan spasial di gambar tersebut berpotensi dimaksudkan menjadi "dilihat" sebagai "kedalaman" atau keintiman. Selain itu, meskipun, hubungan spasial sudut juga bermain dalam sintaks. Selain itu hubungan spasial berhubungan dekat denagn "normalness" (mata melihat tingkat-normal). Dengan kata lain, seorang menceritakan mata menunjukkan kedekatan dan normalness dengan implikasi bahwa itu dilihat sebagai alami.
Pada dasarnya, narrating eye diartikan sebagai cara ruang dan waktu yang terorganisir. Selain itu, meskipun narrating eye harus melakukan pekerjaan pengorganisasian dari beberapa posisi ruang dan waktu. Narrating eye melaporkan apa yang ditunjukkan, dilihat sebagai obyektif.

Sudut Pandang Gambar : Menunjukkan Imager dan viewer

Dalam bercerita, sebuah cerita juga harus diberitahu dari sudut pandang tertentu. Meskipun
hubungan spasial yang diselenggarakan oleh penangkapan mata sebagai dunia cerita yang bergambar, yang hubungan spasialnya diatur oleh sebuah titik pandang bergambar yang menciptakan posisi untuk melihatnya. Hubungan spasial ini mungkin terdiri dari posisi "mengamati", misalnya, dengan implikasi bahwa pemandangan telah terlihat sebagai dunia gambar. Atau mereka mungkin terdiri dari posisi "melibatkan" atau "partisipatif”, menyiratkan bahwa melihat dilihat sebagai "melihat ke dalam" atau "berada dalam" suatu foto dunia (Zettl, 1999, hal 186-188). Hubungan-hubungan spasial menuliskan posisi tekstual tersirat sebuah imager dan viewer dalam suatu syntaks yang diskursif dari sebuah narasi bergambar.
Ada tiga variasi dari sebuah imager dan interaksi viewer diilustrasikan dalam gambar pertama dari delapan layar dari Gambar. 21.4. Tiga layar pertama terdiri dari titik pandang "mengamati”. Pada layar 4, hubungan spasial dibuat dengan objek mulai muncul, melibatkan sudut pandang. Akhirnya, pada layar 5-8 hubungan spasial hampir sempurna, tingkat partisipasi pandang seolah-olah bertambah. Dalam delapan layar tersebut, terjadi pergeseran sudut pandang dari posisi melihat untuk mencari dan kemudian viewer sudah mulai mengikuti dan masuk kedalam cerita yang ingin disampaikan.
Diskusi narrating eye dan titik pandang bergambar menunjukkan kegunaan dari teori cerita untuk menceritakan sebuah narasi bergambar. Lompatan dari penunjuk-er untuk menunjukkan-ee membuat cerita bergambar dan menggambarkan imager untuk menunjukkan viewer dalam posisi subjek untuk melihatnya. Mereka adalah struktur komposisi yang memberikan bentuk ke objek dari suatu gambar, dan bahwa ketika dianalisis, mengungkapkan bagaimana pengaturan mereka membuat makna menurut logika awal, tengah, dan akhir. The gagasan sintaks bergambar ini berguna untuk memahami peran konvensi bergambar dalam menciptakan pengalaman khusus yang terkait dengan berbagai genre cerita.


NARASI BERGAMBAR : GENRE CERITA

Mengapa kita perlu dan menikmati cerita dalam gagasan "rasionalitas naratif"? Jika hal ini menjelaskan mengapa kita perlu cerita, bagaimanapun, tidak menjelaskan mengapa kita sepertinya membutuhkan cerita yang sama berulang-ulang. Dalam menonton televisi, kita juga akan menonton dan menikmati cerita yang sama yang dikatakan berulang-ulang baik itu dalam komedi situasi atau program berita. Misalnya berita mengenai kejahatan. Kita tidak akan bosan mendengarkan cerita itu, entah itu dilihat dari perspektif polisi, perspektif pengacara, dari perspektif para penjahatnya sendiri. Meskipun cerita ini selalu tidak sama, seperti buku anak-anak yang dibaca berulang-ulang, mereka memiliki bentuk cerita yang serupa yang dikenali baik. Mereka adalah struktur generik tertentu yang dipisahkan dari "bahan" narasi dari cerita. Masing-masing bentuk mengikuti struktur transformasional yang berbeda. Misalnya, struktur transformasional komedi menegaskan titik pandang idealis tentang alam semesta sedangkan struktur transformasional menegaskan tragedi dari sudut pandang realistis. Struktur cerita yang berulang-ulang adalah salah satu cara yang menarik dan menegaskan kembali nilai-nilai melalui bentuk transformasional nya. Situasi komedi memberi kita kesempatan kita untuk "tahu" dunia sebagai tempat yang idealis, narasi melodramatis membuat kita lebih optimis. Kita biasanya mengacu pada bentuk rasa pembuatan structural sebagai genre bercerita.
Dalam analisis teks-teks visual narasi opera sabun, misalnya, Barbatsis dan Guy (1991) mengidentifikasi sejumlah konvensi komposisi narasi visual, dan dalam menganalisis sifat estetika. Mereka menemukan bahwa mereka menciptakan suatu rasa pengalaman dari penerimaan dan realitas yang terkait dengan opera sabun. Studi seperti ini yang menyelidiki struktur naratif sebagai pembawa fundamental budaya berarti menjawab pertanyaan mengapa kita membutuhkan kisah-kisah yang sama berulang-ulang dengan menunjukkan bagaimana pengambilan arti struktur narasi adalah "cara yang sangat kuat untuk menegaskan dasar ideologi budaya "(Miller, 1990, hal 71).

MENGGUNAKAN TEORI NARATIF /CERITA UNTUK MEMAHAMI KEKUATAN FOTO-FOTO BERITA
Kita mempelajari sesuatu dari cerita yang kita ceritakan karena dari awal kita belajar menggunakan kata yang akan membentuk pola pikir dan nilai yang kita pahami untuk bagaimana hidup dalam masyarakat. Misalkan cerita simbolik yang di percaya masyarakat akan menciptakan pemikiran dan tindakan yang seragam. Cara yang lain untuk mempercayai sesuatu selain dengan mendengar cerita adalah dengan melihat. Karena dengan melihat kita akan yakin bahwa itu benar-benar ada. Sebuah potret berita tentang suatu mitos akan menimbulkan keraguan atau keyakinan atas benar tidaknya suatu mitos dalam masyarakat. Tidak seperti cerita foto tidak memiliki tengah awal dan akhir sehingga menimbulkan alur cerita sendiri dalam benak orang yang melihatnya dan dia tidak dapat menghentikan pemahamannya tentang suatu potret tersebut. Menurut konsep Walter Fisher paradigma cerita, bagaimana berita dalam foto bisa menantang, memperkokoh, atau menegaskan kembali mitos kebudayaan.

PARADIGMA CERITA dan SIFAT FOTO BERITA.
Menurut Fisher manusia adalah pada hakekatnya pencerita, manusia kembali mengetahui hal lewat cerita dengan mendengar dan mengatakan. Paradigma cerita bersikeras bahwa komunikasi manusiawi sebaiknya dilihat sejarah serta situasional, sebagai cerita yang bersaing dengan cerita lain yang dikarenakan oleh sebab akibat? Dengan menilai kemungkinan cerita dan keabsahan cerita, kami bisa membuat pendapat tentang cerita dan apakah kita sebaiknya percaya bahwa cerita benar dan rasional. Dengan potret berita, selalu ada keterangan gambar yang membingkai potret dan tempat itu ke dalam konteks yang lebih besar. Konteks ini yang lebih besar itu menimbulkan cerita potret. Berger (1992) Karenanya, potret menjadi sebagian disampaikan sebagai cerita dan bisa dinilai serta sisa cerita untuk rasionalitasnya dan rasionalitas cerita yang lebih besar. Seseorang akan mulai akan berhenti percaya kepada cerita jika mereka mempunyai cukup bukti untuk membuktikan hal lain, mereka mungkin mulai untuk percaya kepada cerita yang berbeda, untuk menulis kembali cerita yang asli. Potret berita dan keterangan gambar yang menyertai sering menyediakan bukti untuk itu. Keraguan atau keyakinan atas suatu cerita menjelaskan kekuasaan potret berita untuk menantang, memperkokoh, atau mengkonfirmasi lagi cerita tersebut. Dalam cerita kata sangat penting karena menyampaikan maksud yang ingin di sampaikan oleh penulis, sedangkan potret dapat di asumsikan bahwa potret menyediakan kebenaran saat keterangan gambar membingkai suatu momen dan menambah atau mengurangi nya terlebih dahulu menjadi satu garis. Berger menonjolkan, "keterangan gambar menyediakan landasan dengan bahasa mana yang digunakan , dalam kaitannya dengan membuat cerita logis, yang memungkinkan untuk memasuki kembali ruang potret" (1992, p. 14). Suatu potret dapat membentuk keraguaan atas mitos kebudayaan yang sudah diyakini selama ini. Contoh yang lain waktu masyarakat di memulai untuk menantang mitos kebudayaan tetapi tidak bisa yakin entah mitos kebudayaan asli atau mempercayai cerita baru yang sebaiknya dipercaya, potret mungkin menyediakan bukti untuk memperkokoh kepercayaan baru tersebut .

FOTO BERITA
Pemboman Kota Oklahoma
Pada pagi hari 19 April 1995, Timothy Mc Veigh & konspirasinya menyalakan bom pupuk di luar bangunan Pemerintah Pusat Alfred P.Murrah di kota Oklahoma. Ledakan tesebut membunuh 168 orang termasuk beberapa anak-anak yang ada di tempat penitipan anak di bangunan tersebut. Seorang pegawai bank & dan tukang poto amatir Charles H.Porter IV mendengar ledakan tersebut dari kantornya yang terletak beberapa blok dan mengambil kamera untuk segera mengambil gambar dari kejadian ledakan tersebut. Kemudian ia melihat petugas pemadam kebakaran membawa bayi dari bangunan tersebut. Ia kemudian diam-diam mengambil gambar lalu mencetak gambar tersebut di pusat cuci cetak cepat. Kemudian bayi tersebut diidentifikasi berusia 1 tahun anak dari Baylee Almon yang ditemukan tewas pada kejadian tersebut. Porter menjualkaryanya ke Asosiasi Press yang mengsirkulasikan foto yang menjadi cover majalah dan koran untuk mewakili pemboman kota Oklahoma. Pada 1996, Porter mendapakna penghargaan Pulitzer untuk Spot News Reporting. 

Kemungkinan naratif
Foto dari anggota pemadam api menggenggam satu anak berdarah mempunyai kemungkinan naratif tinggi karena ini adalah satu usaha anggota pemadam kebakaran untuk menawarkan bantuan pada korban. Walau foto adalah tragis, ini sungguh sesuatu yang dapat dipercaya tanpa kata-kata apapun. Tidak diperlukan informasi tambahan untuk membuat foto itu narrative dengan sendirinya.

Kesetiaan naratif
Kesetiaan naratif dapat dinilai oleh masing-masing believabilitynya retorik melawan apa dipikirkan diketahui dari dunia nyata. Di studi kasus ini, kita dapat menilai satu kabar potret melawan yang dipikirkan benar di setiap hari hidup. Pada Amerika Serikat, di kedengkian dari bukti ke arah berlawanan, Perasaan amerika yang mereka adalah selamat pada pelaksanaan dari mereka rutin normal. Bahwasanya, kita merasakan selamat pada tanah tumpah darah kita; kita meyakini serangan teroris itu hanyalah terjadi di tempat lain. Utama ke Kota Oklahoma Membom, Amerika Serikat telah secara relatif kebal dari terror warga keduanya warga lain dan pemerintah, di paling sedikit pada agung seperti itu skalakan. Walau Amerika Serikat telah korban ke serangan teroris, terutama di cahaya dari Perang Saudara dan Warga Negara Pergerakan Hak-hak, gempuran itu dianggap targeted ke arah tujuan group spesifik pada hidup harian ganggu untuk satu tujuan tertentu. Serang melawan perserikatan dan pada populasi minoritas disebut produk dari rumah menernakkan ketidak puasan dengan kebijakan bidang pemerintah spesifik. Dengan Kota Oklahoma pemboman, bagaimanapun, warga dihadapi dengan ide pengikut itu warga akan ambil aksi drastis untuk mengumumkan ke publik ketidak puasan mereka dengan itu bidang pemerintah kebijakan. Bahwasanya, laporan berita pada berikut hari dan minggu pemboman terkabar kesangsian tersebar luas itu satu peristiwa demikian dapat terjadi dan itu pelaku adalah satu U.S. warga. Pada kenyataan, laporan awal setelah pemboman gambar kesimpulan bahwa ini adalah satu akta dari terorisme internasional. Masih, Orang amerika disusul pada kepercayaan terorisme itu hanyalah terjadi di tempat lain dan Amerika itu warga tidak akan pernah melakukan jahat demikian. Matahari Toronto dipertimbangkan bahwa ' Orang Amerika tidak dapat menerima bahwa ini adalah sangat kemungkinan seperti itu akta dengan takut-takut dan mengerikan melawan orang-orang tidak berdosa dapat telah dilakukan oleh satu atau lebih mereka sendiri" (Raynier, 1995, p. 12).

Analisa
Di hampir waktu yang sama Kuli Pengangkut Barang itu gigit tembakannya, satu karyawan gas perusahaan memasang untuk Nasional Gas Oklahoma, Lester LaRue, didengar eksplosi dan rebut kameranya, menangkap satu hampir foto serupa ke Kuli Pengangkut Barang. LaRue terjual fotonya ke Newsweek dan ini, juga, tampak pada koran tak terbilang dan majalah. LaRue dilibatkan pada satu meja hijau panjang memperangi dengan Gas Alam Oklahoma seperti ke hak-hak ke foto. foto hampir serupa. Perbedaan primer di antara foto adalah dua: pertama, sudut adalah sedikit berbeda dengan fotonya LaRue ke hak dari Kuli Pengangkut Barang (ini adalah discernable oleh teduhan image penempatan dan latar belakang), dan kedua, Fotonya kuli pengangkut barang mempunyai seseorang pada benar bawah sudut bingkai, meskipun demikian orang sering menjadi di luar pagar yang terpotong dari foto. Bersikap dari figur pusat pada gambar, anggota pemadam api dengan anak pada lengan tangannya, adalah serupa. Pada mulanya mengerling, foto tampak yang dapat bertukar tempat. Karenanya, umum tendensi akan hanya merasa di situ satu foto bentuk tunggal. Ini adalah penting untuk mencatat karena daya tarikku sini berada di dalam bagaimana kabar memotret dongeng budaya tantangan. Fakta yang di situ adalah dua foto yang mempunyai berdua secara luas telah dilihat siratkan bahwa ini adalah berarti di belakang image agak dibandingkan image sendiri yang menciptakan kekuatan dari foto. Karenanya, ketika pejabat menunjuk ke "foto" publik pahami bahwa ini adalah fotonya anggota pemadam api tetapi bukan apakah ini adalah Kuli Pengangkut Barang atau LaRue versi. Alhasil, komentar pada "foto" jangan menetapkan apakah ini adalah Kuli Pengangkut Barang atau fotonya LaRue. Image lebar sendiri adalah apa menangkap perhatiannya orang-orang. Dengan dua foto pada hakekatnya yang sama dan berdua secara luas beredar, ini adalah berarti di belakang foto yang jadi penting, tidak yang memotret orang-orang memaksudkan. Tommy Almon, Datuknya Baylee Almon, dikatakan, "Ini adalah foto yang dirasakan di sekitar dunia" (Strupp, 1995). Longstreath daud (1995), Associated Press menyatakan editor foto, katakan foto adalah segalanya yang bersifat menandakan dari bombing—one dari itu jarang dipanah yang beri cerita seluruh dengan cara perkataan itu tidak dapat. Gubernur Terus Terang Oklahoma Keating menjelaskan bahwa foto adalah "satu kiasan untuk yang adalah terjadi sini" (Orang-orang, 1995, p. 35). Semua diasumsikan komentar ini sesuatu potret. Kita dapat mempertimbangkan sekarang apa berarti di belakang berdua foto menyiratkan di cahaya dari teori naratif. Ketika Kota Oklahoma membom terjadi, Amerika harus atur kembali dan evaluasi ulang naratif bahwa mereka meyakini sekitar domestik kedamaian dan keselamatan. Bersatu Status telah pokok terhadap keduanya domestik dan serangan teroris asing hampir dari ini awal. Bagaimanapun, Kota pemboman Oklahoma adalah yang pertama besar-besaran pemboman yang ambil tempat pada Amerika Serikat tanpa apapun dengan seketika materi ungkap seperti ke kenapa gempuran ambil tempat atau siapa lakukan ini. "Pembunuh curi satu keberuntungan yang day—lives, cinta, asa dan kesangsian kita itu satu hal seperti itu selalu dapat terjadi sini" (Mathis, 1997, p. 6 ). Evaluasi ulang ini jadi hasil terutama semata ke fakta yang naratif tidak lagi punyai naratif konsistensi kesetiaan atau eksternal. Apa Orang Amerika pikir benar dengan kasar dihancurkan. Bukti dari mungkin baru naratif adalah jelas pada foto dari anggota pemadam api menggenggam tubuh tak bernyawa dari Baylee Almon. Yang foto telah jadi satu lambang dari apa Orang Amerika adalah mampu untuk melakukan untuk satu sama lain. Tanpa bukti visuil, didukung oleh contextualization lisan, naratif asli dapat telah disimpan ulang dengan satu dugaan dismissive dari "ini bukan buruk itu," "ini baru satu pemerintah bangunan." Bagaimanapun, image dari anggota pemadam api dan anak membuat kengerian dari tragedi mustahil untuk sangkal. Naratif asli kemudian adalah sebelah kiri di keraguan; kalau ini dapat terjadi di Kota Oklahoma maka ini dapat terjadi dimanapun pada Amerika Serikat. Tagihan hutang sini bukan itu pergeseran di hakikat naratif adalah karena akibat foto. Rada, foto menyediakan bukti yang tidak dapat dipertentangkan itu naratif publik harus dipersoalkan. Kalau foto anggota pemadam api dari Kota Oklahoma menggambarkan bagaimana satu image dapat membuat kita persoalkan kepercayaan kita sekitar bangsa kita, satu analisa dengan foto lain mungkin sediakan bukti yang pertanyaan demikian dibenarkan.

Pembantaian My Lai
Pada 16 Maret, 1968, orang-orang dari Perusahaan Charlie, pada kepemimpinan dari Ernest Kapten Medina, dengan Letnan Satu William L. Calley Jr. , diharapkan untuk menjumpai oposisi hebat dari Vietcong selama perang Vietnam. Bagaimanapun, di sini hari mereka tidak menjumpai serdadu musuh. Sebagai ganti, mereka menghadapi perempuan, anak-anak, dan lebih tua; U.S. serdadu membunuh banyak penduduk dari satu desa dekat. Peristiwa ini jadi dikenal sebagai Laiku Bantai. Ketika pertama terkabar, Koran amerika hanya militer terkabar kecelakaan, tidak ada orang awam. Pada hari dari pembunuhan dengan rencana, bagaimanapun, satu tukang photo angkatan perang, Ron Haberle, telah menemani beramai-ramai. Foto resmi yang dia telah mengambil berada di dalam hitam dan putih, pokok pembahasan dermawan. Dia juga mempunyai kameranya sendiri dengan film warna. Ini memotret dia mempertahankan dan foto bukti showed dari pembunuhan dengan rencana brutal dari warganegara, meliputi anak-anak. Cerita dari kecelakaan warganegara rondai, dan mereka padahal memimpin ke satu militer dimana investigasi, Letnan Calley didakwa pembunuhan berat, gempuran yang simpan melewati tapi sedikit kabar untuk perhatian. Ketika Haberle lihat laporan berita ringkas, putuskan dia untuk pergi umum dengan fotonya di Bulan November 1968 dan hubungi satu Dataran Cleveland Pedagang pengecer pemberita, Joe Eszterhas. Ketika Eszterhas mengatakan editornya yang dia yang punya eksklusif dunia foto, editor kabarnya mengatakan untuk melupakan sekop karena satu moonwalk adalah dijadwalkan keesokan hari. Setelah melihat foto, dia mengatakan untuk melupakan moonwalk karena ini baru satu moonwalk rutin (Hersch, 1970). Foto yang dicetak pertama pada Pedagang Pengecer Sederhana halaman berhadapan pada 20 November kemudian pada sampul dari nyaris tiap-tiap Koran amerika adalah sesusun tubuh di tengah-tengah satu jalan, meliputi bayi mati dan anak-anak kecil. Program baru televisi showed foto statis pada penyebaran mereka malam Pedagang Pengecer Sederhana diterbitkan foto. Dengan penghamburan tersebar luas dari foto, cerita dengan jelas pada baru dan memimpin ke investigasi dari foto dan peristiwa yang pimpin ke pembunuhan dengan rencana.

Kemungkinan naratif
Foto dari sesusun tubuh termasuk membayikan dan kecil anak-anak, di pertama, menyesatkan. Pada mulanya mengerling, tubuh tidak menonjol. Rada, di sana tampak satu tumpukan dari pakaian pada jalan. Bagaimanapun, satu pengujian semakin dekat mengungkapkan kesatuan berdarah meliputi secara parsial anak-anak berkain dan bayi. Pokok pembahasan goncangan menyiagakan penonton ke kemungkinan dari keabsahan ini dan meminta pertanyaan, "Bagaimana ini terjadi?" Dengan kemungkinan yang foto yang lukiskan satu keadaan yang sebenarnya, kesetiaan naratif dari foto ke pengamatan Amerika sekitar peperangan di Vietnam dipanggil ke dalam pertanyaan.

Fidelity naratif
Percaya amerika itu Amerika menggenggam nilai dari hidup keadilan dan manusia sebagai nilai tertinggi. Ketika Amerika memasuki ke dalam peperangan ini adalah untuk menegakkan nilai ini. Selama Peperangan Vietnam, banyak Orang Amerika merasakan bahwa penggunaan di belakang peperangan tidak hanya jangan menegakkan keadilan kecuali juga merugikan `lives` Amerika. Alhasil, Amerika menjadi sedang berperang tidak mencocokkan paradigma yang beberapa Orang Amerika meyakini peperangan dibenarkan. Sebagai hasil, beberapa tidak dapat mendukung peperangan. Ini betul-betul kepercayaan ada diubah hanya ketika kita punya bukti baik untuk membuktikan bahwa naratif tidak lagi cocok. `Lai`ku potret asalkan bukti. `Goldberg` menyatakan sekitar `Lai`ku memotret dan foto lain dari yang sama peristiwa, "Akibat dari gambar ini bergantung kepada Power mereka seperti bukti dari satu brutal peristiwa" (1991, p. 233). `Newsweek` dilaporkan, "Ini hanya setelah foto mengaku untuk memperlihatkan tertuduh pembunuhan dengan rencana mempunyai tampak di Cleveland Pedagang Pengecer Sederhana —dan punya telah direbut oleh Hidup editor magazine—that dan Reader mulai rasakan alasan diyakinkan bahwa episode yang telah terjadi di semua" (1969, p. 35). Walau perasaan Amerika ke arah peperangan telah sangkaan untuk sementara waktu, `Lai`ku Membantai foto berikan kepercayaan ke akta brutal itu beberapa serdadu Amerika sedang melakukan. Ini, pada gilirannya, dipaksa Amerika untuk mengevaluasi ulang alasan mulia dari keterlibatannya Amerika di Vietnam. Amerika dapat tidak lagi sangkal gosip dari kekejaman yang beberapa serdadu Amerika dilakukan.

Analisa
Walau emosi dan kepercayaan dari Orang Amerika mengepung Peperangan Vietnam adalah lebih rumit dibandingkan dapat dijelaskan secara lengkap sini atau dengan analisa dari foto tunggal, kemungkinan naratif dari foto yang meminta penonton untuk mempersoalkan naratif kemana Fidelitynya foto akan dibandingkan. Itu foto adalah dipaksa yang dapat dipercaya Amerika untuk mengevaluasi ulang naratif dari satu baru memperangi dan memberikan kepercayaan ke penentang pendapat bahwa Vietnam bukan diperangi dengan hormat. Foto ini kecuali satu potongan dari bukti pada serangan gencar dari keterangan sekitar alasan Amerika dan aksi di Vietnam. Tapi ini satu potongan bukti adalah satu kekuatan kuat di penekanan lagi satu berbeda tentang peperangan naratif. Foto dari `Lai`ku Membantai memperbolehkan warga untuk menyatakan keraguan sekitar alasannya bangsa di Vietnam, menyalakan spekulasi selanjutnya dan investigasi. Foto lain tolong untuk menegaskan lagi naratif asli ketika menghadapi dengan kejujuran kesana-sini keraguan dari satu lama digenggam naratif.

World Trade Center
11 September, 2001, adalah satu hari yang paling Orang Amerika tidak akan pernah lupa. Empat pesawat adalah dibajak oleh teroris. Yang pertama pesawat `crashed` ke dalam Menara Utara dari Trade dunia Pusat kemudian pesawat detik `crashed` ke dalam Menara Selatan. Sepertiga pesawat memukul Pentagon di Washington, `D.C`. Pesawat akhir `crashed` ke dalam satu bidang di `Pennsylvania`. Diantara satu jam dan setengah, menara berdua dari Berdagang Memusat Dunia pingsan, pembunuhan ribuan dari pekerja kantor dan personalia Rescue. Pada lima pada sore dari 11 September, satu tukang photo untuk Daerah Bergen Rekaman, Franklin Thomas, sedang menyelesaikan memanah foto dari hancurnya Asas Nol untuk hari. Dia berada di atas satu kaki pejalan kaki menjembatani ketika dia lihat tiga anggota pemadam api menaikkan satu bendera dari satu balapan kapal pada pelabuhan dekat. Anggota pemadam api sedang menaikkan satu 5 kaki oleh 3 bendera kaki ke atas sisa dari satu tiang bendera dengan puing dari Berdagang Memusat Dunia pada latar belakang. Franklin ambil foto yang ingatkan dia dari penaikan bendera di Aku `wo Jima` dari Perang Dunia Ii (`Hampson`, 2001). Diantara beberapa jam foto adalah dikirimkan di seluruh bumi oleh Associated Press dan adalah satu finalis untuk 2002 `Pulitzer` Menghargai untuk Mematahkan Fotografi Baru. Image dari 11 September adalah `indelibly` membakar ke dalam urus dari paling Orang Amerika, sedikit mereka positif. Foto penaikan bendera sungguh pasti tidak satu-satunya menggambar yang datang ke urus dari serangan teroris kecuali ini dengan jelas salah satu image yang paling kuat ke permukaan. Satu pengujian dari Power naratif dari foto ini mungkin menolong menjelaskan ini Power.

Kemungkinan naratif
Image utama pada penaikan bendera potret, `firemen` menaikkan satu bendera, terutama mengejutkan. Seperti dengan pemboman Oklahoma City potret, `firemen` ditangkap melakukan satu aksi kemana publik dibiasakan, menaikkan bendera. Itu hanyalah satu pengujian tutup pelahiran maksud itu puing `amidst` yang mana bendera ditinggikan yang menciptakan setelan tidak biasa untuk satu aktivitas standar. Bagaimanapun, itu anggota pemadam api akan mengacungkan satu bendera adalah sendiri yang dapat dipercaya. Hanyalah ketika foto diuji pada dongeng budaya yang dipersoalkan apakah foto menanggung proporsi berpengaruh nyata.

Fidelity naratif
Image dari pemukulan naik pesawat terbang menara adalah luar biasa. Lebih lagi luar biasa adalah fakta yang Amerika juga rentan untuk serangan teroris gedang seperti itu pada perbatasan kita sendiri. Paling bisnis dan aksi menghadang sebagai Amerika dan orang-orang di seluruh bumi menonton sebagai hakikat dari apa terjadi resapi. Aviasi Pemerintah Pusat Administrasi menutup bandar udara untuk beberapa hari. Paling peristiwa olahraga adalah `canceled` hingga minggu berikut. Itu Orang Amerika ditakutkan adalah yang tidak dapat dipungkiri; perusahaan penerbangan industri masih percobaan untuk memulihkan dari gempuran. Ide AMERIKA itu. warga adalah selamat di negara mereka sendiri telah dihancurkan. Penaikan bendera memotret menawarkan asa pada satu keadaan sia-sia, menekankan lagi bahwa bersatu Status akan terus hidup gempuran ini dan Triumph pada rupa dari kesusahan. Ini nyatakan tadi kepercayaan ada itu Amerika dapat menaklukkannya ganggu. Hari Ini as nyatakan bahwa foto adalah "satu penampakan Defiance dan keberanian di sebentar ketakutan dan mundur" (`Hampson`, 2001, p. 1A). `Mary Panzer`, satu ahli sejarah budaya, katakan bahwa gubahan dari foto mengijinkan penonton "untuk memperoleh satu rasa dari pemenuhannya `firemen`" (`Hampson`, 2001, p. 1A). `Frankin`, tukang photo, dicatat perlambangan pada foto dan "keberanian luar biasa dari orang ini pada rupa dari kebinasaan demikian" (`Torpey Kemph`, 2001, p. 36). Walikota dari York Kota Besar New pada saat gempuran, `Rudolf Giuliani`, diakui bahwa foto "dibuktikan teroris tidak mencapai gol terakhir mereka untuk mematahkan semangatnya bangsa" (Burung robin, 2001, p. `A06`). Dengan jelas, di saat ini, Amerika memerlukan penenteraman hati kembali itu negara akan terus hidup, dan dapat yang menempatkan dari keselamatan dan kemantapan. Penaikan bendera memotret asalkan penenteraman hati kembali.

Analisa
Bukti pada foto, atau kemungkinan naratif ini, mengijinkan penonton untuk tegaskan lagi kepercayaan mereka di apa mereka memikirkan benar dari dunia, Fidelity naratif dari foto. Di kejadian ini apa penonton memikirkan benar pada dunia nyata adalah diguncangkan. Foto yang ditegaskan lagi untuk penonton yang kepercayaan mereka dibenarkan. Persamaan tak diragukan ke bendera penaikan `Iwo Jima` foto dari Perang Dunia Ii disediakan di bagian penenteraman hati kembali ini. `Fussell` mengatakan dari `Pulitzer` Menghargai foto kemenangan oleh `Joe Rosenthal` bahwa ini adalah satu sukses "emblem dari umum akan berjaya" (1982, p. 232). Dan, `Goldberg` menyarankan foto "telah pikul sebagai satu ikon paham perjuangan Amerika" (1991, p. 147). Diberikan kemiripan dari anggota pemadam api New York foto ke `Iwo Jima` memotret dan kebutuhan yang sama untuk umum Amerika untuk merasakan tertanggung tentang Amerika `survivability` ini bukan kaget bahwa foto New York dapat memenuhi ini berfungsi. Fotonya Franklin akan hampir bisa dipastikan mencapai satu tempat serupa di riwayat sebagai `wo Jima` aku potret sebab satu perangko melahirkan imagenya foto telah dikeluarkan dan satu data status di dalamnya persamaan diajukan. 2 Sebagai tambahan, foto telah diulangan pada t kemeja dan kole, dan `editorialized` di film karton dan tempat peristiwa lain yang tak terbilang. Barangkali potensial untuk daya tahan dari foto ini mengonfirmasikan fungsi pokok materi itu dari isi foto untuk penonton ini: menegaskan lagi ide yang Amerika adalah kuat dan akan menangkan.

IMPLIKASI
Foto lagi adalah sering diambil sebagai satu rekaman dari satu peristiwa oleh berdua penonton mereka dan pencipta mereka. Mereka menyediakan bukti dari satu naratif dari peristiwa yang pimpin ke pokok materi dari foto. Bagaimanapun, untuk memahami kenapa image tertentu menjadi bagian dari satu umum kesadaran, kita perlu memahami gulungan itu kabar tertentu memotret permainan pada satu dongeng budaya yang lebih besar. Walau ini bukan penggunaanku untuk membenarkan kenapa foto tertentu tersisa ikon sementara orang lain berangsur hilang, ini adalah perkelahianku yang dapat kita tolong untuk jelaskan Power dengan foto tertentu ketika mereka tantang, nyatakan, atau konfirmasi ulang mendarah-daging dongeng budaya. Beberapa foto mengatakan satu cerita lengkap atas diri mereka sendiri, seperti itu Oklahoma City foto anggota pemadam api. Seragam pada anggota pemadam api menyiratkan beberapa jenis dari bencana dan anak tak bernyawa memereli kedalaman dari tragedi. Walau kita tidak mengetahui spesifik dari itu tragedi tertentu, kita mengetahui bahwa satu cerita tragis mempunyai terjadi. Adalah foto itu dari satu api rumah disebabkan oleh kawat salah, foto akan telah membuat halaman berhadapan kecuali akan telah memudar dari ingatan umum secara relatif segera. Bagaimanapun, ketika foto itu menjadi bagian dari cerita dari pemboman Oklahoma City, awal ini untuk mempunyai satu papan rak lebih panjang hidup. Bahwasanya, ketika ini mulai mewakili satu Challenge untuk sangat kepercayaan kemasyarakatan ada sekitar keselamatan kita dari teroris domestik, ini menjadi satu ikon mulai mengingatkan kita dari satu hakikat baru. Hanya ketika kita melihat foto ini seperti bagian dari dongeng budaya lakukan kita mulai memahami Power dari foto. Fakta kabar itu permainan foto ke dalam satu dongeng budaya yang lebih besar sendirian tidak meyakinkan kita dari Power mereka. Bukti yang tidak dapat dipertentangkan dari foto kabar dari kebenaran mereka sendiri, kemungkinan naratif mereka, paksa satu pemeriksaan bandingan dari dongeng budaya keadaan sekitar itu foto. Ketika kita menilai Fidelity naratif dari foto baru, kita ditinggalkan ke persoalkan cerita dibanding dengan foto dinilai. Di dalam melakukan, dongeng budaya mungkin jadilah tantang, dinyatakan, atau konfirmasi ulang.