BAB IV
GAMBARAN UMUM KAUM GAY
DI KOTA MALANG
Keberadaan kaum gay semakin lama semakin tampak di lingkungan mayarakat khususnya di Jawa Timur. Sebuah hal yang ironis sekali mengingat Jawa Timur merupakan provinsi yang terkenal dengan semangat jiwa anak mudanya. Banyaknya perguruan tinggi baik negeri maupun swasta yang ada di Jawa Timur menunjukkan beragamnya anak muda yang menempuh pendidikan di sana. Keberagaman tersebut ditinjau dari asal daerah mahasiswa yang berjumlah hampir lebih besar daripada mahasiswa yang berasal dari Jawa Timur sendiri atau lebih sering disebut sebagai pendatang, latar belakang keluarga, usia, motivasi belajar, bahkan orientasi seksual juga ikut serta dalam keberagaman tersebut.
Surabaya yang menjadi ibukota provinsi sekaligus dikenal sebagai kota metropolis selain Jakarta memiliki penilaian khusus dilihat dari sisi adanya ruang – ruang khusus bagi masyarakat yang memiliki sebuah kelompok – kelompok yang memiliki kedekatan, kesamaan orientasi seksual dan menyangkut ketertarikan antar personal. Peneliti merangkum penjelasan tersebut dalam kelompok gay.
4.1. Perkembangan Gay di Kota Malang
Sebuah informasi yang cukup mencengangkan bahwa salah satu LSM yang didirikan untuk kaum gay yaitu Gaya Nusantara memperkirakan sekitar 260.000 dari enam juta penduduk Jawa Timur adalah homo. Bahkan Surabaya merupakan daerah yang mempunyai populasi gay terbesar di Indonesia. Secara kalkulasi, pakar seksualitas Dr Boyke Dian Nugraha sempat mencatat bahwa frekuensi kaum gay yang murni adalah satu dari 10 pria.
Di kota Malang yang menjadi tempat peneliti melakukan observasi memiliki potensi sebagai tempat berlangsungnya interaksi kaum gay kedua terbesar di Jawa Timur. Alasan mengapa kota Malang dijadikan sebagai posisi kedua adalah dapat dilihat dari segi wilayah yang strategis dan dipilih oleh kebanyakan kaum muda untuk melanjutkan pendidikan formal dan bekerja. Lingkungan yang mendukung dengan berbagai fasilitas publik serta keramahan masyarakat kota Malang pada umumnya juga menjadi prioritas seseorang memilih kota Malang sebagai tempat berkompetisi untuk mencapai tingkat kenyamanan dalam berkarya.
Kaum muda yang tidak terbatas dari segi pendidikan atau yang sudah bekerja pun, khususnya bagi mereka yang tergolong sebagai kaum gay dapat menyalurkan “interaksi” mereka dengan mudah dan berkembang hingga ke daerah lainnya di Jawa Timur, seperti Ponorogo, Blitar, Mojokerto, Banyuwangi dan Gresik.
Kaum gay yang berada di kota Malang memiliki tempat berkumpul dengan sesamanya. Gay atau yang biasa dikenal sebagai MSM (Men who having Ses with Men) selalu melakukan aktivitas bersama seperti mejeng, cari pasangan, cari partner, atau sekedar bersenda gurau dengan teman – teman gay nya di beberapa titik lokasi yang merupakan lokasi yang cukup dikenal di Kota Malang.
4.2. Tempat berkumpul Gay di Kota Malang
- Alun-Alun Kota yang menjadi pusat Kota Malang di jalan Merdeka Tempat duduk Taman di seputaran Alun-alun Kota, terutama areal di bawah pohon beringin depan Masjid Jami' Malang. Tiap hari Jam 20.00-22.00 WIB. Komunitas Gay dan Kucing. Jika Hari Jumat sehabis sholat Jumatan, banyak Gay terutama yang Tubang nongkrong
-Warung Jeffry yang terletak di jalan Arief Margono, Kasin, Malang Warung yang dididirikan oleh pasangan MSM Jeffry-Maskur ini menjadi tempat mangkal alternatif bagi kenalan dan rekanan kedua pemiliknya. Awalnya berdiri, warung ini sangat ramai, karena semua ingin mencoba menu yang disajikan.
- MATOS. Terutama Terrace Cafe dan Dream’s Cafe serta Pujasera lt 3 di jalan Veteran Malang. Mall terbesar di Malang ini menjadi ajang perburuan MSM untuk mencari pasangan, karena selain kucing, MSM yang tertutup juga menjadikan mall ini untuk hunting dan tempat ketemuan setelah chatting. Tiap Senin, Selasa, Jumat jam 11.00 hingga jam 21.00 WIB
- Rumah Singgah Ko Sun yang terletak jalan Raya Bareng, Malang. Rumah milik Sundoko seorang warga keturunan Tionghoa ini, terletak di dalam kampung di Bareng. Rumah ini sudah lama manjadi tempat jujukan para MSM dari luar kota hingga MSM yang terlantar. Beberapa diantaranya berprofesi sebagai kucing di Alun-alun dan tukang pijat panggilan.
4.3. Kegiatan yang dilakukan kaum gay
Secara individu gay di kota Malang melakukan aktivitas yang rutin sesuai dengan pekerjaannya. Seperti ke kampus, bekerja di perusahaan swasta atau milik negara, ataupun aktivitas saat santai selayaknya rekan – rekannya yang tidak gay.
Kegiatan yang dilakukan para gay pada saat berada di kelompok gay akan sedikit berbeda dengan kegiatan rutin secara individual. Kelompok gay di Malang memiliki sebuah wadah yang legal dan dilindungi pemerintah yaitu IGAMA (Ikatan Gay Malang). Kebanyakan kegiatan yang dilakukan adalah kegiatan yang menyenangkan bagi gay dan teman – teman dalam kelompoknya, seperti karaoke, jalan – jalan di mall, bahkan juga diadakan kegiatan positif seperti yang dilakukan oleh teman – teman gay di IGAMA. Yaitu menghadiri sosialisasi tentang bahaya virus HIV yang menyebabkan AIDS.
Di balik alasan untuk menjaga kebersamaan dan solidaritas dalam kelompok gay, ada maksud tersembunyi yang muncul saat melakukan aktivitas tersebut yaitu mencari pasangan.
4.4. Data Informan
1. Rio ( Bukan Nama Sebenarnya)
Rio adalah informan pertama sekaligus menjadi infoman kunci. Dengan usia 27 tahun, Rio bekerja di salah perusahaan swasta di kota Malang. Rio mengaku sampai saat ini dia selalu menjadi tempat curhat para kaum gay, terutama yang cukup dekat dengannya. Pada saat wawancara awalnya tidak terbuka, setelah informan merasa nyaman sikapnya mulai berubah menjadi lebih terbuka dan semakin bersahabat. Informasi yang diberikan juga sangat banyak dan detail mengenai kehidupan kaum gay dan kelompoknya.
2. Tito (Bukan Nama Sebenarnya)
Usia Tito mendekati 28 tahun dan saat ini bekerja di salah satu perusahaan swasta di kota Malang. Tito merupakan informan kedua yang direkomendasikan tanpa sengaja oleh informan kunci. Kebetulan teman – teman gay dari informan kunci, termasuk Tito, tidak sengaja bertemu peneliti dan akhirnya berkumpul di tempat dimana kami melakukan wawancara. Sehingga kami memutuskan untuk mewawancarainya juga setelah beliau setuju.
Pada saat diwawancarai, Tito langsung membuka diri dengan memberikan informasi yang sesuai dengan tema wawancara yang disampaikan peneliti.
3. Putra ( Bukan Nama Sebenarnya)
Putra adalah seorang mahasiswa semester empat di salah satu perguruan tinggi di kota Malang. Tahun ini usianya mencapai 20 tahun. Dia mengaku menjadi seorang gay semenjak tahun 2008 lalu, saat keluar dari SMA.
Putra merupakan informan ketiga yang memiliki sikap terbuka pada saat diwawancara. Segala macam pertanyaan yang disampaikan oleh peneliti dijawab dengan lugas tanpa kesan ditutup – tutupi. Malahan Putra yang bercerita tentang kehidupan pribadinya kepada peneliti.
4. Andre ( Bukan Nama Sebenarnya)
Andre yang saat ini berusia 22 tahun merupakan informan keempat dan sedang menjalankan studi akhir di salah satu perguruan tinggi di kota Malang. Peneliti mendapatkan informasi keberadaan informan keempat ini dari informan kunci.
Dalam wawancara Andre berusaha untuk terbuka namun rasa takut untuk menggali lebih dalam muncul dari informan keempat ini. . Setelah agak lama cukup suasana yang terjalin menjadi akrab dalam wawancaara kami, sehingga Andre bisa menggali informasi yang dia peroleh untuk diceritakan sesuai pertanyaan yang disampaikan peneliti.
kak kami adalah siswi dari man1 malang bolehkan kami meminta kontak dari salah satu sumber di atas yang akan kamu gunakan sebagai sumper penelitian sosiologi kami
BalasHapus